Senin, 26 Agustus 2019


Pare Wangi Kodi, Padi Lokal Wangi dari Pulau Sumba

09 Apr 2019, 11:44 WIBEditor : Gesha

Varietas Pare Wangi Kodi memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan varietas lainnya | Sumber Foto:ROFINUS

Pare Wangi Kodi tersebut mempunyai keunikan tersendiri. Pertama, aroma harumnya terasa, bukan hanya setelah menjadi beras dan saat dimasak serta menjadi nasi yang dihidangkan di atas piring.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Sumba Barat Daya --- Indonesia memang kaya akan plasma nutfah, salah satunya adalah Pulau Sumba yang memiliki varietas lokal wangi yang bernama Pare Wangi Kodi dan sudah ditetapkan menjadi Varietas Unggul Nasional sejak 2009.

Dari berbagai literatur, Suku Kodi di Bumi Pasola memiliki 21 jenis padi ladang (lahan kering) varietas lokal. Varietas yang paling unik dan istimewa adalah padi Gogo, istilah masyarakat Kodi. Namun, padi Gogo yang dimaksud tidak sama dengan padi Gora (Gogo Rancah) seperti dikenal di daerah Nusa Tenggara Barat dan Jawa.

Nama Pare Gogo juga bukanlah nama aslinya, karena dalam bahasa ibu orang Kodi, kata Gogo tidak ada maknanya dan kata tersebut juga tidak menggambarkan sifatnya.

Barangkali namanya yang asli adalah “Pare Wuhamumur”, yang berarti padi beraroma harum, karena sifat padi tersebut memang aromanya harum dan sangat khas, seperti harum daun kemangi berdaun sempit atau pandan wangi. Tapi yang pasti padi tersebut merupakan varietas plasma nutfah asli daerah Kodi.

Dengan Keputusan  Menteri Pertanian RI No. 2225/Kpts/SR.120/5/2009, maka nama padi Gogo telah berubah. Namanya sekarang ini adalah “Pare Wangi Kodi”. Nama baru ini belum dikenal masyarakat Kodi dan Sumba umumnya, sehingga mereka masih menyebutnya padi Gogo.

Apa keistimewaan atau keunggulan padi tersebut sehingga ditetapkan menjadi varietas unggul nasional? Ada dua sifat utamanya yang melekat yaitu aroma wanginya yang khas dan rasa pullen nasinya.

Disamping dua sifat utamanya itu,  hasil studi para peneliti, mengungkap tiga keunggulan sifat Pare Wangi Kodi yang utama lainnya, (Kasim, dkk, 2006; Tim Peneliti Padi Gogo, 2008).

Pertama, Pare Wangi Kodi tahan terhadap penyakit bercak coklat. Ketahanan terhadap penyakit ini dapat mencegah/mengurangi kehilangan hasil.

Kedua, Pare Wangi Kodi agak toleran terhadap cekaman kekeringan, yang merupakan salah satu syarat utama yang perlu dimiliki oleh varietas-varietas yang akan dibudidayakan di NTT, mengingat kekeringan merupakan kendala utama produksi padi gogo di daerah ini.

Dan ketiga, Pare Wangi Kodi memiliki potensi hasil hingga 4 ton/ha pada kondisi dan teknik budidaya yang optimal.

Pare Wangi Kodi tersebut mempunyai keunikan tersendiri. Pertama, aroma harumnya terasa, bukan hanya setelah menjadi beras dan saat dimasak serta menjadi nasi yang dihidangkan di atas piring.

Tapi harumnya sudah terasa sejak di ladang, setelah berumur lebih dari satu minggu sampai dengan pudarnya warna hijau pada daunnya. Gabahnya pun terasa harum, baik saat dikeringkan di bawah sinar matahari maupun di dalam karung atau lumbung.

Menariknya, padi tersebut hanya cocok di wilayah Kodi dan daerah perbatasan dengan wilayah lainnya. Di wilayah Wewewa dan Loura pun, masih dalam Kabupaten Sumba Barat Daya, tidak cocok. Bukan tidak tumbuh sama sekali. Tumbuh dan berkembang serta subur dan berproduksi dengan baik juga, namun keistimewaannya tidak akan muncul. Harumnya raib begitu saja.

Faktor apa yang mempengaruhi, sehingga Pare Wangi Kodi mempunyai aroma harum? Selama ini, ada tiga hipotesis yang dikembangkan berkaitan dengan aroma harum yang melekat pada Pare Wangi Kodi.

Pertama, faktor genetika bawaannya. Hipotesis ini terlalu lemah atau tidak cukup kuat untuk membuktikannya. Karena  secara empirik ketika dibudidayakan pada lahan ladang di luar wilayah Kodi, terbukti Pare Wangi Kodi tidak harum lagi.

Kedua, faktor tanah dan kandungan unsur haranya. Tanah Kodi termasuk subur. Kandungan unsur hara tanah Kodi perlu dikaji lebih detail lagi. Kemudian jenis unsur hara atau senyawa apa yang berpengaruh menimbulkan aroma harum. 

Dan ketiga, iklim dan cuaca, termasuk angin dan udara. Bisa jadi air hujan, angin dan udara di lingkungan wilayah Kodi bercampur dengan uap air laut yang mengandung unsur garam, kemudian terserap oleh tanaman Pare Wangi Kodi melalui proses respirasi dan fotosintesis. 

Pare Wangi Kodi mempunyai prospek pasar yang baik dan menguntungkan. Pare Wangi Kodi baik gabah maupun berasnya laris di pasar, meskipun untuk sementara masih di pasar domestik Sumba sendiri. Juga harga jualnya berada di posisi atas dibandingkan dengan jenis padi lainnya.

 

Reporter : Rofinus D Kaleka
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018