Kamis, 15 November 2018


Lihat Sisi Lain, Impor Jagung Sebagai Cadangan Pangan Nasional

08 Nov 2018, 16:55 WIBEditor : Gesha

Produksi Jagungdari Brazil diperkirakan masuk pada bulan Desember. Impor tersebut harus disikapi sebagai bentuk cadangan pangan pemerintah | Sumber Foto:DeltafarmEkspress

Akui saja, tidak perlu alergi akan Impor

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta ----Polemik akan impor jagung tengah mencuat karena harga pakan yang kian melambung. Beberapa pihak sempat kisruh dan menyatakan menolak impor namun tidak memberikan solusi yang kongkrit. Padahal dilihat dari sisi lain, impor jagung bisa dipandang sebagai bentuk cadangan pangan nasional.

Tingginya harga pakan disebabkan karena harga jagung yang melambung. Untuk menurunkan harga pakan, pemerintah membuka keran impor jagung sebanyak 100 ribu ton. Impor jagung ini rencananya akan datang dari Benua Amerika (Argentina dan Brazil) dengan menunjuk Perum Bulog sebagai penanggung jawab impornya.

“Diperkirakan jagung impor ini akan datang ke Indonesia akhir bulan Januari atau awal Februari,” kata Direktur Eksekutif Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka), Yeka Hendra Fatika saat Konferensi Pers ‘Darurat Jagung’ di Jakarta, Kamis (8/11).

Diputuskannya Indonesia akan mengimpor jagung 100 ribu ton, tertuang di dalam Rakortas 2 November 2018 yang diadakan di Kementerian Kordinator Bidang Perekonomian. Dasar dibukanya keran impor berdasarkan keterangan dari Kementerian Pertanian adalah untuk membantu peternak rakyat akibat harga pakan mahal.

“Harusnya impor jagung ini dipandang sebagai cadangan pangan nasional karena melihat dari musim hujan yang mundur kemungkinan panen raya jagung akan mundur dan akan menyebabkan supply jagung terbatas. Dengan demikian harga pakan meningkat menyebabkan harga telur dan ayam di pasar naik, tentu akan menjadi polemik,” jelas Yeka.

Agar impor jagung kali ini tidak menjadi polemik, Yeka berpendapat ada beberapa hal yang harus diperhatikan Bulog. Bulog harus memastikan jagung yang diimpor merupakan jagung yang berkualitas, harus memperhatikan penyimpanan jagungnya agar kualitasnya tidak menurun, distribusinya harus tepat, dan didistribusikan sebelum panen raya.

“Mekanisme pembayarannya pun harus ditaur sedemikain rupa, sehingga tidak memberatkan peternak rakyat. Kalau tidak nanti peternak malah tidak mau membeli jagung impor,” saran Yeka.

Selama periode 2013-2018, impor jagung rata-rata mengalami penurunan 13,8 persen per tahun. Tetapi sayangnya impor gandum untuk pakan mengalami peningkatan yang cukup tinggi, yakni 296,5 persen per tahun. Melihat perhitungan Kementerian Pertanian (Kementan), selama periode 2016-2018 dengan pengendalian impor jagung ada akumulasi penghematan impor jagung sebesar 9,2 juta ton.

"Tetapi setelah kami telaah, impor gandum yang mengalami peningkatan menyebabkan akumulasi pemborosan sebanyak 6,35 juta ton dalam waktu periode yang sama. Jadi kalau dirupiahkan, pengendalian impor jagung menghemat Rp 33,12 trilyun, tetapi untuk impor gandum terjadi pemborosan sebanyak Rp 28,58 trilyun,” jelas Yeka.

Baca Juga : Indonesia Ekspor Jagung 372 Ribu Ton dan Stop Impor 9,2 Juta Ton

Impor Jagung hanya Supplement

Mengapa Rekomendasi Impor Jagung Keluar? Ini Penyebabnya

Jagung Impor untuk Kebutuhan Peternak Mandiri

Dengan adanya kebijakan pengendalian impor jagung, memang menyebabkan supply jagung untuk pakan banyak didapat dari dalam negeri. Tetapi sayangnya berdampak juga terhadap peningkatan harga pakan. Yeka mengatakan selama 2016-2018 akumulasi kenaikan harga pakan rata-rata sebesar Rp 1.200 per kg, sehingga pendapatan petani meningkat Rp 300 per kg.

“Tetapi kalau kita hitung-hitung lagi, kebijakan pengendalian impor ini telah mengakibatkan kerugian ekonomi sebesar Rp 52,16 trilyun selama periode 2016-2018 atau Rp 17,39 trilyun per tahun. Itu dihitung dari biaya impor gandum, kenaikan harga pakan, subsidi benih dan pupuk dikurangi dengan keuntungan pengendalian impor jagung dan peningkatan pendapatan petani jagung,” bebernya.

Presiden Peternak Ayam Petelur (Layer) Nasional, Musbar Mesdi untuk saat ini ketersediaan jagung untuk pakan tidak ada, padahal tertuang di dalam peraturan bahwa jagung merupakan salahsatu pangan pokok yang supplynya harus selalu ada dan harganya sesuai.

Direktur Eksekutif Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka), Yeka Hendra Fatika dan Presiden Peternak Ayam Petelur (Layer) Nasional, Musbar Mesdi

“Ini tertuang di dalam beberapa peraturan pemerintah. Salahsatunya adalah Peraturan Menteri Perdagangan No.58/2018 tentang Penetapan Harga Acuan Pembelian di Petani dan Harga Acuan Penjualan di Konsumen bahwa harga jagung di tingkat petani paling tinggi Rp 4 ribu per kg. Tetapi faktanya di Jawa Barat harga jagung di tingkat petani Rp 5.800-6.000 per kg. Kalau harga jagung tidak dikendalikan, kemungkinan harga telur ayam di konsumen dapat menembus Rp 30 ribu per kg,” jelasnya.

Dengan rencana impor jagung yang akan dilakukan pemerintah, menurut Musbar para peternak ayam petelur menyambut baik karena akan mengurangi harga pakan. Dengan harga pakan yang sesuai akan berimbas ke harga telur nantinya.

“Peternak ayam petelur ini sentranya ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dengan persentase paling tinggi terdapat di wilayah Jawa Timur (40 persen). Jadi kalau jagung impor yang 100 ribu ton ini datang, 50 persennya akan dialokasikan ke Jawa Timur,” ungkapnya.

 

 

 

 

 

Reporter : Clara
BERITA TERKAIT

E-PAPER TABLOID SINAR TANI

Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018