Kamis, 15 November 2018


Produksi Jagung Jawa Tengah Siap Banjiri Pasar

16 Okt 2018, 16:25 WIBEditor : Yulianto

Rasidi, salah satu petani Desa Tegowanu Wetan, Grobogan | Sumber Foto:Humas Kementan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Produksi jagung di wilayah Jawa Tengah diprediksi bakal membanjiri pasar. Hingga Desember mendatang diperkirakan terdapat seluas 88.038 hektar (ha) lahan jagung yang sudah dan akan panen.

Setidaknya ada enam kabupaten yang luas panennya lebih besar dari kabupaten lainnya yaitu Grobogan, Blora, Klaten, Wonosobo, Jepara dan Kendal. Secara keseluruhan selama tahun ini panen jagung di Jateng seluas 590.285 ha.

Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Balitbangtan Jateng Kementan, Harwanto mengatakan, terdapat 29 kabupaten di Jawa Tengah yang pengembangan jagungnya tidak bersamaan waktu tanam, karena disesuai kondisi iklim, tipe lahan dan sosiokultur masyarakat setempat.

Karena itu, hampir setiap bulan ada panen jagung yang volumenya fluktuatif. Puncak panen jagung di Jateng umumnya terjadi pada Januari yang merupakan hasil tanam Oktober. Jagung biasanya ditanam di lahan tadah hujan dan kering karena tersedia cukup air.

Panen jagung masih ditemui Oktober hingga Desember, namun memang volumenya lebih rendah dari bulan-bulan sebelumnya. Hanya wilayah tertentu yang dapat menanam jagung pada musim kemarau,” katanya.

Memang tidak semua sentra pengembangan jagung di Jateng menanam di musim hujan (MH) atau sebaliknya. Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Blora misalnya, banyak menanam pada musim hujan dan hanya sebagian menanam saat kemarau.

Sementara di Kabupaten Klaten dan Jepara lebih tinggi ditanam saat kemarau daripada musim hujan. Lalu Kabupaten Wonosobo, walaupun bukan sentra utama, namun relatif konstan sepanjang tahun tersedia jagung.

Begitu juga di empat kecamatan di Kabupaten Kendal yaitu Pegandon, Cepiring, Gumuh dan Patean yang merupakan sentra jagung. Di wilayah itu saat ini sedang berlangsung panen. Bahkan petani akan menanam jagung kembali di musim hujan 2018 dalam luasan yang lebih besar.

Sementara di Kecamatan Tegowanu Kabupaten Grobogan, Oktober ini juga sedang panen jagung yang tersebar di 7 desa. Walaupun ditanam pada musim kering hasilnya lebih rendah dibandingkan sebelumnya, namun karena harga jual saat ini mencapai Rp 4.600/kg pipil kering, petani sudah merasakan keuntungannya," kata Rasidi, salah satu petani Desa Tegowanu Wetan.

Rasidi berharap harga jual jagung stabil. Namun ia berharap harga jagung bisa lebih tinggi mengingat biaya produksi juga kian tinggi. Harga benih jagung yang tinggi dan sering kurang tersedia saat waktu tanam menjadi keluhan petani di Kabupaten Kendal. Namun demikian, sama dengan petani di Kabupaten Grobogan, jika harga jual tinggi, petani akan terus menanam jagung karena potensi lahan yang sesuai cukup luas.

Data menyebutkan kontribusi produksi jagung di Jateng cukup signifikan secara nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi jagung Jawa Tengah memasok 12,3 persen dari total produksi nasional mencapai 28,9 juta ton (tahun 2017). Kontributor

Reporter : kontributor

E-PAPER TABLOID SINAR TANI

Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018