Sunday, 14 June 2026


Warga Dayak Meratus Tak Lagi Lakukan Ladang Berpindah

05 Nov 2018, 10:53 WIBEditor : Ahmad Soim

Suku dayak di pegunungan meratus, tak lagi berladang berpindah

Warga Dayak di Pegunungan Meratus sudah tak lagi menggeluti hidup dengan ladang berpindah-pindah

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Banjarmasin, Warga Dayak di Pegunungan Meratus, tepatnya di kawasan Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) sudah tak lagi menggeluti hidup dengan ladang berpindah-pindah.

Karena hamparan pegunungan yang tadinya sebagai perladangan tersebut sudah berubah menjadi kawasan budidaya kayu manis.

Berdasarkan penuturan warga,  mereka sudah banyak yang meninggalkan ladang berpindah, dan kini usaha menetap dengan mengembangkan pohon kayu manis. Dan pohon tersebut mereka tanam setelah mengambil bibit yang ada dalam hutan itu sendiri.

Atas bimbingan petugas pertanian dan beberapa warga yang sempat studi banding ke Sumatera Barat, kini usaha mereka sudah membudaya sektor perkebunan kayu manis tersebut.

Setelah terjadi fluktuasi harga belakangan Warga suku Dayak Pedalaman Kalimantan Selatan, Pegunungan Meratus itu kini bisa tersenyum menikmati membaiknya harga kayu manis yang dibudidayakan mereka.
   
Bayah seorang ibu yang berada di beranda rumahnya sambil membersihkan kulit manis menuturkan bahwa sekarang masyarakat setempat lagi bergairah berproduksi kulit kayu manis lantaran harganya yang sekarang cukup tinggi.
   
"Sekarang harga kayu manis kering antara rp20 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram, dibandingkan dengan menyadap karet hanya Rp5 ribu per kilogram, jelas lebih menguntungkan mengelola kayu manis," katanya.
     
Berdasarkan keterangan, warga Dayak Pedalaman Loksado ini sejak dulu dikenal sebagai peladang berpindah, namun kemudian mereka lebih memahami untuk hidup berkebun kemudian menanam karet, lalu menanam keminting (kemiri), terakhir membudidayakan kayu manis.
    
Selain usaha tersebut banyak juga warga setempat yang beternak babi, atau mengolah tanaman bambu menjadi barang berharga.
    
Menurut mereka usaha kayu manis lebih menjanjikan lantaran pemasarannya tidak sulit, setelah banyaknya pembeli berdatangan ke kampung mereka yang berjarak sekitar 30 km dari ibukota kabupaten HSS.
   
Namun harga kayu manis sering pula berfluktuasi bahkan ada yang hanya Rp8 ribu per kilogram, tetapi sekarang sudah mencapai antara rp20 ribu hingga rp30 ribu per kilogram, dengan demikian jika usaha kayu manis sehari mampu mengupas kulit kayu lalu mengeringkan sampai lima kilogram saja maka sudah mengantongi uang Rp150 ribu kilogram.
    
Tetapi bagi pemilik lahan luas dengan kayu manis yang sudah banyak dan kayunya besar-besar, itu sehari bisa mencapai puluhan kilogram, kata Bayah.
    
Hasil pemantauan di lokasi tersebut memang terlihat dimana-mana warga banyak yang bekerja mengupas kulit kayu manis dari batangnya, sebagian lagi ibu-ibu kebanyakan membersihkan kulit tipis bagian luar dari kulit kayu  manis itu, kemudian dijemur di halaman rumah.
    
Dari pemantauan banyak pula kayu manis yang sudah kering diikat-ikat per satu golongan, konon itu sudah siap di jual, dan para pembelinya datang dari kota kemudian mengangkutnya ke berbagai pulau termasuk ke Pulau Jawa.
    
Kualitas Kedua
Berdasarkan catatan yang pernah di rilis Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup (BP2LHK) Banjarbaru, Kalimantan Selatan merupakan salah satu daerah pengembangan tanaman kayu manis jenis C. Burmanii dengan kualitas unggulan, nomor dua setelah Sumatera.
    
Beberapa daerah penghasil kayu manis di Kalimantan Selatan adalah Loksado dan Padang Batung di Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang berlokasi di sepanjang punggung Pegunungan Meratus.
   
Pengusahaan kayu manis di Loksado masih terbatas pada pengusahaan bagian kulit dari pohon kayu manisnya saja. Kegiatan yang dilakukan meliputi produksi, penjemuran kulit kayu manis, dan distribusi produk dari kulit kayu manis baik itu dalam bentuk gulungan (mentah) maupun sirup. 
   
Meski demikian, sejak tahun 2010, kayu manis dari Loksado telah mendapatkan sertifikat organik SNI. Adanya sertifikasi ini cenderung berkontribusi dalam meningkatkan pendapatan petani sehingga memotivasi petani kayu manis untuk meningkatkan produktivitasnya.
    
Di kecamatan ini hampir sebagian besar masyarakat bermata pencaharian utama sebagai petani kayu manis. Pohon kayu manis di Loksado sebagian besar berada di luar kawasan hutan, yaitu di tanah atau kebun masyarakat yang berkembang secara sporadis dari hasil budidaya.
    
Pada awalnya produksi kayu manis dilakukan oleh masyarakat Dayak setempat dengan cara meramu kayu manis di dalam hutan sepenuhnya. Keberadaan pohon kayu manis di dalam hutan yang semakin langka, mendorong masyarakat Dayak untuk membudidayakannya.
    
Budidaya kayu manis baru dimulai sekitar tahun 2000-an dengan bantuan pemerintah daerah. Budidaya kayu manis yang dipusatkan di beberapa wilayah hutan balai adat di Kecamatan Loksado ini telah dikenal baik oleh masyarakat. Teknik penanaman dikembangkan dari biji dan cabutan anakan yang tumbuh di sekitar pohon kayu manis.
   
Sebelumnya kayu manis yang dipasarkan oleh masyarakat setempat berasal dari pohon kayu manis yang tumbuh alami di dalam hutan. Pohon kayu manis hanya bisa dipanen satu kali. Untuk mengambilnya, warga harus memasuki hutan belantara, berjalan hingga berjam – jam. Dari waktu ke waktu jarak yang ditempuh semakin jauh karena jumlah pohon kayu manis semakin berkurang.
    
Hanya saja, berbeda dengan masyarakat petani kayu manis di Kalimantan Selatan, cara pemanenan kayu manis di Jambi dan Sumatera Barat dinilai lebih lestari. Di Kalimantan Selatan, pohon kayu manis ditebang dahulu baru dikuliti, sedangkan di Jambi pemanenan dilakukan dengan menyisakan potongan batang bawah (tunggul) yang akan dipelihara dan bisa bisa dipanen lagi 5-6 tahun kemudian.
   
Diinformasikan, tanaman kayu manis yang dikembangkan di Indonesia sebagian besar adalah jenis Cinnamomum burmanii Blume. Jenis kayu manis ini merupakan tanaman asli Indonesia. Hasil utama kayu manis adalah kulit batang dan dahan, sedang hasil ikutannya adalah ranting dan daun.
   
Komoditas ini selain digunakan sebagai rempah, hasil olahannya seperti minyak atsiri dan oleoresin banyak dimanfaatkan dalam industri-industri farmasi, kosmetik, makanan, minuman, rokok, dan sebagainya.

Reporter : Hasan Z
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018