Minggu, 18 Agustus 2019


Lahan Rawa, Solusi Pangan di Saat Paceklik

16 Okt 2018, 15:45 WIBEditor : Yulianto

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman saat mengunjungi lokasi pengembangan lahan rawa yang dipersiapkan untuk gelar teknologi HPS ke-38 di Barito Kuala, Kalsel | Sumber Foto:Humas Kementan

TABLOIDSINARTANI.COM, Barito Kuala---Lahan rawa kini menjadi sebuah asa bagi peningkatan produksi pangan. Bahkan dapat menjadi solusi mengisi stok pangan di saat paceklik.

“Saya melihat, yang kita inginkan adalah ada solusi baru untuk pangan Indonesia. Termanfaatkanya lahan rawa di Kalimantan Selatan ini menjadi obatnya paceklik,” kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat mengecek kesiapan pengembangan lahan rawa di Desa Jejangkit, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Selasa (16/10).

Pengembangan lahan rawa merupakan tema besar yang diangkat pada peringatan Hari Pangan Sedunia ke-38 tahun 2018 yang digelar 18-21 Oktober di Kalimantan Selatan. “November tinggal 2 minggu lagi, Desember dan Januari panen padi di pulau Jawa menurun, bahkan dikenal dengan paceklik,” ujarnya.

Namun Amran optimis, lahan rawa bisa menjadi solusi baru menghasilkan pangan, terutama beras pada musim paceklik yang terjadi berlangsung pada November hingga Januari. Dengan demikian, stok beras akan ada terus sepanjang tahun.

Pemerintah kini mendorong pengembangan lahan rawa di luar pulau Jawa yang dikenal dengan pengembangan selatan-selatan yakni Kalimantan Selatan hingga Sumatera Selatan. Setidaknya ada lima provinsi sebagai lokasi pengembangn lahan rawa dengan luas kurang lebih 10 juta ha. Jadi generasi kita ke depan, tidak usah ragu, kita sudah menemukan solusi baru untuk pangan Indonesia. Stok beras kita aman,” katanya.

Lebih lanjut Amran menyebutkan, pada peringatan HPS ke 38 di Kalimantan Selatan ini pengembangan lahan rawa menjadi lahan padi produktif seluas 4.000 ha. Sekitar 750 ribu diantaranya sudah ditanami padi, bahkan direncanakan siap dipanen pada puncak peringatan HPS.

 Berkelanjutan

Amran mengatakan, pemanfaatan lahan rawa harus dilakukan secara berkelanjutan untuk menghasilkan komoditas pangan strategis terutama beras. Bahkan Kementan telah menyusun berbagai regulasi pendukung agar lahan rawa tetap sebagai lahan pertanian produktif.

“Regulasi untuk keberlanjutan pemanfaatan lahan rawa pasca HPS ini sudah dibuat dari awal, semua yang menghambat kepentingan rakyat petani kita cabut. Ada 241 regulasi pertanian pertanian telah dicabut yang menghambat percepatan produksi pangan,” sebutnya.

Salah satu regulasinya yakni mengubah sistem tender menjadi penunjukan langsung atau e-catalog. Dengan regulasi ini, bantuan dapat diturunkan ke petani secara cepat sesuai dengan waktu yang dibutuhkan.

“Dulu kalau mau memupuk, mengolah lahan harus tender. Kita tahu APBN turun pada Februari, jika tender berarti baru terealisasi tiga bulan. Tapi dengan regulasi e-catalog, kami perintahkan hari ini butuh traktor, sore sudah tiba,” ujarnya.Karena tanaman, apalagi ada tikus, tidak bisa mengatakan tunggu dulu ada tender. Ini yang kita ubah, kita percepat agar petani sejahtera,” pungkas Amran. Kontributor

 

 

Reporter : kontributor
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018