Tuesday, 18 August 2026


Incar Pasar Ekspor

25 Feb 2019, 14:57 WIBEditor : Yul

Mentan, Amran Sulaiman memantau areal pertanaman jagung melalui menara.

Dengan banjirnya jagung, makin membuat Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman optimis Indonesia mampu meningkatkan ekspor jagung dari 380 ribu ton pada 2018 menjadi 500 ribu ton tahun ini. Ekspor jagung itu nantinya juga dari sentra jagung yakni Gorontalo, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan.

Saat panen jagung di Jawa Timur, Menteri Amran mengajak petani jagung semakin giat. Pasalnya, bertambahnya target ekspor jagung merupakan sebuah peluang bagi petani.

Untuk menjaga harga jagung tetap stabil pada saat membanjirnya produksi, Menteri Pertanian Amran Sulaimen lalu membuat kesepakatan bersama antara Kementerian Pertanian, Pemerintah Daerah Tuban, Bulog, peternak dan petani. Kesepakatan ini bertujuan untuk mejaga stabilisasi pasokan dan harga jagung di tingkat petani dan peternak sehingga rantai distribusi terpotong menjadi efisien.

Kesepakatan ini, kami ingin sinergikan peternak dengan petani jagung. Yang di tengahnya ada Bulog. Pemerintah hadir, sehingga dua-duanya untung. Petani untung, peternak tersenyum, juga pengusahanya untung," ujar Amran. Selain itu dilakukan transaksi jual beli jagung petani yang dibeli Bulog secara tunai sebanyak 100 ton.

Bukan hanya Bulog, Amran juga meminta pengusaha besar memanfaatkan momentum panen jagung yang sedang berlangsung di sentra produksi, seperti di Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera dan Sulawasi.Saya dapat laporan, Sumatera, Sulawesi, Jatim dan Jateng juga sedang panen. Yang kami khawatirkan kalau panen serentak seperti ini harga jadi anjlok sehingga harga di bawah harga pokok penjualan (HPP), katanya.

Untuk harga jagung saat ini menurut Amran bervariasi, tergantung wilayah. Di beberapa daerah harganya Rp 3.500/kg. Karena itulah, untuk menjaga harga agar tidak anjlok dan stok jagung tetap tersedia, Amran juga menghimbau pengusaha besar menyerap jagung petani sebesar-besarnya dengan harga terbaik untuk persediaan pada Oktober hingga Desember. “Kami minta pengusaha besar beli sekarang jagung petani dan disimpan. Jangan Oktober dan Desember nanti baru berteriak kekurangan jagung,” tegasnya.

Sementara itu petani jagung di Gresik, Jawa Timur berharap pemerintah membuat skema pembelian jagung sama dengan padi, seperti adanya Tim Serap Gabah Petani (Sergap). Tim tersebut akan langsung turun tangan membeli dengan harga wajar.

Petani jagung di Desa Wotan, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik menyampaikan langsung kegelisahannya kepada Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Gresik, Eko Anindito Putro dan Kepala Sub Direktorat Jagung, Direktorat Tanaman Serealia, Ditjen Tanaman Pangan, Andi Saleh.

Kadistan Gresik Eko Anindito menyampaikan pihaknya pernah mengadakan kerjasama dengan perusahaan pabrik pakan ternak. Awalnya berjalan lancar, namun kemudian menurut perusahaan tersebut ada kendala terkait kualitas jagung yang menurun akhirnya jagung dikembalikan.

Mohon ada skema untuk menjembatani kemitraan petani dengan perusahaan pabrik pakan yang saling menguntungkan. Semoga ada serap jagung di Gresik supaya saat harga jagung turun tetap bisa diserap dengan harga Rp 3.500/kg dengan kadar air 14%. Karena petani disini bingung saat harga jagung merosot,” tuturnya.

Ini menjadi tugas pemerintah untuk menjaga agar harga jagung petani tidak terjun bebas.

Reporter : Tia
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018