
Jangan remehkan sukun. Di Jamaika, buah ini menjadi senjata menghadapi cuaca ekstrem sekaligus menjaga ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Jangan remehkan sukun. Di Jamaika, buah ini menjadi senjata menghadapi cuaca ekstrem sekaligus menjaga ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat.
Perubahan iklim kini menjadi tantangan besar bagi sektor pertanian di berbagai negara. Cuaca yang semakin sulit diprediksi, kekeringan berkepanjangan, banjir, hingga badai menyebabkan produksi pangan terganggu dan memicu kenaikan harga bahan makanan. Kondisi ini membuat banyak negara mulai mencari sumber pangan lokal yang lebih tangguh menghadapi cuaca ekstrem.
Salah satu contoh menarik datang dari Jamaika. Negara kepulauan di kawasan Karibia itu menjadikan sukun (Artocarpus altilis) sebagai salah satu andalan dalam menjaga ketahanan pangan. Buah yang selama ini dikenal sebagai makanan tradisional tersebut kini kembali mendapat perhatian karena dinilai bergizi, mudah dibudidayakan, produktif, dan mampu bertahan di tengah perubahan iklim.
Dilansir dari BBC World melalui BBC Travel, masyarakat Jamaika semakin mengandalkan sukun sebagai sumber pangan lokal setelah berbagai peristiwa cuaca ekstrem dan pandemi Covid-19 menunjukkan betapa rentannya ketergantungan terhadap pangan impor. Pengalaman Jamaika menjadi pelajaran berharga bagi banyak negara tropis, termasuk Indonesia, yang sama-sama memiliki potensi besar dalam pengembangan tanaman sukun.
Di Jamaika, sukun bukanlah tanaman baru. Pohon ini telah tumbuh selama lebih dari dua abad dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Awalnya, sukun dibawa dari Kepulauan Pasifik ke Jamaika pada 1794. Saat itu, buah ini digunakan sebagai sumber pangan murah bagi para budak yang bekerja di perkebunan tebu milik Inggris. Seiring waktu, sukun berkembang menjadi salah satu bahan pangan penting yang hampir selalu hadir dalam kuliner khas Jamaika.
Kini, hampir setiap rumah memiliki pohon sukun di halaman. Masyarakat memanfaatkannya sebagai makanan sehari-hari sekaligus cadangan pangan ketika terjadi gangguan pasokan bahan makanan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tanaman lokal yang selama ini dianggap biasa ternyata mampu memainkan peran penting dalam menjaga ketersediaan pangan masyarakat.
Tahan Cuaca Ekstrem
Salah satu alasan mengapa sukun kembali populer adalah kemampuannya menghadapi kondisi iklim yang semakin tidak menentu.
Dalam laporan BBC World disebutkan bahwa pohon sukun memiliki daya tahan yang baik terhadap cuaca ekstrem. Bahkan ketika pohonnya rusak akibat badai, tanaman ini masih mampu tumbuh kembali.
Karakter tersebut menjadi keunggulan tersendiri ketika banyak tanaman pangan mengalami penurunan produksi akibat kekeringan, curah hujan yang tidak menentu, maupun bencana alam lainnya.
Organisasi Meteorologi Dunia juga mencatat kawasan Karibia mengalami peningkatan badai besar sekitar 25 persen sejak 1980. Perubahan tersebut membuat masyarakat semakin sadar pentingnya memiliki tanaman pangan yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
Bagi petani, kemampuan tanaman untuk tetap hidup dalam kondisi sulit merupakan modal penting untuk menjaga produksi pangan secara berkelanjutan.
Keunggulan lain yang membuat sukun menarik adalah produktivitasnya. Satu pohon sukun dapat menghasilkan sekitar 200 hingga 400 buah setiap tahun. Setelah mulai berbuah, pohon mampu terus memproduksi buah selama bertahun-tahun dengan perawatan yang relatif sederhana.
Produktivitas yang tinggi ini membuat sukun menjadi sumber pangan yang sangat potensial bagi keluarga petani maupun masyarakat pedesaan. Tidak seperti tanaman semusim yang harus ditanam kembali setiap musim, sukun termasuk tanaman tahunan yang dapat terus memberikan hasil. Artinya, petani tidak hanya memperoleh manfaat dari panen buah, tetapi juga memiliki cadangan pangan yang tersedia setiap tahun.
Selain produktif, sukun juga memiliki kandungan gizi yang cukup lengkap. Menurut BBC World, buah ini mengandung sembilan asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh. Selain itu, sukun juga kaya akan serat, karbohidrat kompleks, protein, vitamin, serta berbagai mineral penting.
Teksturnya lembut dengan rasa sedikit manis sehingga mudah diterima berbagai kalangan. Banyak masyarakat Jamaika menyamakan tekstur sukun dengan kentang atau singkong. Karena itu, buah ini sering dijadikan pengganti nasi, kentang, maupun sumber karbohidrat lainnya. Kandungan gizinya membuat sukun tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menjadi pilihan pangan yang lebih sehat.
Beragam Produk
Salah satu kekuatan terbesar sukun adalah sifatnya yang sangat serbaguna. Di Jamaika, masyarakat tidak hanya mengonsumsi sukun dalam bentuk rebus atau panggang. Buah ini juga diolah menjadi berbagai jenis makanan bernilai tambah.
Mulai dari sup, lauk pendamping ikan, roti, kue, biskuit, keripik, kerupuk, hingga tepung bebas gluten. Bahkan, sejumlah pelaku usaha berhasil mengembangkan produk minuman dan aneka makanan modern berbahan baku sukun.
Keberagaman olahan tersebut membuat nilai ekonomi sukun terus meningkat. Buah yang sebelumnya hanya dikonsumsi sendiri kini berubah menjadi komoditas yang mampu memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat.
Kesadaran masyarakat Jamaika terhadap pentingnya pangan lokal semakin meningkat ketika pandemi Covid-19 melanda dunia. Saat itu, rantai pasok pangan global terganggu. Banyak negara mengalami kesulitan memperoleh bahan pangan karena distribusi internasional tersendat.
Masyarakat Jamaika mulai menyadari bahwa ketergantungan terhadap pangan impor menyimpan risiko besar. Akibatnya, mereka kembali menanam berbagai tanaman pangan lokal, termasuk sukun.
Caroline de Lisser, pemerhati kuliner Jamaika yang sedang menyusun buku resep sukun, mengatakan pandemi menjadi pelajaran penting bagi negaranya. Menurutnya, sukun merupakan salah satu sumber pangan terbaik yang dimiliki Jamaika. Ia bahkan menyebut sukun sebagai "pohon kehidupan" karena mampu menyediakan makanan bergizi bagi masyarakat ketika kondisi sedang sulit.
Tidak hanya menjadi sumber pangan, sukun juga memberikan manfaat ekonomi. Karena buah segarnya cepat matang dan tidak tahan lama, masyarakat Jamaika mulai mengembangkan berbagai produk olahan agar memiliki umur simpan lebih panjang.
Kini tersedia tepung sukun, keripik, kerupuk, campuran adonan kue, hingga berbagai makanan siap saji yang dipasarkan di dalam maupun luar negeri. Pengolahan tersebut meningkatkan nilai tambah buah sukun sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat. Semakin banyak produk yang dihasilkan, semakin besar pula peluang terciptanya lapangan kerja di sektor pengolahan pangan.
Peluang di Indonesia
Apa yang dilakukan Jamaika sebenarnya sangat relevan bagi Indonesia. Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki kondisi iklim yang sangat cocok untuk budidaya sukun.
Tanaman ini tumbuh hampir di seluruh wilayah Indonesia, baik di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara hingga Papua. Sayangnya, pemanfaatannya masih belum optimal.
Di banyak daerah, sukun masih identik sebagai makanan gorengan atau rebusan yang dikonsumsi secara sederhana. Padahal, potensinya jauh lebih besar.
Sukun dapat diolah menjadi tepung sebagai alternatif pengganti sebagian tepung terigu yang masih banyak diimpor. Tepung tersebut kemudian dapat menjadi bahan baku berbagai produk pangan seperti roti, mi, donat, brownies, cookies, kue tradisional, hingga makanan ringan modern.
Jika dikembangkan secara serius, sukun bukan hanya menjadi sumber pangan keluarga, tetapi juga membuka peluang usaha bagi UMKM, kelompok tani, maupun pelaku industri pangan lokal.
Pengalaman Jamaika menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak selalu harus bergantung pada beras atau pangan impor. Justru, kekuatan sebuah negara terletak pada kemampuannya memanfaatkan sumber daya pangan lokal yang tersedia di sekitarnya.
Diversifikasi pangan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko ketika satu komoditas mengalami gangguan produksi akibat perubahan iklim.
Dalam konteks itu, sukun memiliki hampir semua syarat sebagai tanaman pangan masa depan. Produktivitasnya tinggi, mudah dibudidayakan, kaya nutrisi, tahan terhadap kondisi lingkungan yang berubah, serta dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi.
Bagi Indonesia yang memiliki jutaan pohon sukun dan kondisi alam yang mendukung, pengalaman Jamaika menjadi inspirasi bahwa tanaman lokal tidak boleh dipandang sebelah mata. Dengan pengelolaan yang tepat, sukun dapat menjadi salah satu penopang ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan pendapatan petani dan memperkuat ekonomi pedesaan di tengah ancaman cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.