Kamis, 15 November 2018


Yuk Konsumsi Mie Nusantara, Mie Pangan Lokal

08 Nov 2018, 06:25 WIBEditor : Yulianto

Kepala Balitbangtan, M. Syakir (kiri) bersama Wakil Ketua Komisi IV, Michael Wattimena dan Kepala BKP, Agung Hendriadi | Sumber Foto:Yulianto

Pemerintah undang pelaku usaha kembangan industri pangan lokal

 

TABLOIDSINARTANI.CON, Bogor--Pemerintah meluncurkan mie nusantara. Mie berbahan baku pangan lokal, seperti sagu, jagung dan shorgum. Dengan pengembangan mie berbahab baku pangan lokal ini diharapkan mengurangi ketergantungan produk pangan berbahan baku impor.

Peluncuran dilakukan Kepala Badan Litbang Pertanian, M. Syakir usai membuka Pangan Lokal Fiesta di Bogor, Rabu (10/11). Dalam kesempatan itu juga hadir Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Michael Wattimen, mantan Menteri Pertanian, Justika Baharsjah, Kepala Badan Ketahanan Pangan, Agung Hendriadi serta pemda penghasil pangan lokal.

Peluncuran mie nusantara tersebut juga diramaikan dengan mengonsumsi mie nusantara bersama 1000 anak sekolah. Mie nusantara yang terbuat dari sagu, hanjeli, sorghum, jagung, dan ubi kayu disajikan menjadi hidangan favorit semua masyarakat yaitu bakso.

M. Syakir mengatakan, Badan Litbang Pertanian telah menyiapkan teknologi pengolahan pangan lokal. Karena itu pihaknya mengundang kalangan industri untuk bekerjasama mengembangan industri produk pangan berbahan baku lokal.

“Ini memperlihatkan bahwa kita siap dengan teknologi. Membuktikan juga Indonesia bisa membuat mie nono terigu. Saat ini pemerintah memang bukan lagi sebatas promosi tapi harus langsung berbuat,” katanya.

Menurutnya, ketergantungan masyarakat terhadap terigu saat ini semakin meningkat dari tahun ke tahun.  Terlihat dari kenaikan konsumsi terigu nasional dari 15,5 kg/kapita/tahun pada tahun 2008 menjadi 25 kg/kapita/tahun pada tahun 2018. Artinya, meningkat 1 kg/kapita/tahun. 

Hal ini tentunya membuat beban devisa negara semakin meningkat. Apalagi, bahan baku terigu yaitu merupakan produk impor. Sementara di sisi lain, Indonesia sebagai negara terbesar ke dua di dunia dalam keragaman hayati memiliki berbagai sumber daya lokal yang bisa dikembangkan sebagai pangan pokok.  “Karena itu daerah yang selama ini pernah mengonsumsi pangan lokal akan kita bangkitkan kembali,” ujarnya.

Sementara itu Agung Hendriadi mengakui, selama ini yang dilakukan sebatas kampanye diversifikasi pangan lokal. Karena itu saat ini sudah seharusnya mulai berbuat. Apalagi industri pangan di Indonesia sangat besar, bahkan sekitar 6,5 persen kontribusinya ke PDB. “Ironisnya industri pangan tersebut menggunakan bahan baku impor,” ujarnya.

Agung mencontohkan, Pemerintah Vietnam telah mampu mendorong industri dalam negeri mereka menggunakan bahan baku lokal. Dengan potensi sumberdaya alam pangan lokal, Agung optimis mampu melakukan hal yang sama. “Paling tidak 10% penggunaan bahan baku pangan impor bisa tergantikan dengan pangan lokal,” tegasnya. *

 

Reporter : Yul
BERITA TERKAIT

E-PAPER TABLOID SINAR TANI

Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018