Sabtu, 25 Mei 2019


Solusi Polemik Jagung, Pemerintah Siap Jembatani Peternak-Petani

06 Mar 2019, 16:32 WIBEditor : Yulianto

Dirjen PKH, I Ketut Diarmita saat panen jagung di Blitar | Sumber Foto:Humas Kementan

Petani jagung dan peternak ayam itu ibaratnya memiliki hubungan simbiosis mutualisme yang saling membutuhkan. Pemerintah sebagai fasilitator akan menjembatani petani dan peternak untuk saling bekerjasama dan saling mendapatkan keuntungan

TABLOIDSINARTANI.COM, Blitar---Kementerian Pertanian berupaya meningkatkan kesejahteraan petani dan peternak, termasuk didalamnya petani jagung dan peternak ayam petelur (layer). Menghadapi panen raya jagung akhir-akhir ini, pemerintah akan menjembatani antara petani jagung dan peternak ayam petelur.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita beranggapan, petani jagung dan peternak ayam itu ibaratnya memiliki hubungan simbiosis mutualisme yang saling membutuhkan. Pemerintah sebagai fasilitator akan menjembatani petani dan peternak untuk saling bekerjasama dan saling mendapatkan keuntungan.

“Tujuan kami datang kesini adalah untuk menjembatani kebutuhan petani dan peternak, sehingga petani bisa untung dan peternak bisa tersenyum,” ungkapnya saat Panen Raya Jagung Desa Tulungrejo, Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar, beberapa waktu lalu.

Salah satu untuk menjembatani kepentingan petani dan peternak terkait harga jagung, ungkap Ketut, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 96 Tahun 2018 tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Petani dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen.

Dalam Permendag ini telah ditetapkan harga acuan pembelian jagung di tingkat petani dengan kadar air 15% sebesar Rp. 3.150/kg dan harga acuan penjualan di industri pengguna (sebagai pakan ternak) sebesar Rp 4.000/kg,” kata Ketut.

 Baca juga:

Lahan Marginal Penyokong Produksi Jagung

Meskipun Harga Turun, Kebutuhan Jagung Pakan Bakal Aman Terpenuhi

Untuk menjaga stabilitas harga Ketut berharap agar Perum Bulog dapat menjembatani kepentingan petani sebagai produsen serta kepentingan peternak dan industri pakan sebagai pihak konsumen. Selama ini jagung tidak saja dimanfaatkan sebagai konsumsi langsung untuk pangan, namun juga dimanfaatkan industri pakan, para peternak ayam petelur (layer) serta industri benih.

Namun Ketut mengakui, pengguna jagung terbesar di Indonesia adalah peternak dan industri pakan ternak. Prognosa jagung tahun 2018 dari total penggunaan jagung di Indonesia sebesar 15,58 juta ton, diperkirakan sekitar 66,1 persen atau sekitar 10,3 juta ton adalah industri pakan dan peternak mandiri. “Untuk tahun 2019, kebutuhan jagung industri pakan diperkirakan sebesar 8,6 juta ton ditambah kebutuhan jagung peternak mandiri sebesar 2,9 juta ton,” kata Ketut.

Namun demikian Ketut mengakui, permasalah pokok terkait jagung yaitu adanya fluktuasi produksi. Sebab, sekitar 75 persen total produksi jagung terjadi pada Januari hingga Agustus. Sedangkan kebutuhan industri pakan dan peternak mandiri relatif konstan sepanjang tahun.

“Fluktuasi produksi inilah yang akan menimbulkan peluang terjadinya guncangan terhadap harga jagung domestik. Untuk itu kita harus mengelolanya dengan baik,” ujarnya.

Pemerintah lanjut Ketut, hanya memfasilitasi dalam negosiasi antara petani, peternak dan feedmil, sehingga petani, peternak dan pihak feedmill mendapatkan harga yang saling menguntungkan semua pihak. “Bila terjadi situasi yang tidak stabil, mari dibicarakan bersama-sama untuk mencari solusi yang terbaik, tegasnya.

Reporter : Julian
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018