Jumat, 21 Juni 2019


Mari Olah Padi Sampai Ke Akarnya

15 Apr 2019, 16:48 WIBEditor : Gesha

Petani sudah seharusnya mengolah padi hingga ke akarnya sehingga memberikan nilai tambah dari produksi yang dilakukannya | Sumber Foto:ISTIMEWA

dari tanaman padi itu menghasilkan gabah dan jerami (merang). Dari gabah dapat menghasilkan beras pecah kulit dan sekam. Sedangkan jerami dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan bahan bakar.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Di Indonesia, padi merupakan komoditas strategis utama dan menjadi target swasembada pangan. Walaupun menjadi komoditas utama, sayangnya petani di Indoensia hanya sebatas memanfaatkan bulirnya saja untuk beras. Padahal sebenarnya seluruh bagian dari tanaman padi, bahkan limbahnya dapat dimanfaatkan dan menghasilkan nilai tambah.

“Petani di kita ini hanya sebagai petani potong padi saja. Padahal seharusnya menjadi petani panen padi,” kata Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Winarno Tohir saat acara peluncuran buku ‘Pertanian Presisi untuk Mensejahterakan Petani’ di Jakarta, (15/4).

Winarno menjelaskan dari tanaman padi itu menghasilkan gabah dan jerami (merang). Dari gabah dapat menghasilkan beras pecah kulit dan sekam. Sedangkan jerami dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan bahan bakar.

Beras pecah kulit dapat menghasilkan beras putih dan kulit ari (bekatul). Dari sekam menghasilkan dedak dan bahan bakar. Beras putih dapat diolah menjadi makanan pokok, beras kencur, param (obat balur) dan arak.

Kalau dari kulit ari menghasilkan dedak (sama seperti dari sekam). Dari dedak ini dapat diolah menjadi pakan ternak dan minyak goreng. “Kalau di Thailand sudah dimanfaatkan semuanya. Bahkan sekam dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk dapat memanaskan turbin,” terang Winarno. 

Lebih lanjut Winarno menuturkan, beberapa orang beranggapan bahwa harga beras di Indonesia termahal di Asia, tetapi sebenarnya ada yang lebih mahal lagi, yakni beras asal Jepang.

“Memang dibandingkan Thailand dan Vietnam beras kita mahal, tetapi kalau dibandingkan dengan beras asal Jepang, jelas bedanya jauh. Di Jepang itu harga beras mencapai 500 yen (Rp 60 ribu per kg). Tapi kalau kita telaah lagi, mengapa beras kita mahal dibandingkan Thailand dan Vietnam karena biaya tenaga kerja dan sewa lahan di Indonesia itu mahal,” jelas Winarno.

Dua komponen yang disebutkan Winarno, tenaga kerja dan sewa lahan, menjadi komponen termahal dari biaya produksi lainnya. Untuk saat ini, biaya tenaga kerja dapat diminimalisir dengan penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan).

Tetapi sayangnya untuk biaya sewa lahan, belum dapat diatasi. “Makanya untuk petani padi saya sarankan jangan hanya sebatas memprodusi beras saja, melainkan memproduksi bentuk lainnya dari tanaman padi. Itu akan meningkatkan pendapatan dan tentu akan membuat harga beras jauh lebih murah,” jelasnya.

Reporter : Clara
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018