Selasa, 21 Mei 2019


Mengambil Manfaat dari Perubahan Iklim, Beberapa Daerah Berhasil Meningkatkan Produksi Pangan

29 Jan 2019, 11:28 WIBEditor : Yul

Peran air sangat menentukan hasil produksi padi

TABLOIDSINARTANI.COM, JAKARTA -- Perubahan iklim seringkali dimaknai sebagai ancaman yang dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di bidang pertanian. Pada pertanian, perubahan iklim yang sangat berpengaruh adalah perubahan curah hujan.

Pada komoditas tanaman pangan, memang peran air sangat menentukan hasil produksi padi, jagung dan kedelai yang saat ini menjadi program prioritas pemerintah. Perubahan curah hujan dapat dimaknai jumlah hari hujan (HH) yang bertambah berarti musim hujan yang semakin panjang, atau jumlah hari hujan yang pendek. Kondisi itu cenderung menyebabkan terjadinya kemarau panjang atau kelangkaan air untuk budidaya tanaman.

Pada kondisi musim yang normal, sebagian besar wilayah Indonesia dibagi menjadi musim penghujan yang terjadi pada Oktober-Maret dan musim kemarau pada April-September. Keberaturan iklim tersebut telah menjadikan Musim Tanam (MT) dibagi menjadi musim hujan dan musim kemarau. Para petani telah menyesuaikan waktu melakukan budidaya tanaman pada kedua musim tersebut.

Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Edy Purnawan mengatakan, dampak perubahan iklim (kekeringan/kebanjiran) dapat menyebabkan gagal panen, serta keterlambatan tanam. Namun perubahan iklim ekstrim tidak selalu merugikan, pada lokasi dan kondisi tertentu bahkan bisa menguntungkan. “Hal ini menjadi peluang yang bagus bagi petugas dan petani. Hal ini tentu saja berlaku pada lokasi dengan kondisi yang spesifik,” katanya.

Musim Hujan yang Panjang

Edy menegaskan, pada daerah tertentu, perubahan iklim ekstrim menyebabkan musim hujan yang panjang, sedangkan musim kemarau menjadi lebih pendek. Kondisi itu dapat menjadi peluang bagi peningkatan produksi tanaman pangan.

Contohnya di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, pada kondisi iklim yang normal umumnya MT I pada November-Desember dan MT II pada akhir Mei-Juni. Setelah memasuki fase generatif pada MT II curah hujan sudah berkurang sehingga harus dilakukan pompanisasi hingga fase pemasakan.

Hal ini menyebabkan produksi padi jauh lebih rendah dari pada MT I. Sementara biaya untuk pompanisasi cukup besar. Namun sejak terjadi perubahan iklim ekstrim yang menyebabkan musim hujan lebih panjang, areal persawahan di sekitarnya tidak menggunakan lagi pompanisasi karena musim hujan lebih panjang, bahkan produksinya sama atau lebih tinggi dari MT I.

Sementara menurut Edy, pada musim hujan 2016/2017 lokasi yang potensi untuk padi gogo seperti Bengkulu, Kalimantan Tengah mengalami panen yang cukup baik. Penanaman padi gogo bisa lebih awal, serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) berkurang, sehingga keuntungan yang lebih besar bisa diperoleh petani. Bahkan beberapa sentra padi gogo dan daerah tadah hujan di Riau mendapatkan panen yang baik.

Edy mengatakan, musim kemarau berkepanjangan juga sangat baik untuk daerah dengan drainase yang jelek. Misalnya, program Dem Area Penanganan DPI di Kabupaten Trenggalek, telah membuktikan hal itu. Jika musim hujan tiba, sawah petani selalu tergenang, sehingga muncul gejala fisiologis yang disebut dengan asem-aseman.

Kegiatan Dem Area Penanganan Dampak Perubahan Iklim (PDPI) pada lokasi rawan banjir menjadi solusi bagi kelompok tani. Petani dapat melakukan budidaya tanaman pangan melalui penggunaan varietas tahan genangan, aplikasi pembenah tanah, pemberian pupuk organik, dan penerapan teknologi adaptif sederhana seperti biopori/sarana pengaliran air.

“Hasilnya menunjukan bahwa asem-aseman yang selama tiga tahun selalu menghantui para petani di Durenan Trenggalek, dengan kegiatan Dem Area PDPI menghasilkan panen rata rata 10,5 ton/ha,” pungkasnya.

Reporter : Tia
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018