Minggu, 21 Juli 2019


Dua Strategi Entaskan Rawan Pangan

17 Nov 2018, 08:23 WIBEditor : Yulianto

Konsep KRPL | Sumber Foto:Yulianto

Untuk mengentaskan kerawanan pangan yang terpenting adalah akses pangan masyarakat

 

TABLOIDSINARTANI.COM,Jakarta---Beberapa wilayah Indonesia terdeteksi masih rawan dan rentan rawan pangan. Untuk mengentaskannya, Kementerian Pertanian menyiapkan strategi khusus. Setidaknya ada dua strategi yakni mengembangkan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) dan Kawasan Mandiri Pangan.

Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP), Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi mengatakan, dari hasil identifikasi daerah-daerah rawan pangan dan rentan rawan pangan umumnya berada di wilayah Indonesia Timur yakni Papua dan NTT. Secara umum persoalan rentan rawan pangan, seperti di Papua adalah masalah infrastruktur transportasi.

Intervensi apa yang bisa kita lakukan disana? Ini semua tidak bisa diselesaikan Kementerian Pertanian. Tapi yang kita bisa selesaikan dulu adalah bagaimana masyarakat bisa menyediakan pangan sendiri, beragama bergizi dan seimbang,” tuturnya.

Untuk itu lanjut Agung, program BKP ditujukan ke arah penyediaan pangan. Dengan intervensi beberapa program, diharapkan masyarakat di daerah rawan dan rentan rawan pangan mampu menyediakan pangan sendiri. Ada dua kegiatan yang pemerintah lakukan yakni, pengembangkan KRPL dan Kawasan Mandiri Pangan.

Tujuan kegiatan KRPL adalah meningkatkan akses pangan masyarakat melalui pemberdayaan wanita rumah tangga secara bersama mengusahakan pekarangan sebagai sumber pangan dan gizi keluarga.  Sejak 2015 hingga kini sudah ada sekitar 8.814 kelompok wanita yang mengembangkan KRPL dengan melibatkan 264.420 wanita rumah tangga.

“Jika akses pangan lebih mudah, maka kemudian terjadi peningkatan pendapatan keluarga masyarakat,” katanya. Dari hasil evaluasi program KRPL yang sudah berjalan di beberapa daerah, terlihat dari pengeluaran keluarga yang berkurang hingga Rp750 ribu-1,5 juta/bulan/rumah tangga.

Selain itu terjadi diversifikasi pangan berbasis sumberdaya pangan lokal. Skor PPH juga meningkat dari 85,2 tahun 2015 menjadi 90,4 tahun 2017. Artinya makanan masyarakat lebih bergizi. “Untuk tahun 2018, kita akan bangun 556 KRPL untuk mendukung penanganan stunting. Dari hasil kajian dengan KRPL tingkat stunting menurun dari 37,2% pada tahun 2013 menjadi 30,8% pada tahun 2018,” ungkap Agung.

Bagaimana dengan program Kawasan Mandiri Pangan (KMP)? Agung menceritakan, kegiatan ini berbeda dengan KRPL. Tujuan kegiatan KMP adalah memperkuat masyarakat di daerah rantan rawan pangan agar lebih mandiri dalam mpenyediaan pangan. Saat ini totalnya ada 97 KMP di 23 provinsi, 76 kabupaten dan 78 kecamatan. Dengan melibatkan 408 desa dan 428 kelompok.

Dalam program KMP, pemerintah memberikan modal sebesar Rp 100 juta kepada tiap kelompok untuk menggarap lahan yang berada dalam sebauh kawasan. “Jadi yang digarap bukan pekarangan, tapi sebuah kawasan. Untuk komoditasnya, terserah mereka,” kata Agung.

Agung menjelaskan, setelah program diluncurkan tahun 2015 dengan intervensi pemerintah ada peningkatan kabupaten yang rentan pangan naik menjadi tidak rentan sebanyak 75 kabupaten. Kemudian yang sebelumnya tahan pangan menjadi sangat tahan pangan ada 102 kabupaten.

Ini kita laksanakan dalam empat tahun terakhir. HasilnyaSumatera yang sebelumnya ada sebagian kuning, tapi kini berubah hijau. Kalimantan sebelumnya banyak yang kuning, tapi kini sudah berubah juga jadi hijau,” jelas Agung.

 

Reporter : Yul
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018