Senin, 18 Februari 2019


Meskipun Daerah Berbatu, Wonogiri bisa Panen Raya Jagung

12 Peb 2019, 15:58 WIBEditor : Gesha

Meskipun daerah berbatu, lahan Wonogiri cocok untuk jagung | Sumber Foto:ABI

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Wonogiri --- Berada di daerah gersang dan berbatu, ternyata membawa berkah tersendiri bagi Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Panen raya jagung tengah dilakukan di daerah yang terkenal dengan pengusaha baksonya.

"Luas panen jagung Wonogiri pada Februari 2019 mencapai 37.000 hektar, di antaranya di Kecamatan Pracimantoro 5.874 hektar dan saat ini di Desa Watangrejo panen 453 hektar. Produktivitas 7,3 ton perhektar,” ungkap  Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Wonogiri, Sapuan, pada acara panen raya jagung bersama Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi, selaku Penanggung Jawab Program Upaya Khusus Padi, Jagung dan Kedelai (UPSUS Pajale) Provinsi Jawa Tengah, di Desa Watangrejo Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri, Selasa (12/2).

Sapuan menjelaskan pada umumnya di daerah pegunungan lahan kering ini petani tanam tumpang sari. Yakni padi-jagung-singkong, jagung-singkong-kacang tanah dan lainnya. Bahkan tanaman salip-salipan belum dipanen sudah disusul tanam berikutnya.

"Wilayah sini kebanyakan lahan berbatu tandus dan diurug tanah untuk ditanami. Walaupun mengandalkan air dari hujan, tapi lahan dimanfaatkan optimal, tidak ada lahan yang tidak ditanami, pekarangan rumah pun ditanami buah dan sayuran,” jelasnya.

Sementara itu Giman, Ketua Kelompoktani Sidorejo, Desa Watangrejo, Kecamatan Pracimantoro mengatakan saat ini harga  jagung di petani mencapai Rp 4.200 per kg pipilan kering. Harga ini sudah turun dibanding minggu lalu Rp 4.500 sampai Rp 4.700 per kg pipilan kering.

"Sedangkan harga di pasar  Rp 5.200 per kilogram. Kadar air jagung yang habis dipanen adalah 27 persen,” ungkapnya.

Pada panen raya ini, Direktur Jenderal Hortikultura selaku Penanggungjawab Upsus Pajale Jawa Tengah, Suwandi mengapresiasi keberhasilan petani yang mampu memanfaatkan lahan pertanian yang relatif tandus ini untuk bisa ditanami jagung secara optimal. Pasalnya, lahan yang ditanami jagung sebelumnya berupa batu padas, kemudian dilakukan reklamasi dengan menambahkan tanah subur yang dibeli dari daerah lain.

"Saya sangat bahagia hari ini karena petani di Desa Watangrejo ternyata mampu memanfaatkan tanah pertanian yang relatif tandus ini untuk bisa ditanami dengan optimal. Kedepannya agar petani tetap mengusahakan lahannya dengan baik dengan cara menggunakan pupuk organik,” ujarnya.

Terkait usulan petani yang meminta bantuan cultivator dan alat pemipil jagung, Suwandi menjelaskan agar usulan tersebut melalui Dinas Pertanian Kabupaten untuk diusulkan ke Kementan.

Masih dalam acara panen,  Suwandi membagikan bantuan gratis benih sayuran kepada petani seperti cabai, timun, dan jagung manis. Ia pun meminta ke peternak agar  mengambil jagung dari petani di Jateng dan Jatim yang saat ini sedang banjir jagung.

“Panen melimpah dan harga lebih murah. Silakan para peternak unggas sekarang ambil jagung dari petani di Jateng dan Jatim,” pintanya.

Tercatat, pada Februari 2019, seluas panen mencapai 145 ribu hektar dan Maret 48 ribu hektar, terutama di Grobogan, Blora, Wonogiri dan lainnya.

“Produksi jagung harus kita tingkatkan ke depan. Saya mengharapkan para petani tetap semangat melakukan usaha tani dengan memproduksi pangan lokal, menghimbau agar mengonsumsi pangan lokal serta mencintai produk dalam negeri," pungkas Suwandi.

Reporter : Abiyadun
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018