Sabtu, 25 Mei 2019


Februari Panen, Maksimalkan Dulu Produksi Lokal untuk Pabrik Pakan

03 Peb 2019, 01:14 WIBEditor : Gesha

Panen raya jagung sudah dimulai di Indonesia, mari maksimalkan produksi lokal daripada harus impor | Sumber Foto:TIARA

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Tanah Laut --- Rencana importasi jagung di tengah panen membuat gusar petani jagung. Di beberapa daerah sentra sudah mulai panen jagung dan berharap produksi lokal bisa dimaksimalkan untuk pabrik pakan.

"Kita maksimalkan terlebih dahulu untuk produksi lokal. Belum perlu untuk impor, selama produksi ini memang berjalan baik, cuaca juga bisa mendukung sehingga bisa maksimal hasil produksi kita," tukas Kepala Satuan Operasi Satuan Tugas (Satgas) Pangan, Helfi Assegaf pada acara Panen Jagung di Desa Tajau Pecah, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan (Kalsel), Sabtu (2/2).

Di desa Tajau Pacah ini saja misalnya, memiliki lahan jagung lebih dari 1.200 ha siap panen dengan produktivitas rata-rata 8 ton/ha.

“Ini saya kira cukup untuk membantu para pelaku usaha, baik pabrik pakan maupun peternak peternak kita,” tambahnya.

Helfi menjelaskan Satgas Pangan bertugas mengawasi dari sejak ketersediaan, distribusi dan stabilitas harga tetap.

Ini dilakukan dalam rangka mengawasi pelaksanaan kegiatan produksi atau ketersediaan.

Terkait harga, Satgas Pangan menilai harga pembelian jagung di desa ini aman.

Jika Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk jagung berada di angka Rp 3.150, maka harga Rp 3.500 yang saat ini diterima para petani di desa ini dirasa aman.

Terlebih melihat Break Event Point (BEP) petani Rp 2 ribu. Hasil panen petani dibeli para pengepul seharga Rp 3.500 untuk jagung dengan kadar air 28-30 persen.

“Saya kira sangat baik, sehingga petani bisa untung peternak juga tidak menjerit karena peternak juga tergantung sekali dengan keberadaan atau ketersediaan jagung ini,” tambahnya.

Senada dengan Helfi, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Selatan, Syamsir Rahman mengaku mesti mendahulukan potensi yang ada sebelum melakukan impor.

Dirinya menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan jagung di Pulau Kalimantan, terutama Kalimantan Selatan (Kalsel) sudah terpenuhi.

Kalsel pun siap membantu memenuhi kebutuhan di wilayah lainnya yang kekurangan bahkan tidak memiliki potensi jagung selama harganya menjanjikan.

“Memang produksi kita di Kalsel termasuk Tanah Laut Saya rasa cukup memenuhi. Tetapi untuk daerah-daerah lain kemungkinan yang tidak mempunyai potensi jagung kita juga membantu mereka. Kalau belum juga memenuhi, selanjutnya itu kebijakan pemerintah bagaimana agar semua kebutuhan jagung bisa terpenuhi terutama untuk kebutuhan penduduk Indonesia. Jadi tidak ada hanya untuk regional atau provinsi tapi pemerintah berpikir secara nasional,” bebernya.

Untuk diketahui, prakiraan luas panen jagung di Kabupaten Tanah Laut khusus di minggu keempat Januari sekitar 331 ha dengan produksi pipilan 2.015 ton pipilan kering (PK).

Sedangkan pada Februari 2019, petani jagung baru mulai panen raya dan diperkirakan akan ada panen seluas 2.441 ha dan produksi 14.646 ton PK.

Pada Maret 2019 sekitar 8.507 dengan produksi 55.295 ton PK. Bahkan April 2019 masih ada dengan luas skitar 3 ribuan dan produksi 18 ribu ton PK.

Bertanam jagung sudah mendarah daging bagi petani di Kabupaten Tanah Laut secara turun temurun. Mulai dari hanya memiliki lahan 1-2 ha saja, kini mereka sudah mampu berkooporasi dan semakin besar. Sehingga jagung menjadi denyut perekonomian di Tanah Laut.

Meski sudah menjadi urat nadi perekonomian masyarakat dan pemasukan asli daerah (PAD), pemerintah daerah terus berbenah menyiapkan berbagai infrastruktur yang mendukung, seperti jalan dan lain sebagainya. "Kita siapkan juga peraturan daerah untuk petani sekian persen sebagai PAD," terangnya.

Reporter : Tiara
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018