Minggu, 21 Juli 2019


Pastikan Profesional Dampingi Petani, Koramil Dilatih Budidaya Pertanian

30 Apr 2019, 15:24 WIBEditor : Gesha

PPL melatih para koramil dari Kodim Kediri | Sumber Foto:DODIK

Dalam praktek dilapangan, Dinas Pertanian Kabupaten Kediri menurunkan orang-orang yang berkompeten dibidangnya, mulai dari penggunaan alsintan, pemilihan bibit berkualitas, teori tanam padi, hortikultura maupun jagung, hingga takaran pupuk

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Kediri --- Dinas Pertanian Kabupaten Kediri bekerjasama dengan Kodim Kediri mengadakan pelatihan tanam padi, jagung dan beberapa komoditas hortikultura. Semuanya dilakukan untuk menjadikan personil koramil mampu secara profesional mendampingi petani untuk bersama meningkatkan produksi pertanian.

Pelatihan tersebut diadakan di dua tempat, yaitu: tanam jagung di Desa Kayen Lor dan tanam padi di Desa Sukoharjo. Kedua desa tersebut berada di Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri.

Kelompok Jabatan Fungsional Penyuluh, Dinas Pertanian Kabupaten Kediri, Joko Tri Raharjo menuturkan Pelatihan diadakan tidak lepas dari upaya mensukseskan program ketahanan pangan, khususnya pendampingan Babinsa dengan petani ditiap-tiap desa.

“Dinas Pertanian Kabupaten Kediri bekerjasama dengan Kodim Kediri mengadakan pelatihan tanam padi dan jagung. Pelatihan  ini diadakan dalam rangka mensukseskan program ketahanan pangan di Kabupaten Kediri,” jelasnya saat terjun mendampingi pelatihan, Selasa (30/4).

Pelatihan diikuti 125 personil Koramil jajaran Kodim Kediri. Dalam praktek dilapangan, Dinas Pertanian Kabupaten Kediri menurunkan orang-orang yang berkompeten dibidangnya, mulai dari penggunaan alsintan, pemilihan bibit berkualitas, teori tanam padi, hortikultura maupun jagung, hingga takaran pupuk.

“Kita disini menyampaikan teori secara benar dan tepat, dari tanam, pemakaian alsintan sampai pupuk,” sambungnya.

Danramil Plemahan, Kapten Arh Ajir mengatakan bahwa lahan yang digunakan untuk pelatihan tersebut berstatus milik warga setempat, dan sudah diizinkan oleh pemiliknya. “Lahan seluas 1 bahu atau 7.000 meter persegi di Desa Sukoharjo berstatus milik Wagino, dan lahan seluas 0,5 bahu atau 3.500 meter persegi di Desa Kayen Lor berstatus milik Nur Rokim,” terangnya.

Penggunaan lahan di Desa Sukoharjo maupun di Desa Kayen Lor untuk pelatihan tersebut, disesuaikan fungsi tanam dari si pemilik lahan.

Sedangkan pengadaan bibit, pupuk maupun alsintan (alat mesin pertanian) berasal dari Dinas Pertanian Kabupaten Kediri.

Pelatihan tersebut akan difokuskan kepada teknik budidayanya, yakni bagaimana menanam yang baik agar tumbuhnya normal sesuai jarak antar bibit dan kedalaman tanah.

Tidak hanya itu, pelatihan penggunaan alsintan pun diajarkan karena di Desa Sukoharjo, tanam padinya masih dilakukan secara manual, tanpa alsintan. Begitu juga tanam jagung.

Untuk tanam jagung ini, ada dua cara, yang pertama menggunakan alat modern dan yang kedua menggunakan alat tradisional.

“Dari kedua cara yang kita lakukan, kita bisa tarik kesimpulan, lebih cepat yang mana, lebih praktis yang mana. Kedua cara ini semua masih relevan dilakukan,” jelas Kasi Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Kediri, Syamsul Hidayah.

Untuk tanam jagung menggunakan alat modern, pilihan jatuh pada transplanter tanpa penggerak mesin alias tenaga dorong manusia.

Alat ini bisa memasukkan bibit jagung, sekaligus menutupnya dengan tanah. Logam berbentuk kerucut akan terbuka dan tertutup secara otomatis, lantaran ada kawat berukuran cukup tebal yang mendorong atau membuka katup logam tersebut.

Dengan terbukanya katup, jagung akan jatuh dengan sendirinya ketanah dan ketika kawat terlewati, katup akan menghujam tanah dan mendorong tanah disekitarnya untuk menutup bibit yang sudah tertanam.

“Untuk tanam jagung menggunakan alat tradisional, cukup memakai kayu yang ujungnya lancip. Kayu tersebut dihujamkan ketanah dan otomatis akan terbentuk lobang. Dari lobang inilah, bibit dimasukkan secara manual dan ditutup dengan tangan. Namun, sebelum ditutup, terlebih dahulu dimasukkan pupuk kompos sebagai pemicu pertumbuhan bibit,” jelasnya.

Bukan hanya pelatihan untuk tanam jagung saja yang diajarkan, menanam hortikultura dalam polybag diajarkan dalam kegiatan ini.

Baik dari takaran tanah, pupuk, kandungan air hingga kedalaman akar bibit, dijelaskan satu persatu secara berurutan. 

Takaran pupuk tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang. Demikian juga penyiraman bibit yang sudah tertanam di polybag.

Terkait komposisi pupuk, tergantung jenis hortikultura alias berbeda-beda takarannya. “Untuk pertanaman hortikultura, kita menggunakan pupuk kompos, karena di desa-desa, banyak potensi bahan untuk pupuk ini. Hampir tiap desa di Kediri ini punya peliharaan sapi. Dari sinilah kita memanfaatkan,” jelas Koordinator PPL Kecamatan Plemahan, Suyitno. 

Reporter : Dodik/Clara
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018