Jumat, 14 Desember 2018


Pengamat: Ada Anomali Produksi Jagung

11 Okt 2018, 12:36 WIBEditor : Yulianto

Pemerintah menyatakan produksi jagung surplus, tapi di lapangan harga naik

 TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta ---Kenaikan harga jagung yang dikeluhkan kalangan peternak menjadi sebuah anomali di saat produksi jagung mengalami kenaikan. Bahkan kalangan pengamat melihat sudah keluar dari hukum ekonomi.

Drs. Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) mengatakan, permasalah jagung adalah permasalah komoditas pertanian secara keseluruhan. Ketika panen, harga akan turun. Karena itu, perlu manajemen produksi dan stok.

“Untuk komoditas jagung telah terjadi anomali, ada surplus, tapi harga naik. Dalam hukum ekonomi tidak mungkin produksi naik, harga naik,” katanya dalam Diskusi Untung Rugi Jagung yang digelar Pataka di Jakarta, Rabu (10/10).

Misalnya, Anthony mencontohkan, tahun 2017 ada produksi jagung sebanyak 27,9 juta ton dengan kebutuhan nasional 15-16 juta ton. Artinya ada surplus, tapi mengapa harga jagung merambat naik. Apalagi tahun 2018 akan ada peningkatan produksi lagi.

“Kemana surplusnya. Kalau ada ekspor, dilihat harga jagung dalam negeri yang mencapai Rp 5.000/kg dan harga internasional 145 dollar AS/ton atau Rp 2.300/kg. Bagaimana bisa ekspor? Kalau ekspor 500 ribu ton, sisanya kemana?” ungkapnya.

Apalagi menurut Anthony, industri pakan yang biasa menggunakan jagung impor mensubsitusi ke gandum, bukan ke jagung lokal. Dengan demikian, seharusnya permintaan jagung di dalam negeri menurun. “Kalau permintaan turun, harganya juga harus turun. Kenapa sudah disubstitusi ke gandum, harga jagung lokal tetap naik. Jadi ditinjau dari ekonomi, tidak masuk,” tegasnya.

Karena itu Anthony mempertanyakan angka surplus jagung, baik dilihat dari perkembangan harga maupun permintaan untuk pakan ternak. Karena itu ia meminta pemerintah meninjau kembali angka produksi jagung. Sebab, jika data produksi salah, maka kebijakan yang pemerintah buat juga menjadi tidak benar.

Seperti diketahui tahun 2018, pemerintah menargetkan produksi jagung mencapai 22,95 juta ton pipilan kering. Bahkan diperkirakan target tersebut bisa terlampaui, karena pemerintah memperkirakan produksi jagung tahun ini bisa mencapai 33 juta ton. Bukan hanya swasembada jagung, pemerintah pun mulai melempar jagung ke pasar luar negeri alias ekspor.

Data BPS menyebutkan pertumbuhan produksi jagung dalam lima tahun terakhir (2013-2017) rata-rata mencapai 8,02 persen pertahun. Pertumbuhan terbesar terjadi tahun tahun 2016 sebesar 20,2 persen dan 2017 sebesar 18,5 persen. Bahkan jika melihat pertumbuhan jagung selama ini, dua tahun terakhir tersebut merupakan pertumbuhan terbesar sepanjang sejarah.

Data BPS juga mengungkap, tingginya produksi jagung tersebut karena peningkatan luas panen 17,35 persen (2016) dan 20,95 persen (2017). Sedangkan peran produktivitas terhadap kenaikan produksi hanya 1,23 persen pertahun.

Kenaikan produksi tersebut sebagian besar dipasok dari luar Jawa. Bahkan sejak tahun lalu, produksi jagung di luar Jawa sudah melampaui Pulau Jawa. Produksi jagung di luar Pulau Jawa tahun 2017  sebanyak 16,42 juta ton dan di Jawa 11,53 juta ton. Namun Pulau Jawa masih menjadi pangsa pasar terbesar yakni 48,4 persen produksi jagung.

Pertumbuhan produksi jagung yang pesat tersebut membuat pemerintah sejak tahun 2015 mulai mengurangi volume impor jagung untuk pakan ternak. Terbukti pada 2016, impor turun drastis dari 3 juta ton menjadi 1,3 juta ton. Bahkan tahun 2017, impor jagung tinggal 0,7 juta ton. Bahkan tahun ini, pemerintah menyetop total impor jagung untuk pakan ternak.

Sementara itu Pengamat Pertanian, Khudori mengatakan, pengumpulan data produksi jagung, maka tidak berbeda dengan menghitung produksi padi. Produktivitas diukur cara ubinan dan cara penghitungan luas panen sulit dipertanggungjawabkan secara statistik.

Dengan model perhitungan tersebut menurut Khudori, akan sangat mungkin terjadi over estimate dalam produksi jagung. Misalnya, tahun 2014 dilaporkan produksi jagung mencapai 19,6 juta ton atau surplus 2,7 juta ton, ternyata  industri pakan ternak masih impor sekitar 3,5 juta ton.  “Dari data itu tidak sesuai antara produksi dan kebutuhan industri pakan yang sulit mendapatkan jagung. Kalau ada surplus, pertanyaannya dimana?” tegasnya.Yul

Reporter : Yulianto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018