Dari setidaknya 10 masalah utama, serta 10 peluang dan potensi pembangunan ketahanan pangan tahun 2014, Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian merumuskan tiga aksi dan lima sasaran yang dilakukan dalam membangun ketahanan pangan tahun 2014.
Sepuluh masalah utama yang masih dihadapi dalam memantapkan ketahanan pangan nasional tahun 2014 yakni, pertama, ketergantungan konsumsi beras dan kecenderungan konsumsi terigu masih cukup tinggi, serta belum optimalnya pemanfaatan pangan lokal untuk konsumsi pangan harian. Kedua, masih rendahnya kualitas dan kuantitas pola konsumsi pangan penduduk, karena pengetahuan, budaya dan kebiasaan makan masyarakat kurang mendukung konsumsi pangan beragam, bergizi seimbang dan aman.
Ketiga, belum berkembangnya industri pangan berbasis bahan pangan lokal yang mendukung penganekaragaman konsumsi pangan. Keempat, masih terjadinya kasus keracunan akibat penggunaan bahan kimia berbahaya pada makanan sehingga menimbulkan rendahnya ketahanan pangan masyarakat. Kelima, peningkatan diversifikasi pangan belum sepenuhnya didukung dengan dana secara optimal dan sinergitas antar Eselon I lingkup Kementerian Pertanian dan antar sektor masih rendah kontribusi dan implementasinya.
Keenam, belum memadainya prasarana dan sarana transportasi baik darat dan terlebih antar pulau, sehingga meningkatkan biaya distribusi pangan. Ketujuh, cadangan pangan pemerintah masih terbatas (hanya beras dan dikelola oleh pemerintah pusat), sementara cadangan pemerintah daerah dan masyarakat belum berkembang, termasuk belum optimalnya pemanfaatan dan pengelolaan lumbung pangan masyarakat.
Kedelapan, kemampuan ketahanan pangan masyarakat dalam pemenuhan ketersediaan pangan dan akses pangan masih rendah. Kesembilan, perubahan iklim global tidak dapat dihindari dan dapat mempengaruhi produksi, distribusi, cadangan dan harga pangan. Kesepuluh, jumlah penduduk rawan pangan masih cukup besar dan telah menunjukkan trend yang meningkat.
Juga ada sepuluh potensi dan peluang dalam pembangunan ketahanan pangan, yakni: pertama, besarnya jumlah penduduk Indonesia merupakan pasar produk pangan sekaligus penggerak ekonomi nasional. Kedua, tingkat pendidikan masyarakat dan pengetahuan tentang pangan yang semakin tinggi memberikan peluang bagi percepatan proses peningkatan kesadaran gizi masyarakat.
Ketiga, luas wilayah Indonesia yang besar dan merupakan negara kepulauan menyediakan peluang usaha distribusi pangan yang cukup besar. Keempat, perkembangan teknologi informatika, perhubungan dan transportasi yang sangat pesat hingga ke pelosok daerah menjadi penunjang penting bagi keberhasilan pembangunan ketahanan pangan nasional.
Kelima, ketersediaan sumberdaya lahan dan air sebagai faktor utama produksi untuk menghasilkan pangan, belum dikelola secara optimal. Keenam, keragaman sumberdaya alam dan keanekaragaman hayati baik flora dan fauna nasional belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber pangan untuk mendukung peningkatan konsumsi masyarakat sekaligus mempertahankan kelestariannya.
Ketujuh, ketersediaan lahan pertanian cukup besar dan belum dimanfaatkan secara optimal. Kedelapan, semakin berkembangnya riset dan teknologi pangan yang telah menghasilkan berbagai varietas tanaman pangan yang tahan terhadap kondisi tidak optimal namun tetap berproduksi tinggi. Demikian pula untuk hortikultura dan peternakan.
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066