Sabtu, 24 Agustus 2019


Pangan Non Pajale MASIH ADA PELUANG

17 Des 2018, 11:25 WIBEditor : Yul

Olahan pangan non pajale

TABLOIDSINARTANI.COM -- Pemerintah saat ini mendorong terus peningkatan produksi pangan, khususnya padi, jagung dan kedelai (pajale). Namun upaya menggenjot laju produksi pangan tak semudah membalikkan telapak tangan.

Banyak tantangan. Bukan hanya persaingan penggunaan lahan antara komoditas tersebut, tapi juga laju konversi lahan yang terus meningkat. Belum lagi perubahan iklim yang kian sulit diprediksi. Sementara di sisi lain, kebutuhan pangan dipastikan makin meningkat.

Bagaimana caranya agar ketersediaan pangan tetap terjaga? Untuk itu diperlukan alternatif baru dalam pemenuhan pangan. Salah satunya dengan menggerakkan kembali diversifikasi pangan ke non pajale.

Kepala Bidang (Kabid) Ketersediaan Pangan, BKP Kementan, Rahmi Widiriani mengatakan, data pola pangan harapan (PPH) masyarakat Indonesia tahun 2018 (angka sementara) sudah mencapai 106?ri angka kecukupan gizi. “Pola tersebut bagus, tetapi jika dilihat per komoditas penyusunnya, pangan dari jenis padi-padian masih mendominasi sekitar 62,1%,” ujarnya.

Sedangkan komoditas non padi lainnya seperti kacang-kacangan, umbi-umbian, buah atau biji berminyak bahkan produk hewani lainnya masih berada di bawah ideal PPH. Misalnya umbi-umbian, ideal konsumsi mencapai 6%, saat ini baru mencapai 2%.

Adapun dukungan kegiatan pengembangan tanaman pangan non pajale di Ditjen Tanaman Pangan terdiri dari peningkatan produksi ubi kayu seluas 1.500 ha, produksi kacang hijau seluas 5 ribu ha, produksi ubi jalar seluas 500 ha, aneka kacang umbi lainnya seluas 500 ha. Selain itu ada pula pengembangan gandum dan shorgum masing-masing seluas 250 ha.

Ketersediaan dan Kesadaran Konsumsi

Jika melihat kekayaan sumberdaya genetik, khususnya pangan lokal di Indonesia, maka pastinya tidak akan diragukan lagi. Sayangnya, perhatian terhadap pengembangan pangan lokal masih minim.

Reporter : Gsh
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018