
Padi Kewal, varietas padi lokal dari Tanah Jawara Banten ini bisa menjadi primadona baru
TABLOIDSINARTANI.COM, Serang---Bagi masyarakat Banten khususnya masyarakat Serang sudah tidak asing dengan padi lokal yang bernama Kewal. Saat ini populasi dan jenis Kewal yang ditanam di daerah sekitar Serang sudah sangat berkurang.
Popularitasnya kian tergusur dengan padi-padi yang berumur lebih pendek. Memang dari sisi umur, padi Kewal dipanen pada umur 6 bulan sedangkan padi yang ada saat ini hanya 3-4 bulan.
Saat ini lokasi penanaman padi Kewal yang masih dipertahankan di wilayah Serang salah satunya terdapat di Desa Tanjung Manis Kecamatan Anyar. Di tempat ini masyarakat petani masih mempertahankan padi lokal jenis Kewal, meski jenisnya mulai berkurang.
Masyarakat di Desa Tanjung Manis masih mempertahankan gudang penyimpanan padi Kewal atau yang biasa disebut Leuit. Ketika musim panen tiba padi kewal yang sudah diikat setelah panen dimasukan kedalam gudang-gudang tersebut sebagai stok pangan mereka sehari-hari.
Padi Kewal menghasilkan nasi yang sangat pulen dengan bentuk biji bulat agak besar dibandingkan beras pada umumnya dan cepat mengeyangkan. Jadi walapun dikonsumsi sedikit, tapimemberikan efek kenyang lebih panjang untuk lapar kembali.
Umur padi Kewal yang lama telah menantang para peneliti untuk berinovasi agar bisa mempercepat masa panennya. Panjangnya penelitian tersebut akhirnya membuahkan hasil pada tahun 2017 telah dilepas varietas padi Kewal berumur genjah yang diberi nama Padi Sawah Mustaban.
Mustaban sendiri merupakan singkatan dari Mutasi Genetik Asli Banten. Kewal Mustaban berasal dari persilangan varietas Kewal Arjuna. Setelah ditelusuri di lapangan Kewal Arjuna ternyata nama lokalnya adalah Cere Ramin.
Pada tahun ini, tepatnya Januari 2019 telah dilakukan ujicoba penangkaran padi Kewal Mustaban yang dilakukan lima orang petani di Kampung Siring Desa Tanjung Manis. Dari ujicoba penangkaran tersebut diperoleh hasil panen sementara melalui kegiatan sample ubinan sebesar 9,6 ton GKP/ha. Angka ini hampir mendekati potensi hasil dari padi Kewal Mustaban.
Meski saat kegiatan ujicoba diakhir menjelang panen terjadi hujan lebat dan angin kencang yang mengakibatkan hampir semua tanaman padi rebah termasuk Kewal Mustaban. Selama pelaksanaan uji coba tersebut petani penangkar merasakan beberapa keunggulan padi ini.
Pertama, tanaman tetap subur dan hasilnya banyak walaupun minim pemupukan khususnya pupuk anorganik. Hal ini berdampak kepada biaya yang tadinya mereka keluarkan untuk membeli pupuk menjadi berkurang. Kedua, tingkat serangan hama dan penyakit juga sangat minim terutama serangan burung saat panen tidak terjadi. Ini karena malai padi berada di bawah daun bendera, sehingga tertutup daun.
Melihat kondisi ini petani semakin bersemangat untuk kembali menanam padi Kewal Mustaban, bahkan petani lain yang berada disekitar area pengkaran juga antusias untuk mencoba jenis padi ini. Berkat dukungan dan pendampingan dari Balai Benih Induk Tanaman Pangan dan Balai Pengawas dan Sertifikasi Benih Provinsi Banten, diberharap padi Kewal Mustaban ini dapat menjadi ikon padi unggul lokal dan berasnya dapat bersaing di pasaran serta dinikmati seluruh masyarakat Indonesia.
Deskripsi Padi Kewal Mustaban
Umur Tanaman | ±118 hari |
Bentuk Tanaman | Tegak |
Tinggi Tanaman | ±105 cm |
Daun Bendera | Tegak |
Bentuk Gabah | Ramping |
Kerontokan | Sedang |
Kerebahan | Tahan Rebah |
Tekstur Nasi | Pulen |
Kadar Amilosa | ±13,13% |
Berat 1000 butir | ±27,17 gram |
Rata-rata Hasil | ±6,59 ton/ha |
Potensi Hasil | 10,86 ton/ha |
Ketahanan terhadap | - Agak tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 3 - Tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri patotipe III, agak tahan patotipe IV dan VIII. Agak tahan penyakit blas ras 033 |
Anjuran Tanam | Baik ditanam pada lahan sawah dataran rendah sampai 600 m dpl |
Pemulia | Ita Dwimahayani, Hambali, Yulidar, Sutisna, Mugiono |