Monday, 12 October 2026


Mekanisasi dan Oplah Gas Produksi Padi Luwu, Panen Tembus 8,9 Ton per Hektare

21 Sep 2026, 06:32 WIBEditor : Gesha

Mekanisasi dan optimalisasi lahan (Oplah) mendorong produksi padi di Luwu. Panen perdana mencatat produktivitas hingga 8,9 ton per hektare.

TABLOIDSINARTANI.COM, Luwu – Mekanisasi dan optimalisasi lahan (Oplah) mendorong produksi padi di Luwu. Panen perdana mencatat produktivitas hingga 8,9 ton per hektare.

Produksi padi di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, menunjukkan hasil menjanjikan. 

Program optimalisasi lahan (Oplah) yang dipadukan dengan mekanisasi pertanian mampu mendorong produktivitas hingga 8,9 ton gabah per hektare.

Capaian tersebut terlihat dalam panen perdana lahan reguler dan Oplah di Desa Rantai Damai, Kecamatan Walenrang Timur, Kabupaten Luwu, Kamis (17/9/2026).

Panen kali ini tak lagi mengandalkan cara manual. 

Combine Harvester digunakan untuk mempercepat proses panen sekaligus meningkatkan efisiensi di lahan pertanian.

Areal yang dipanen mencakup sekitar 700 hektare lahan reguler dan 150 hektare lahan Oplah. 

Program tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan, meningkatkan indeks pertanaman (IP), sekaligus mendongkrak produksi padi.

Berdasarkan hasil ubinan di lokasi panen, produktivitas mencapai sekitar 8,9 ton per hektare. 

Angka tersebut menunjukkan potensi peningkatan produksi ketika optimalisasi lahan dibarengi teknologi, pengelolaan budidaya dan pendampingan penyuluh.

Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Gowa, Ismaya Nita Rianti Parawansa, mengatakan capaian tersebut menunjukkan besarnya potensi sektor pertanian Kabupaten Luwu.

Menurutnya, optimalisasi lahan di wilayah tersebut memberikan hasil positif. 

Pelaksanaan Oplah di Kecamatan Walenrang Timur juga berhasil mendorong peningkatan indeks pertanaman dari 180 menjadi 200.

“Optimalisasi lahan di sini berhasil dengan baik dan produksinya mencapai sekitar 9 ton. Panen perdana ini juga menunjukkan bahwa dari IP 180 dapat meningkat menjadi IP 200,” ujar Ismaya.

Capaian tersebut diharapkan menjadi pijakan untuk pengembangan pertanaman berikutnya hingga mencapai IP 300.

Untuk mengejar target tersebut, diperlukan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh, perguruan tinggi dan petani. 

Dukungan sarana-prasarana pertanian juga menjadi faktor penting.

“Kami berharap indeks pertanaman dapat terus ditingkatkan hingga IP 300 sehingga produktivitas dan ketahanan pangan Kabupaten Luwu semakin kuat,” kata Ismaya.

Penggunaan Combine Harvester menjadi salah satu sorotan dalam panen perdana tersebut. 

Mesin ini diterapkan sebagai bagian dari modernisasi pertanian untuk mempercepat proses panen dan meningkatkan efisiensi usaha tani.

Dengan mekanisasi, proses panen diharapkan berlangsung lebih cepat sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap tenaga kerja manual.

Modernisasi pertanian melalui pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan) menjadi bagian dari strategi Kementerian Pertanian untuk meningkatkan efisiensi dan mendorong transformasi pertanian menuju sistem yang lebih modern.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya optimalisasi lahan, peningkatan produktivitas, modernisasi pertanian dan pemanfaatan teknologi untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional.

“Panen perdana di lahan reguler maupun Oplah menunjukkan bahwa lahan yang telah dioptimalkan harus segera memberikan hasil. Setiap hektare harus dikelola secara produktif dengan dukungan teknologi, sarana produksi, irigasi, dan pendampingan yang berkelanjutan,” ujar Amran.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menilai keberhasilan panen tersebut menjadi momentum untuk memperkuat optimisme petani.

Ia menekankan pentingnya peran penyuluh dalam memastikan inovasi dan teknologi pertanian diterapkan secara efektif di tingkat petani.

“Dengan kolaborasi yang kuat, pendampingan yang konsisten, serta SDM pertanian yang kompeten, produktivitas dapat terus ditingkatkan dan ketahanan pangan nasional semakin kokoh,” ungkap Idha.

Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan) Kementerian Pertanian Muhammad Amin mengatakan panen dari lahan reguler dan Oplah perlu menjadi momentum untuk meningkatkan produktivitas serta efisiensi usaha tani.

Menurutnya, optimalisasi lahan harus dilanjutkan melalui pemanfaatan teknologi dan mekanisasi, peningkatan indeks pertanaman, serta penguatan sumber daya manusia pertanian.

Pendidikan vokasi pertanian juga memiliki peran penting dalam menyiapkan SDM yang mampu menerapkan teknologi dan inovasi di lapangan.

Polbangtan Gowa sebagai perguruan tinggi vokasi di bawah Kementerian Pertanian menyatakan akan terus mendukung pembangunan pertanian di daerah melalui penguatan SDM, penerapan inovasi dan pendampingan petani.

Bupati Luwu H. Patahudding meminta penyuluh dan kepala desa melakukan identifikasi wilayah yang mengalami kekeringan. Langkah tersebut diperlukan untuk menjaga produktivitas lahan sekaligus mendukung pengembangan pertanaman.

Dengan capaian produktivitas 8,9 ton per hektare, hasil panen di Walenrang Timur menjadi gambaran potensi produksi ketika optimalisasi lahan dipadukan dengan teknologi dan pendampingan.

Panen perdana ini sekaligus memperkuat kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, penyuluh dan petani dalam mengembangkan pertanian yang lebih modern.

Kombinasi Oplah, mekanisasi dan peningkatan indeks pertanaman diharapkan mampu menjaga produktivitas padi Luwu sekaligus membuka ruang peningkatan produksi pada musim tanam berikutnya.

Reporter : Muzakir
Sumber : Polbangtan Gowa
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018