Saturday, 08 August 2026


Harga Gabah Tertinggi dalam 8 Tahun, Inflasi Beras Tetap Terkendali

04 Aug 2026, 16:06 WIBEditor : Herman Pratikno

Harga Gabah Teritinggi dalam 8 Tahun

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Pemerintah kembali menunjukkan keberhasilan menjaga keseimbangan antara kepentingan petani dan konsumen. Di tengah harga gabah yang semakin menguntungkan petani, inflasi beras nasional tetap terkendali berkat penguatan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) serta berbagai program stabilisasi pangan yang dijalankan secara konsisten.

Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, indeks harga yang diterima petani pada Juli 2026 mencapai 151,10. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam delapan tahun terakhir, sekaligus mencerminkan membaiknya kesejahteraan petani padi melalui peningkatan harga gabah di tingkat produsen.

Tak hanya itu, Nilai Tukar Petani (NTP) secara nasional juga mencetak rekor baru. Pada Juli 2026, NTP mencapai 127,84, menjadi level tertinggi sejak BPS menggunakan tahun dasar 2018. Sementara itu, Nilai Tukar Petani Subsektor Tanaman Pangan (NTPP) meningkat dari 114,65 menjadi 116,16 atau naik 1,32 persen.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen menjaga keberlanjutan produksi padi melalui kebijakan harga yang berpihak kepada petani.

Menurut Amran, beras merupakan komoditas strategis yang harus dikelola secara hati-hati agar petani tetap memperoleh keuntungan sekaligus masyarakat mendapatkan pasokan yang memadai.

"Beras itu adalah pangan strategis yang kita jaga betul. Alhamdulillah sekarang cadangan beras kita 5,2 juta ton. Ada orang tertentu bilang mahal, dia tidak melihat negara lain," ujar Amran di Jakarta, Selasa (4/8/2026).

Ia menegaskan, pemerintah tidak akan mengambil kebijakan yang justru menekan harga gabah hingga merugikan petani.

"Kalau harga kita turunkan, petani bisa berhenti tanam karena rugi. Kalau petani berhenti tanam, kita kembali impor seperti tahun 2023 dan 2024 yang mencapai 7 juta ton. Sementara pada 2025 kita tidak melakukan impor beras medium dan justru surplus," katanya.

Kenaikan kesejahteraan petani tidak lepas dari kebijakan pemerintah melalui Perum Bulog yang telah menyerap gabah petani sebanyak 3,57 juta ton dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) minimal Rp6.500 per kilogram. Kebijakan ini dinilai berhasil menjaga harga gabah tetap menguntungkan di tingkat petani.

Di sisi lain, pemerintah juga memastikan kenaikan harga gabah tidak memicu lonjakan harga beras di tingkat konsumen.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menjelaskan bahwa stabilitas harga beras dijaga melalui penyaluran Cadangan Beras Pemerintah secara berkelanjutan.

"Gabah saat ini memang relatif sangat bagus bagi petani, tapi berdampak pada harga beras. Beras memang ada beberapa yang naik sedikit, tetapi tetap cukup stabil karena intervensi pemerintah terus berjalan. Jadi keseimbangannya tetap terjaga," ujar Ketut.

Sepanjang Januari hingga Juli 2026, pemerintah telah menyalurkan 1,45 juta ton CBP. Jumlah tersebut terdiri atas penyaluran beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebanyak 221,05 ribu ton pada Januari-Februari, kemudian 570,79 ribu ton pada periode Maret-Juli, serta bantuan pangan tahap pertama sebanyak 662,88 ribu ton.

Pemerintah juga telah menyiapkan bantuan pangan tahap kedua sebanyak 997,2 ribu ton yang akan disalurkan kepada 33,24 juta keluarga penerima manfaat. Masing-masing keluarga akan menerima 10 kilogram beras setiap bulan selama tiga bulan.

Dengan tambahan penyaluran tersebut, total distribusi CBP diperkirakan menembus lebih dari 2 juta ton, sementara stok beras pemerintah saat ini masih berada pada level aman, yakni sekitar 5,25 juta ton.

Strategi menjaga keseimbangan antara kepentingan petani dan konsumen tersebut mulai menunjukkan hasil nyata. BPS melaporkan inflasi beras tahunan (year on year) turun dari 3,98 persen pada Juni menjadi 3,10 persen pada Juli 2026.

Sementara itu, inflasi beras bulanan (month to month) tercatat hanya 0,49 persen dengan kontribusi terhadap inflasi nasional sebesar 0,02 persen.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan tekanan inflasi beras mulai melandai dibandingkan bulan sebelumnya.

"Beras pada Juni mengalami inflasi tahunan sebesar 3,98 persen, kemudian turun menjadi 3,10 persen pada Juli. Secara bulanan, inflasi beras sebesar 0,49 persen dengan andil inflasi 0,02 persen," jelas Ateng.

Data Bapanas juga menunjukkan harga beras nasional masih relatif stabil. Sepanjang Juli 2026, rata-rata harga beras premium tercatat Rp15.972 per kilogram, hanya naik 0,68 persen dibanding bulan sebelumnya dan 0,54 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, rata-rata harga beras medium berada di level Rp13.564 per kilogram. Harga tersebut bahkan turun 4,18 persen dibandingkan Juli 2025 dan hanya naik tipis 0,39 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Angka tersebut juga masih berada dalam rentang Harga Eceran Tertinggi (HET) beras medium yang ditetapkan pemerintah.

Kondisi positif juga terlihat pada inflasi pangan secara umum. Inflasi komponen harga bergejolak (volatile food) secara tahunan turun signifikan dari 5,58 persen menjadi 2,52 persen pada Juli 2026. Bahkan, secara bulanan inflasi pangan mencatat deflasi sebesar 1,68 persen, menjadi salah satu capaian terbaik setelah periode Ramadan dan Idulfitri tahun ini.

 

 

Reporter : Echa
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018