Investor dari Amerika Serikat dan Korea berminat untuk budidaya ubi kayu atau singkong di Indonesia. Luar pulau Jawa, seperti Sumatera dan Kalimantan masih memiliki potensi lahan untuk perluasan lahan kebun singkong.
“Awal April 2014 ini ada perusahaan Amerika melakukan penjajakan untuk pengembangan ubi kayu, namun baru sebatas penjajakan. Untuk potensi pengembangan singkong terletak di Sumatera Selatan dan Jambi,” kata Direktur Budidaya Aneka Kacang dan Umbi, Ditjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Maman Suherman.
Sebelumnya lanjut Maman Suherman, Korea juga pernah melakukan penjajakan serupa. Negara Gingseng itu melakukan penjajakan untuk pengembangan ubi kayu, di Indonesia, namun baru sebatas itu saja. Calon-calon investor itu menjajaki potensi lahan, kondisi transportasi, bibit, pupuk dan lainnya.
“Kita arahkan mereka bermitra dengan swasta nasional. Kita juga arahkan para calon investor itu ke areal-areal yang bisa dikembangkan seperti Sumatera Selatan dan Jambi yang saat ini lahannya masih berupa semak belukar. Di Kalimantan Timur juga ada tapi data luasannya belum kami kantongi,” katanya. Di Sumatera Selatan potensi lahan untuk budidaya ubi kayu mencapai luasan 15 ribu hektar. Di Jambi seluas 7.500 hektar.
“Produksi singkong di Indonesia sekarang perlu ditingkatkan minimal dua kali lipat agar bisa memenuhi permintaan pasar baik lokal maupun impor. Hal itu bisa terlaksana dengan dilakukan dengan menerapkan cara budidaya yang baik,” tukasnya.
Pada 2013 luas areal tanaman ubi kayu mencapai 1,06 juta hektar, dengan produktivitas 23,8 juta ton. Produktivitas itu akan ditingkatkan oleh pemerintah minimal menjadi 25 ton per hektar.
Yoyok Wastoyo Sekretaris Jenderal Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) mengatakan MSI siap diajak Kementerian Pertanian untuk bersama-sama bergerak melakukan perluasan kebun singkong di Indonesia.
"Kami telah diminta kerjasama dengan Pertamina untuk pengembangan bio etanol," tambahnya.
Peluang Pasar
Peluang pasar singkong masih terbuka lebar. Yoyok mengungkapkan Korea meminta kepada kita untuk mengirimkan singkong 5 ribu ton setiap bulan. Kerjasama juga diminta oleh PT. Indofood untuk 1,5 juta ton singkong per tahun.
"Kerjasama dengan Kimia Farma dengan PT. AKPI Maju Bersama juga terjalin untuk tumpangsari," kata pria yang juga Direktur Operasional PT. Aliansi Koperasi Petani Indonesia.
Yoyok mengatakan MSI segera akan membuat koperasi singkong yang tugasnya memanajemen dan mengorganisir pengembangan kebun singkong seluruh Indonesia. Tugas lainnya yaitu membantu memanajemen keuangan petani dan memberikan simpan pinjam. Hal tersebut dilakukan mengingat tidak selamanya petani memperoleh keuntungan dari hasil panennya seperti tanaman terkena bencana alam, gagal panen ataupun produktivitas rendah.
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto