Sabtu, 25 Mei 2019


Lahan Marginal Penyokong Produksi Jagung

05 Mar 2019, 15:11 WIBEditor : Yul

Direktur Irigasi, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian Rahmanto (tengah) sedang panen jagung di Kabupaten Banyuwangi.

TABLOIDSINARTANI.COM, BANYUANGI -- “Kuburan pun ditanami jagung.” Ungkapan itu selalu meluncur dari Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman saat diwawancarai wartawan mengenai produksi jagung yang kini berlebih, bahkan Indonesia telah mengekspor.

Ada makna di balik pernyataan Menteri Pertanian tersebut. Ternyata, di lahan apapun jika ditanami dan dikelola dengan baik bisa produktif. Seperti dalam lirik lagu Koes Plus berjudul Kolam Susu, “Tongkat, Kayu dan Batu jadi Tanaman”.

Begitu juga ketika pemerintah mendorong peningkatan produksi jagung. Beragam lahan yang potensial pun bisa ditanami komoditas pangan nomor dua ini. Seperti yang terjadi di Banyuwangi dan Lumajang.

Dua kabupaten di tapal kuda Jawa Timur ini memanfaatkan lahan marginal yang ada di wilayah mereka. Di Banyuwangi, petani menggarap lahan berbukit yang merupakan kawasan Perhutani untuk budidaya jagung.

"Lima tahun terakhir tanaman produksi (jati) kosong, sehingga kerjasama dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dimanfaatkan untuk tanam jagung," tutur Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian Banyuwangi, Ilham Juanda.

Lahan Perhutani yang ditanami petani jagung seluas 2 ribu hektar (ha) di Desa Barurejo memiliki produktivitas mencapai 5 ton/ha dengan varietas P39. Meski kondisi lahan tadah hujan, pertanaman jagung di Desa Barurejo justru kini menjadi penyokong produksi jagung di Banyuwangi.

Lain lagi dengan lahan di Lumajang yang memanfaatkan sela-sela pohon Sengon muda (usia 1-2 tahun). Menurut Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lumajang, Imam Suryadi, penanamannya jagung dilakukan dengan cara tumpang sari di sela tanaman sengon. Pada Februari ada panen sekitar 2.345 ha.

“Tapi spot-spot (tersebar). Sedangkan untuk panen raya sendiri terjadi di lahan sawah hamparan pada September-Oktober mendatang," ungkapnya. Meski menjadi tanaman sela, produktivitas jagung yang dihasilkan cukup tinggi yaitu 5,5-6 ton/ha pipilan kering. Salah satu desa yang petani membudidayakan jagung di sela tanaman sengon, yakni Desa Selok Awar-Awar ada 41 ha yang dikelola 6 kelompok tani.

Direktur Irigasi, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian yang menjadi Penanggung Jawab Upsus Kab. Banyuwangi dan Lumajang, Rahmanto menuturkan, pemanfaatan lahan marginal seperti itulah yang diharapkan, sehingga produksi jagung di daerah sentra bisa terus ada.

“Di Lumajang ini banyak lahan yang ditanami sengon, kurang lebih 57 ha. Jika bisa dimanfaatkan setengahnya saja ditanami jagung, maka lahan pertanian yang ada tidak menganggur dan bisa produktif,” katanya.

Bagaimana cara mengoptimalkannya? Rahmanto menuturkan dengan memanfaatkan air saat musim penghujan. Apalagi tanaman jagung tidak perlu banyak air. “Berapa kali saja hujan bisa mencukupi. Karenanya selama musim hujan, ayo tanami jagung," pesannya.

Bahkan dengan adanya pipanisasi, embung pertanian bahkan air permukaan di sekitar lahan pertanaman jagung memberikan peluang untuk bisa bertanam jagung di luar musim (off season).

Reporter : Gsh
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018