Sabtu, 25 Mei 2019


Jawa Timur ‘Banjir’ Jagung

14 Mar 2019, 11:16 WIBEditor : Yul

Petani Bangkalan diharapkan mampu optimalkan pertanaman jagung dengan maksimal | Sumber Foto:TIARA

TABLOIDSINARTANI.COM, BANGKALAN -- Jawa Timur menjadi salah satu sentra produki jagung. Selama Februari hingga awal Maret, provinsi yang kini dipimpin Khofifah Indar Parawansa ini tengah marak panen komoditas pangan yang selama ini menjadi nomor dua setelah padi. Banjir jagung pun terjadi di beberapa kabupaten.

Misalnya saat Kepala Bagian Sub Direktorat Jagung, Direktorat Serealia, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Andi Saleh panen jagung di Desa Wotan, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Di Kecamatan tersebut, panen jagung Februari 2019 mencapai 1.350 ha, sedangkan total di Kabupaten Gresik 3.387 ha.

Bukan hanya di Gresik, Kabupaten lainnya seperti Ngawi juga panen jagung. Di Kabupaten Ngawi pada Februari 2019 akan panen jagung seluas 10.281 ha. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ngawi, Marsudi mengatakan produktivitas hasil ubinan 10,6 ton/ha, kalau rill 7-8 ton pipil kering.

Hasil panen jagung di Ngawi, biasanya dibeli pengepul lalu dibawa ke sentra-sentra produksi ternak seperti Nganjuk, Kediri, Blitar dan sekitarnya. Harga jagung pipilan kering saat ini sekitar Rp 3.500/kg, harga jagung pipilan basah Rp 2.500/kg. Sedangkan jagung bonggol yang biasanya memiliki kadar air 30% dihargai Rp 1.800/kg.

Panen juga berlangusng di Kabupaten Ponorogo. Panen diperkirakan berlangsung selama satu bulan, dimulai pada pertengahan Februari sampai pertengahan Maret. Luas panen Jagung periode Februari-Maret 2019 ini sekitar 23.398 ha. Luas panen Februari 15.921 ha dan Maret 7.478 ha.

"Sampai saat ini luas panen jagung di Ponogoro baru sekitar 9 ribu ha. Artinya masih ada sisa sekitar 14 ribu ha yang akan dipanen sampai dua pekan ke depan," kata Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Perikanan Kabupaten Ponorogo, Harmanto.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani LMPSDH Wonorejo, Ponorogo, Setijo Budi, mengatakan produksi Jagung di wilayah Jawa Timur sangat melimpah karena didukung produktivitas yang cukup tinggi. Produktivitas jagung yang dibudidayakan secara monokultur bisa mencapai 10-12 ton/ha, sedangkan di wilayah lainnya dengan sistem tumpangsari berkisar 7-9 ton/ha.

“Peningkatan produksi dan produktivitas jagung di Ponorogo tidak lepas dari berbagai bantuan Kementerian Pertanian baik benih, pupuk, alsintan dan bimbingan penyuluhan,” kata Setijo saat panen jagung bersama Kepala Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan, Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Andriko Noto Susanto, beberapa waktu lalu.

Sementara itu laporan dari Pacitan, Bupati Pacitan Indartato memantau secara langsung panen raya jagung pada lahan seluas 12.824 ha yang digelar di Dusun Mrayung, Desa Ploso, Kecamatan Punung. Diperkirakan panen jagung di Pacitan mencapai 7 ribu ha Dengan produktivitas rata-rata 6-7 ton/ha dan diperkirakan saat panen raya tersedia jagung sekitar 70 ribu ton.

Namun Indartato mengaku khawatir jika harga jagung terus menerus jatuh. Kekhawatiran tersebut memang sangat beralasan, mengingat harga pipilan kering sudah menyentuh Rp 3.200-3.300/kg. Padahal 2 minggu sebelumnya masih Rp 3.600-3.800/kg. “Jadi, permintaan saya mewakili para petani jagung cuma satu, yaitu harga jagung tetap stabil saat panen raya,” ujar Indartato.

Reporter : Gsh
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018