
Limbah tongkol jagung tidak harus dibakar atau dibiarkan menumpuk. Dengan pengolahan sederhana, bahan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai media budidaya jamur merang.
TABLOIDSINARTANI.COM, Grobogan --- Limbah tongkol jagung tidak harus dibakar atau dibiarkan menumpuk. Dengan pengolahan sederhana, bahan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai media budidaya jamur merang.
Tongkol jagung yang selama ini kerap dibuang atau dibakar ternyata dapat dimanfaatkan menjadi media budidaya jamur merang. Dengan teknologi sederhana dan bahan yang relatif mudah diperoleh, limbah tersebut berpeluang menjadi sumber tambahan pendapatan bagi petani.
Hal itu disampaikan Harmoko, penyuluh pada Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Kedungjati, Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Menurut dia, pemanfaatan tongkol jagung sebagai media tumbuh jamur merang menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi limbah sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru dari usaha tani jagung.
Harmoko menjelaskan, jagung merupakan salah satu komoditas pangan strategis yang tidak hanya digunakan sebagai bahan pangan. Jagung juga dimanfaatkan untuk kebutuhan pakan ternak, bahan baku industri hingga bioenergi.
Namun, pemanfaatan jagung selama ini masih banyak berfokus pada bagian bijinya. Setelah proses pemipilan, bagian tanaman seperti tongkol, batang, klobot, daun dan sisa tanaman lainnya masih cukup banyak yang belum dimanfaatkan secara optimal.
“Bagian tanaman jagung yang banyak dimanfaatkan adalah bijinya. Daun dan batangnya juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Sementara tongkol jagung sering kali hanya dibiarkan atau dibakar,” jelas Harmoko.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi persoalan tersendiri, terutama di sentra produksi jagung. Limbah tongkol yang menumpuk membutuhkan ruang dan waktu untuk terurai. Jika dibakar dalam jumlah besar, asap yang dihasilkan juga dapat menimbulkan pencemaran udara.
Karena itu, diperlukan inovasi sederhana agar limbah tersebut tidak sekadar menjadi persoalan lingkungan, tetapi dapat memberikan nilai tambah bagi petani.
Harmoko mengatakan, salah satu pemanfaatan yang dapat dilakukan adalah menjadikan tongkol jagung sebagai media tumbuh jamur merang atau Volvariella volvacea.
Jamur merang dikenal sebagai salah satu jenis jamur yang dapat tumbuh pada bahan organik seperti jerami padi, jerami jagung dan sisa tanaman lainnya. Kondisi iklim tropis Indonesia juga mendukung pengembangan komoditas tersebut.
“Budi daya jamur dengan media tongkol jagung merupakan salah satu potensi agribisnis yang cukup menjanjikan karena relatif murah dan mudah,” katanya.
Menurut Harmoko, peluang tersebut semakin menarik karena bahan utama berupa tongkol jagung tersedia di sentra produksi. Petani tidak harus membeli bahan utama dengan harga tinggi karena tongkol merupakan hasil samping dari proses pemipilan jagung.
Data yang dikutip Harmoko dari penelitian Karim (1996) menunjukkan, setiap satu hektare tanaman jagung dengan produksi sekitar 7-9 ton dapat menghasilkan limbah sekitar 1,8-2,7 ton.
Sementara secara umum, setiap 100 kilogram produksi jagung dapat menghasilkan limbah sekitar 20-30 persen. Besarnya volume limbah tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan tongkol jagung masih memiliki ruang yang cukup besar untuk dikembangkan.
“Kalau limbah tersebut tidak dikelola dengan baik, akan menimbulkan permasalahan baru berupa sampah yang dapat menjadi bencana lingkungan dan gangguan kesehatan,” ujar Harmoko.
Ia menilai, sentuhan teknologi sederhana dapat mengubah posisi tongkol jagung dari limbah menjadi bahan yang memiliki nilai ekonomis.
Harmoko menjelaskan, pembuatan media jamur merang dari tongkol jagung tidak membutuhkan peralatan yang rumit. Petani dapat menggunakan bahan yang relatif mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Tahap awal adalah menyiapkan tempat untuk media tumbuh. Tempat tersebut dapat dibuat menggunakan papan atau memanfaatkan sisa bahan bangunan yang sudah tidak digunakan, seperti talang, baja ringan maupun hebel.
Ukuran kotak media dapat dibuat sekitar 1 x 3 meter, menyesuaikan kondisi lokasi. Kotak dibuat dengan ketinggian sekitar 20-30 sentimeter.
Tempat budidaya kemudian diletakkan di dalam rumah atau lokasi yang terlindung dari paparan sinar matahari langsung dan hujan. Bagian dasar kotak diberi alas menggunakan karung beras, karung goni atau bahan sejenis.
Harmoko menjelaskan, penggunaan alas tersebut bertujuan membantu menjaga suhu dan kelembapan media. Petani sebaiknya tidak menggunakan alas plastik karena air tidak dapat meresap ke bawah.
Selain tempat, bahan yang perlu disiapkan antara lain tongkol jagung yang sudah dihancurkan, dedak halus atau bekatul, pupuk urea dan ragi tape.
Untuk 100 kilogram tongkol jagung yang sudah hancur, bahan yang digunakan terdiri atas sekitar 250 gram ragi tape, 2 kilogram pupuk urea dan 4 kilogram dedak halus atau bekatul.
“Bahan-bahan tersebut kemudian dicampur hingga merata,” jelas Harmoko.
Tongkol jagung selanjutnya dimasukkan ke dalam kotak secara bertahap. Sekitar setengah bagian tongkol dimasukkan terlebih dahulu hingga mencapai tinggi sekitar 15-20 sentimeter, kemudian diratakan.
Campuran ragi tape, urea dan bekatul ditaburkan di atas permukaan tongkol. Setelah itu, sisa tongkol jagung dimasukkan kembali hingga ketinggian media mencapai sekitar 20 sentimeter.
Campuran bahan yang sama kembali ditaburkan pada lapisan tongkol berikutnya. Pengulangan tersebut dilakukan agar bahan tercampur secara merata pada media.
Setelah seluruh proses pencampuran selesai, media disemprot menggunakan air secara merata. Dalam praktik yang dijelaskan Harmoko, penyemprotan dilakukan menggunakan sekitar empat ember air dengan handsprayer.
Kelembapan menjadi salah satu faktor penting dalam tahap ini. Media tidak boleh terlalu basah, tetapi juga tidak boleh terlalu kering.
Setelah media disiram, tongkol jagung ditutup menggunakan terpal atau plastik berwarna gelap. Penutup dibuat rapat agar kelembapan tetap terjaga.
Namun, media tidak berarti dibiarkan tanpa pemeriksaan. Harmoko menyarankan pengecekan dilakukan setiap 2-3 hari.
Saat pemeriksaan, penutup dapat dibuka untuk melihat kondisi kelembapan dan suhu media. Jika media terlalu kering, petani dapat melakukan penyemprotan air secara hati-hati.
Sebaliknya, apabila suhu terlalu tinggi, penutup perlu dibuka sementara agar suhu kembali stabil. Setelah kondisi sesuai, media kembali ditutup.
Menurut Harmoko, pengaturan kelembapan dan suhu menjadi bagian penting dalam menentukan keberhasilan pertumbuhan jamur merang.
“Tempat budidaya harus terjaga kebersihan dan kelembapannya agar jamur merang dapat tumbuh optimal,” katanya.
Dengan perawatan tersebut, jamur merang mulai dapat dipanen sekitar 10-14 hari. Waktu panen dapat berbeda-beda tergantung kondisi media, kelembapan dan faktor lingkungan lainnya.
Jamur yang siap dipanen memiliki ukuran relatif seragam, berbentuk seperti pentol korek api tetapi berukuran lebih besar. Warnanya putih atau krem bersih, terlihat segar dan tidak layu.
Pemanenan dilakukan secara perlahan agar tidak merusak jamur lain yang masih berukuran kecil maupun media tumbuhnya. Petani dapat menggunakan pisau, gunting atau mengambilnya secara langsung dengan tangan.
Harmoko menyebut, dari kotak berukuran 3 x 1 meter, produksi jamur merang rata-rata sekitar 1-1,5 kilogram. Pemanenan dapat dilakukan dua kali dalam satu bulan, tergantung kondisi pertumbuhan jamur.
Dengan harga jual sekitar Rp18.000-Rp20.000 per kilogram, hasil tersebut memang belum serta-merta menjadi sumber pendapatan utama. Namun, bagi petani, pemanfaatan limbah menjadi media budidaya dapat menjadi usaha tambahan dengan memanfaatkan bahan yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi.
Peluang pemasaran juga cukup terbuka. Jamur merang dapat dijual melalui pasar tradisional, pasar modern maupun pemasaran secara langsung kepada konsumen.
Harmoko mengatakan, media sosial juga dapat digunakan untuk memperluas pemasaran. Petani dapat memanfaatkan Facebook, Instagram, TikTok maupun WhatsApp untuk menawarkan hasil panen.
“Melalui jejaring media sosial yang ada, dapat menambah pangsa pasar yang lebih luas dan dijangkau oleh masyarakat dari berbagai daerah,” ujarnya.
Selain menghasilkan jamur, pemanfaatan tongkol jagung sebagai media budidaya juga memberikan manfaat dari sisi pengelolaan limbah.
Setelah produktivitas jamur menurun dan masa budidaya selesai, media tongkol jagung tidak harus kembali menjadi limbah. Sisa media dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik.
Harmoko juga menyebutkan, sisa media tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk pengembangan sumber energi terbarukan berupa syngas melalui proses gasifikasi. Pemanfaatan tersebut pernah dibahas dalam penelitian Haluti (2015) mengenai potensi limbah tongkol jagung sebagai syngas melalui proses gasifikasi di wilayah Gorontalo.
Peluang pengembangan pemanfaatan tongkol jagung menjadi media jamur merang semakin terbuka di Kabupaten Grobogan.
Grobogan dikenal sebagai salah satu wilayah sentra pangan di Jawa Tengah. Sektor pertanian juga menjadi salah satu penyumbang penting terhadap perekonomian daerah.
Harmoko menyebut, berdasarkan data yang digunakan dalam tulisannya, sektor pertanian menyumbang 26,84 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Grobogan pada 2023.
Komoditas tanaman pangan yang penting di wilayah tersebut antara lain padi, jagung dan kedelai.
Khusus jagung, potensi luas tanam dalam satu tahun di Kabupaten Grobogan mencapai sekitar 145.544 hektare dengan produksi mencapai 931.681 ton.
Besarnya produksi tersebut secara otomatis menghasilkan limbah dalam jumlah besar. Jika tidak dimanfaatkan, sebagian limbah tongkol hanya akan menumpuk, dibakar atau dibiarkan membusuk.
Karena itu, menurut Harmoko, pemanfaatan tongkol sebagai media jamur merang dapat menjadi salah satu alternatif yang layak diperkenalkan kepada petani.
Konsepnya sederhana, yakni mengubah hasil samping usaha tani menjadi bahan baku usaha baru. Petani tidak hanya menjual hasil utama berupa jagung pipilan, tetapi juga dapat mengembangkan usaha dari limbah yang sebelumnya tidak dimanfaatkan.
“Dengan inovasi dan teknologi sederhana, limbah tongkol jagung yang tadinya belum dimanfaatkan secara optimal dapat menjadi peluang untuk menambah penghasilan petani,” kata Harmoko.
Ia menambahkan, pengembangan usaha tersebut tetap membutuhkan kemauan, keterampilan, ketekunan serta pemasaran yang baik. Tantangan dalam budidaya jamur tetap ada, terutama dalam menjaga kebersihan, kelembapan, suhu media dan kontinuitas produksi.
Namun, jika dikelola secara konsisten, limbah tongkol jagung dapat memberikan nilai tambah sekaligus membantu mengurangi persoalan limbah di sentra produksi jagung.
Bagi petani jagung, tongkol yang sebelumnya hanya dianggap sisa produksi dengan sentuhan teknologi sederhana dapat berubah menjadi media produksi pangan. Dari limbah tersebut, terbuka peluang usaha baru berupa budidaya jamur merang yang dapat dipanen dan dipasarkan secara langsung kepada konsumen.
Dengan demikian, pemanfaatan tongkol jagung tidak hanya berbicara mengenai pengurangan limbah, tetapi juga mengenai bagaimana hasil samping pertanian dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga petani.