Rabu, 12 Desember 2018


BKP Kementan Ajak Perguruan Tinggi Kembangkan Pangan Lokal

30 Nov 2018, 22:00 WIBEditor : Gesha

Pengembangan pangan lokal membutuhkan partisipasi semua pihak tak terkecuali perguruan tinggi | Sumber Foto:HUMAS BKP

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Magelang --- Pengembangan pangan berbasis sumberdaya lokal tentu tidak bisa hanya dilakukan oleh satu pihak saja. Perlu bergandengan tangan antara pemerintah dan berbagai pihak, salah satunya perguruan tinggi.

Pangan merupakan soal hidup-matinya suatu bangsa, apabila kebutuhan pangan rakyat tidak dipenuhi maka malapetaka; oleh karena itu perlu usaha secara besar-besaran, radikal, dan revolusioner.

Demikian kutipan Presiden RI pertama yang dijelaskan oleh Kepala Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan dari Badan Ketahanan Pangan (BKP) Benny Rachman, dalam Seminar Nasional Merapi Integrated Sustainable Agriculture di Auditorium Universitas Tidar, Magelang-Jawa Tengah, Kamis (29/11).

Seminar yang diselenggarakan Fakultas Pertanian UNTIDAR ini untuk mengetahui kondisi ketahanan pangan dan pengembangan pangan berbasis sumberdaya lokal di Indonesia.

Benny yang datang mewakili Kepala Badan Ketahanan Pangan memberikan masukan kepada panitia dan peserta yang hadir agar pengembangan pangan lokal benar-benar dilakukan from farm to table, bukan hanya sebatas teori saja.

"Coba bapak/ibu buka snack tadi, isinya apa? ada Roti, Risoles, Dadar Gulung yang notabene berasal dari gandum dan tepung beras. Mulai saat ini isi perut harus kita ubah, pangan lokal harus digalakkan. Data BPS menyebutkan bahwa konsumsi padi-padian kita berlebih. setelah saya cek ternyata benar, dan ini salah satunya (sambil menunjuk makanan tadi yang dihidangkan)," ujar Benny yang disambut tepuk tangan para peserta.

Senada yang disampaikan Benny, Salah satu mahasiswa seminar, Ardi menyampaikan bahwa potensi pangan lokal kita tinggi tapi jarang dimanfaatkan. "Saya sebagai mahasiswa juga heran kenapa setiap acara-acara kita banyak konsumsi gandum dan beras, padahal pangan olahan kita melimpah. Mohon kedepan kita semua kembangkan pangan olahan kita sendiri," sambut Ardi yang disambut apresiasi oleh peserta.

Benny melanjutkan bahwa dalam kontek ketahanan pangan dan pengembangan pangan lokal, bangsa ini tengah menghadapi beberapa tantangan seperti infrastruktur, subsidi, sumberdaya petani,  konversi lahan, koordinasi lintas sektor, dan pembiayaan petani, kelembagaan petani, iklim, dan kualitas panen yang perlu ditingkatkan.

"Berbagai terobosan telah kita lakukan, alat mesin kita tingkatkan, jaringan irigasi kita perbaiki, subsidi tepat sasaran sesuai kebutuhan petani, program cetak sawah hingga upaya khusus terus kita tingkatkan," jelas Benny

Upaya pembangunan ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan petani juga dilakukan melalui peningkatan nilai tambah komoditas yang berdaya saing.

"Kita ingin daya saing komoditas pertanian meningkat sehingga mampu memperkuat pondasi ekonomi dan peningkatan nilai tambah bagi petani. Untuk itu, Pemerintah melalui melalui Kepmentan 472/2018 telah memetakan lokasi kawasan pertanian yang tersebar di seluruh Indonesia dari provinsi hingga kabupaten/kota," jelas Benny

Berbagai terobosan dan program yang telah dilakukan oleh Kementerian Pertanian telah membuahkan hasil yang positif. Kualitas konsumsi pangan juga meningkat yang diindikasikan dari skor Pola Pangan Harapan.

"Akhir tahun 2017 kemarin skor kita sudah mencapai 90,4 atau 106,4 persen terhadap Angka Kecukupan Energi (AKE), tapi walaupun demikian harus kita tingkakan ," imbuh Benny.

Karena itu, Benny mengajak seluruh narasumber, akademisi, dan civitas akademika dari UNTIDAR, UNSOED,  Universitas Brawijaya, UMM Malang, UMM Magelang untuk bersama-sama meningkatkan pengembangan pangan lokal di Indonesia.

"Disini ada pak dekan, bapak/ibu dosen dan mahasiswa agronomi dan agroteknologi, saya yakin di tangan anda semua pangan lokal akan semakin berjaya dimasa mendatang," pungkas Benny.

 

 

Reporter : Kontributor
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018