Senin, 26 Agustus 2019


Saat Kemarau, Begini Cara Mempertahankan Produksi Padi di Jabar

20 Mar 2019, 15:30 WIBEditor : Gesha

Diperlukan ketepatan dan kecepatan dalam mengambil keputusan dalam menanggulangi Dampak Perubahan Iklim | Sumber Foto:DYAH

Diperlukan ketepatan dan kecepatan dalam mengambil keputusan dalam menanggulangi Dampak Perubahan Iklim

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung --- Dampak perubahan Iklim seperti Banjir dan Kekeringan masih menjadi kendala dalam pencapaian produksi padi di Jawa Barat. Karenanya perlu ada strategi agar produksi padi bisa tetap bertahan selama musim kemarau.

Tercatat, pada Musim Tanam 2018 terdalat luas Kekeringan di Jawa Barat mencapai 25.948 hektar atau 3,6% dibanding luas tanam Musim Tanam 2018. 

Karenanya, dalam Focus Group Discussion (FGD) Prakiraan Iklim Musim Kemarau 2019 Antisipasi Dampak El Nino di Wilayah Jawa Barat yang dilakukan oleh Subdit Iklim, Konservasi dan Lingkungan Hidup Direktorat Irigasi Pertanian Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, dirumuskan berbagai langkah yang dilakukan untuk mengantisipasi dampak kekeringan meluas.

"Diperlukan ketepatan dan kecepatan dalam mengambil keputusan dalam menanggulangi Dampak Perubahan Iklim," tutur Koordinator OPT Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Propinsi Jawa Barat, Arifani M.

Arifani membeberkan beberapa penyebab terjadinya kekeringan. Mulai dari  terjadi perubahan iklim shg awal kemarau lebih cepat dari biasanya. Atau terjadi Curah hujan tinggi sebelum masuk musim hujan (hujan kapat).

Sedangkan di tingkat petani adalah dengan memaksakan  luas tanam diluar potensi pengairan yang ada, sehingga tidak terairi semua luasan tanam.

Belum lagi pertanaman spekulasi (untung untungan), jadwal tanam yang tidak mempertimbangkan faktor iklim hingga pemilihan varietas tidak mempertimbangkan potensi air.

Arifani menambahkan bahwa tugas pokok BPTPH dalam penanggulangan Dampak Perubahan Iklim (DPI) adalah melakukan pengamatan dan penilaian Kerusakan Tanaman Akibat DPI seperti Kekeringan, Banjir dan Bencana Alam lainnya.

Karenanya untuk mengantisipasi kekeringan di Jawa Barat, Arifani menuturkan perlunya pemahaman tentang iklim pada petani, termasuk Informasi  prakiraan iklim sedini mungkin kepada petani.

Petani juga perlu memperbaiki budidaya dengan sistem yang hemat air. Mulai dari pemilihan varietas yang tepat,  penerapan pengairan efisien, hingga penggunaan bahan organik padat.

Sedangkan untuk stakeholder perlu menganalisa kebutuhan air terhadap pertumbuhan padi. Termasuk, sinergisme antara pengaruh sosial budaya dan iklim dalam penentuan jadwal tanam.

Pemerintah pusat dan daerah juga perlu memperbaiki sarana irigasi, pembuatan embung hingga pembuatan sumur pantek.

Jika strategi tersebut bisa dilakukan secara sinergis, nicaya Jawa Barat bisa terhindarkan dari kekeringan ekstrim.

Reporter : Nattasya/Dyah Susilokarti
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018