
Beras melimpah belum tentu menjamin ketahanan pangan. Prof. Bungaran Saragih mengungkap 5 agenda besar untuk memperkuat perberasan Indonesia menuju 2045
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Beras melimpah belum tentu menjamin ketahanan pangan. Prof. Bungaran Saragih mengungkap 5 agenda besar untuk memperkuat perberasan Indonesia menuju 2045.
Produksi beras Indonesia memang sedang menunjukkan peningkatan. Namun, melimpahnya produksi belum otomatis membuat sistem perberasan nasional aman menghadapi berbagai guncangan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras untuk konsumsi penduduk pada 2025 mencapai 34,69 juta ton, naik 4,07 juta ton atau 13,29 persen dibandingkan 2024 yang sebesar 30,62 juta ton.
Luas panen padi juga meningkat menjadi sekitar 11,32 juta hektare.
Di tengah kondisi tersebut, penguatan ekosistem perberasan tetap menjadi pekerjaan besar. .Sistem pangan tidak hanya membutuhkan produksi di tingkat sawah, tetapi juga dukungan teknologi, pengolahan, distribusi, pembiayaan hingga pasar.
Mantan Menteri Pertanian periode 2000-2004, Prof. Dr. Bungaran Saragih, M.Ec., menawarkan lima agenda besar menuju Indonesia 2045.
Gagasan tersebut menekankan pentingnya membangun sistem pertanian yang terhubung dari hulu hingga hilir.
Lantas, apa saja lima agenda tersebut?
1. Bangun peta jalan dari hulu sampai hilir
Agenda pertama adalah membangun peta jalan huluisasi-hilirisasi berdasarkan komoditas dan wilayah.
Menurut Bungaran, pembangunan tidak cukup hanya mengejar peningkatan produksi.
Peta jalan harus dimulai dari sumber daya genetik dan produktivitas, kemudian terhubung dengan pengolahan, logistik, teknologi, pasar hingga pengelolaan biomassa secara sirkular.
Dalam konteks perberasan, pendekatan tersebut berarti beras tidak hanya dilihat dari berapa banyak gabah yang dihasilkan petani.
Sistemnya harus mencakup bagaimana mendapatkan benih dan varietas yang sesuai, meningkatkan produktivitas, mengolah gabah menjadi produk bernilai tambah, memperbaiki distribusi, hingga memanfaatkan limbah dan biomassa.
Dengan begitu, peningkatan produksi di sawah dapat memberikan dampak lebih luas terhadap ekonomi petani dan industri pangan.
2. Riset jangan berhenti di laboratorium
Agenda kedua adalah membangun konsorsium inovasi yang berorientasi pada penyelesaian masalah.
Bungaran menilai peneliti, perguruan tinggi, industri, petani, pemerintah dan lembaga pembiayaan harus bekerja menuju sasaran yang sama.
"Riset tidak boleh berhenti pada publikasi," demikian gagasan Bungaran dalam paparannya.
Riset, menurut dia, harus bergerak lebih jauh menjadi prototipe, standardisasi, skala industri hingga benar-benar digunakan masyarakat.
Bagi sektor perberasan, pendekatan ini penting karena persoalan di lapangan tidak selalu selesai hanya dengan menghasilkan teknologi baru.
Teknologi tersebut harus bisa diterapkan petani, sesuai dengan kondisi lahan dan kebutuhan usaha tani, serta memiliki dukungan pembiayaan dan pasar.
3. Petani harus menjadi bagian utama rantai nilai
Agenda ketiga menyangkut aktor utama pertanian, yakni petani, pekebun, peternak, nelayan dan pelaku usaha kecil.
Bungaran menekankan mereka harus ditempatkan sebagai bagian utama dari rantai nilai, bukan sekadar penerima manfaat.
Untuk itu, dibutuhkan akses terhadap lahan yang jelas, benih bermutu, teknologi, organisasi ekonomi, pembiayaan, infrastruktur dan pasar.
Dalam sistem perberasan, posisi petani menjadi sangat penting karena keberlanjutan produksi pada akhirnya bergantung pada kemampuan petani menjalankan usaha tani secara produktif dan menguntungkan.
Penguatan organisasi ekonomi juga dapat membuat petani memiliki posisi lebih baik dalam rantai pasok, terutama ketika berhadapan dengan proses pengolahan, perdagangan dan pemasaran.
4. Hubungkan sentra produksi dengan industri dan pasar
Agenda keempat adalah membangun koridor agroindustri dan logistik agro-maritim.
Konsep ini diarahkan untuk menghubungkan desa, kota, pulau, pusat pengolahan serta pasar domestik dan global.
Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, konektivitas menjadi bagian penting dalam membangun sistem pangan.
Produksi yang tinggi di suatu daerah perlu didukung sistem distribusi yang mampu menghubungkannya dengan wilayah konsumsi dan pusat pengolahan.
Bungaran juga menekankan desentralisasi seharusnya digunakan untuk melahirkan banyak pusat pertumbuhan berdasarkan keunggulan lokal, bukan justru memperbanyak fragmentasi kebijakan.
Dengan pendekatan tersebut, setiap daerah dapat mengembangkan potensi pertaniannya sambil tetap terhubung dengan jaringan industri dan pasar yang lebih luas.
5. Tata kelola harus bisa belajar dari hasil
Agenda kelima adalah membangun tata kelola nasional yang mampu belajar.
Bungaran menyebut Indonesia perlu berkembang dari sekadar planning nation menjadi learning and transforming nation.
Artinya, rencana pembangunan tetap diperlukan. Namun, setiap program harus diukur, dievaluasi, diperbaiki dan diperluas berdasarkan hasil nyata.
Pendekatan ini relevan bagi pembangunan perberasan karena tantangan pertanian dapat berubah dari waktu ke waktu.
Kondisi iklim, teknologi, pola konsumsi, kebutuhan pasar dan situasi ekonomi dapat berubah.
Karena itu, kebijakan tidak cukup hanya dibuat untuk satu periode, tetapi harus mampu beradaptasi berdasarkan hasil evaluasi.
"Transformasi bukan dokumen lima tahunan. Transformasi adalah proses lintas pemerintahan dan lintas generasi," tegas gagasan Bungaran.
Program Konkret
Bungaran juga mengajak berbagai pihak untuk menerjemahkan lima agenda tersebut menjadi program konkret.
Agenda yang dipilih, menurut dia, harus memiliki komoditas atau wilayah percontohan, persoalan teknologi yang hendak diselesaikan, model kemitraan, investasi yang perlu dipercepat serta kebijakan yang harus diselaraskan.
Setiap agenda juga harus memiliki penanggung jawab, tahapan, ukuran keberhasilan dan mekanisme evaluasi.
Transformasi pertanian, lanjutnya, tidak hanya datang dari pemerintah pusat.
Perubahan dapat dimulai dari pemerintah daerah yang menghubungkan sentra produksi dengan industri, laboratorium yang menghasilkan varietas baru, perusahaan yang membangun kemitraan adil, koperasi yang memperkuat posisi petani, hingga lembaga keuangan yang merancang pembiayaan sesuai siklus biologis.
Generasi muda juga memiliki ruang besar untuk mengambil peran dengan menggabungkan teknologi digital dan kekayaan hayati daerah.
Gagasan tersebut sejalan dengan arah pembangunan jangka panjang nasional yang menempatkan transformasi ekonomi, inovasi, pertanian, bioekonomi, ekonomi biru, koperasi serta pembangunan kewilayahan sebagai bagian dari agenda Indonesia 2045.
Bagi perberasan Indonesia, peningkatan produksi menjadi modal penting. Namun, produksi saja tidak cukup.
Diperlukan ekosistem yang menghubungkan benih, produksi, teknologi, petani, pembiayaan, pengolahan, logistik dan pasar secara lebih utuh.
Dengan cara itu, keberhasilan perberasan tidak hanya diukur dari banyaknya beras yang dihasilkan, tetapi juga dari seberapa kuat sistem tersebut menghadapi perubahan dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Seperti pesan Bungaran, Indonesia 2045 bukan sekadar tanggal peringatan 100 tahun kemerdekaan.
Target tersebut menjadi tanggung jawab lintas pemerintahan dan lintas generasi untuk membangun pertanian yang lebih produktif, terhubung dan berkelanjutan.