Rabu, 12 Desember 2018


Berkat RAISA, Panen Padi di Banyuasin Berkali Lipat

14 Nov 2018, 13:58 WIBEditor : Gesha

Wakil Bupati Slamet Seno Sentono didampingi Kepala BB Padi Priatna Sasmita melihat langsung keragaan tanaman padi Inpara dengan penerapan teknologi RAISA di Desa Sumber Jaya, Kecamatan Tungkal Ilir, Kabupaten Banyuasin, Prov. Sumatera Selatan | Sumber Foto:HUMAS KEMENTAN

Teknologi RAISA masih dikembangkan dalam bentuk demplot farm

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Banyuasin --- Teknologi produksi padi yang khusus diterapkan pada lahan pasang surut dengan nama RAISA ternyata mampu meningkatkan hasil panen padi di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Dengan menggunakan demplot farm (demfarm) seluas 50 hektar, diharapkan teknologi ini bisa mulai diterapkan petani.

“Sumatera Selatan mempunyai potensi cukup luas bagi pembangunan pertanian, khususnya pengembangan pertanian lahan rawa pasang surut. Pemanfaatan lahan rawa pasang surut untuk budi daya tanaman pangan, khususnya padi, menghadapi beberapa hambatan dan masalah, di antaranya kesuburan tanah yang rendah, reaksi tanah yang masam, adanya pirit, tingginya kadar Al, Fe, Mn, dan asam organik, kahat P, dan lain-lain,” kata Kepala BPTP Sumatera Selatan, Amir Pohan.

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) sendiri sudah punya teknologi produksi yang cocok untuk dikembangkan di tipe lahan pasang surut tersebut, yaitu teknologi sistem produksi padi sawah pasang surut intensif, super dan aktual (RAISA). Bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan, demfarm seluas 50 hektar dilakukan di  Desa Sukaraja, Kecamatan Tungkal Ilir, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.

"Dari tiga varietas Inpara 2, Inpara 3, dan Inpara 8 yang dipanen diperoleh hasil produksi rata-rata 4,6-8,2 t/ha atau ada peningkatan hasil 1-2 t/ha dibanding budidaya cara petani," beber Kepala BB Padi Priatna Sasmita.

Lebih lanjut Priatna menjelaskan bahwa teknologi RAISA merupakan rangkaian komponen teknologi yang pada prinsipnya mengambil dari Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi pasang surut.

Namun demikian, komponennya menjadi aktual karena menggunakan hasil inovasi Balitbangtan terkini untuk pengelolaan dan sistem produksi padi di lahan rawa pasang surut. "Dikatakan intensif karena teknologi ini mendorong peningkatan hasil dan peluang peningkatan indeks pertanaman dari 1 menjadi 2 atau 3 kali," tutur Priatna.

Kabupaten Banyuasin terkenal sebagai penyumbang terbesar produksi padi di Sumatera Selatan tahun 2017 sebesar 26,41 persen produksi padi Sumatera Selatan berasal dari Banyuasin. Produksi padi di Kabupaten Banyuasin pada tahun 2017 sebesar 1.305.533 ton GKG, dari produksi tersebut Banyuasin telah mencapai surplus 733.352 ton.

Pengelolaan lahan yang tepat melalui penerapan inovasi teknologi yang sesuai, diharapkan bisa mendongkrak produksi padi di Kabupaten Banyuasin dan umumnya Kabupaten-kabupaten lain yang memiliki lahan rawa pasang surut sehingga Sumatera Selatan sebagai lumbung pangan nasional bisa terwujud.

Upaya lain yang telah dilakukan BB Padi adalah menerapkan teknologi jarwo super untuk lahan sawah irigasi, largo super untuk lahan kering, kering masam, naungan terbuka dan dataran tinggi, serta Tepat sae- Isabela untuk lahan tadah hujan.

 

Reporter : Kontributor
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018