Senin, 18 Februari 2019


Inilah Strategi Peningkatan Produksi di Tahun 2019

17 Jan 2019, 09:38 WIBEditor : Yul

Dirjen Tanaman Pangan, Sumardjo Gatot Irianto (kanan) bersama mantan Ketua Umum HKTI, Siswono Yudho Husodo saat acara Bakpia di Jakarta, Jumat (11/1)

TABLOIDSINARTANI.COM -- Kementerian Pertanian optimis peluang peningkatan produksi pangan pada tahun 2019 terbuka lebar. Banyak potensi yang bisa dioptimalkan untuk mendongkrak produksi pangan. Apa strateginya? 

Dirjan Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Sumardjo Gatot Irianto mengatakan, potensi tambahan produksi 2019 peluangnya sangat besar. Diantaranya adalah pengembangan padi di lahan rawa pasang surut/rawa lebak; pemanfaatan lahan kering untuk padi, jagung dan kedelai; pengembangan budidaya tumpang sari padi, jagung dan kedelai; perbaikan teknologi benih, pupuk, budidaya, penanganan pascapanen, dan pengamanan produksi dari gangguan organisme pengganggu tumbuhan (OPT).

Untuk perluasan areal tanam, khususnya di lahan rawa pasang surut dan lebak tahun ini pemerintah menargetkan seluas 500 ribu ha di Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan. Guna mencapai target tersebut, pemerintah telah meluncurkan program Serasi (Selamatkan Rawa, Rakyat Sejahtera).

“Kita akan optimalisasi lahan rawa. Jika semula hanya satu kali tanam, maka dengan adanya program ini bisa menjadi dua kali tanam setahun. Diharapkan adanya program Serasi dapat meningkatkan indeks pertanaman dan mengembangkan korporasi petani,” tuturnya pada Bincang Asik Pertanian Indonesia (BAKPIA) bertema Program dan Kebijakan Tanaman Pangan untuk Peningkatan Kesejahteraan Petani, Jakarta, Jumat (11/1).

Di samping perluasan areal tanam, upaya yang dilakukan Ditjen Tanaman Pangan adalah melalui peningkatan produktivitas, yaitu dengan peningkatan penggunaan benih varietas unggul dengan potensi produksi yang tinggi, pengembangan padi hibrida, anjuran penggunaan pupuk berimbang, pengawalan pertanaman melalui pengendalian OPT serta menekan kehilangan hasil melalui penanganan pascapanen yang baik.

Untuk di lahan kering, Gatot mengatakan, pemerintah akan mendorong penanaman dengan sistem tabur karena sangat efektif menekan biaya usaha tani, khususnya untuk tenaga kerja. Dengan sistem tanam tabur hanya memakan biaya Rp 100 ribu/ha, dibandingkan dengan transplanter yang mencapai nilai Rp 1,2 juta/ha. Tentunya, waktu yang digunakan petani untuk masa penanaman juga lebih cepat,” ujarnya.

Sistem tabur juga dapat meningkatkan produktivitas pertanian. Sebab, dapat menaikkan populasi tanaman semakin rapat dan jumlahnya meningkat. Pada sistem tanam tabur, menurut Gatot, benih padi yang digunakan mencapai 70-80 kg/ha jauh lebih banyak dari biasanya yang hanya 25 kg/ha. “Meskipun ada penurunan anakan dari 15 hingga sekitar hanya 7, namun tidak menjadi masalah karena populasinya banyak,” tuturnya.

Selain di rawa, ungkap Gatot, perluasan areal tanam juga dilakukan melalui pengembangan padi di lahan kering. Diantaranya dengan sistem budidaya tumpang sari, pengembangan padi gogo, integrasi dengan lahan perkebunan dan perhutani, serta bukaan lahan baru.

Tumpang Sari Tanaman Pangan

Tumpang sari tanaman pangan (Turiman) menurut Gatot, sebagai cara untuk memanfaatkan persaingan lahan antar komoditas. Dengan sistem tumpangsari diharapkan akan menambah populasi ketiga tanaman tersebut. Pada 2019 ini ditargetkan tumpang sari seluas 1,05 juta ha atau setara luas pertanaman 2,1 juta ha.

“Selama ini yang terjadi di daerah, jika harga jagung naik, maka akan kesulitan tanam padi dan kedelai. Dengan tumpangsari persaingan penggunaan lahan antara padi, jagung dan kedelai bisa diminimalisir,” ujarnya.

Pola tumpangsari juga bisa menjadi salah satu mitigasi resiko terjadi kegagalan panen. Misalnya, jika tanaman padi terserang hama, maka petani masih ada penyangganya yakni dari tanaman jagung atau kedelai. Kelebihan tumpangsari, misalnya padi dan kedelai, maka tanaman kedelai bisa menjadi refugia atau tanaman tempat bersarangnya musuh hama wereng yang selama ini menyerang tanaman padi.

Menurut Gatot, pada lahan sawah dengan keterbatasan air, pola tumpangsari dapat dilakukan pada musim kemarau (MK I atau MK II). Ada beberapa rekomendasi pola tanam pada akhir musim hujan di lahan sawah. Jika sebelumnya petani menanam dengan pola padi-palawija dapat ditingkatkan menjadi padi-padi gogo tumpang sari dengan jagung. Bisa juga padi-padi gogo tumpang sari dengan kedelai atau padi- kedelai tumpang sari dengan jagung.

Sementara di lahan yang sudah terbiasa padi-padi-palawija dapat ditingkatkan menjadi padi-padi-padi gogo tumpang sari dengan jagung. Bisa dengan pola padi-padi-padi gogo tumpang sari dengan kedelai. Petani juga bisa menanam dengan cara padi-padi-kedelai tumpang sari dengan jagung.

Adapun sistem tanam lahan kering, pola tumpangsari dapat dilakukan pada musim hujan (MH). Pada awal musim hujan di lahan kering dengan pengaturan pola tanam dari  sebelumnya padi/palawija-palawija dapat ditingkatkan menjadi padi gogo tumpang sari dengan jagung, kemudian pada masa tanam berikutnya baru tanam palawija. Cara lainnya adalah padi gogo dan kedelai (tumpang sari)-palawija. Bisa juga kedelai dan jagung (tumpangsari) – palawija.

Pelaksanaan Upaya Khusus (UPSUS) padi, jagung dan kedelai (Pajale) sejak 2015 membuktikan kenaikan tambah luas tanam padi sebesar 2 juta ha dari 14 juta ha tahun 2014 menjadi 16 juta ha pada 2018. Data Ditjen Tanaman Pangan, produksi padi  83,04 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara dengan 48,3 juta ton beras. Angka ini tercatat masih surplus karena konsumsinya lebih kecil sebesar 30,4 juta ton beras.

Begitu juga dengan jagung, tahun 2018 produksi jagung 30,05 juta ton pipilan kering (PK), sedangkan perhitungan kebutuhan sekitar 15,58 juta ton PK. Masih ada perhitungan surplus sekitar 14 juta ton. Artinya swasembada padi dan jagung sudah bisa kita capai.

Bahkan Gatot optimis, proyeksi produksi 2019 akan meningkat lebih tinggi lagi di banding 2018. Apalagi dengan dukungan program peningkatan produksi, perbaikan prasarana dan sarana, penanganan pascapanen dan pengamanan produksi.

Reporter : Tia/Putri
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018