Kamis, 23 Mei 2019


Dengan Kerangka Sampel Area, Data Pangan Dijamin Akurat

15 Mei 2019, 14:18 WIBEditor : Gesha

Petugas Survei KSA melakukan pengambilan sampel dengan gadget | Sumber Foto:ISTIMEWA

Kelebihannya dengan menggunakan metode ini adalah hasilnya tidak bias, tingkat kesalahannya dapat diukur, bersifat real time, biaya operasional rendah, dan hasilnya cepat.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Data pangan selalu menjadi polemik di Indonesia. Karenanya perlu kesamaan metodologi agar bisa menentukan data yang akurat guna pengambilan kebijakan pertanian dan pangan di Indonesia.

Data pangan yang ada di Indonesia berbeda-beda, terutama data produksi beras/padi. Hal ini terjadi oleh beberapa faktor, yaitu: pola pertanaman, perubahan iklim, pola pengukuran kemiskinan, struktur ongkos usaha tanaman padi, pola program, pola distribusi, share komoditas inflasi, pola konsumsi, penguasaan lahan petani, situasi harga dan stock pangan.

“Makanya tidak heran data pangan, apalagi padi itu berbeda-beda antar instansi. Bahkan di petaninya pun berbeda-beda. Oleh karena itu, agar tidak terjadi keseimpangsiuran data pertanian, pengukuran datanya harus secara objektif, yakni dengan metode Kerangka Sampel Area (KSA) dan analisis citra satelit,” kata Direktur Statistik Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, Badan Pusat Statistik, Hermanto kepada tabloidsinartani.com.

KSA sendiri adalah salahsatu pendekatan statistik spasial yang dikembangkan oleh FAO, USDA dan EUROSTAT Uni Eropa. Jadi metode ini berbasiskan  teknologi sistem informasi geografi (SIG), pengideraan jauh, teknologi informasi, dan statistika.

Kelebihannya dengan menggunakan metode ini adalah hasilnya tidak bias, tingkat kesalahannya dapat diukur, bersifat real time, biaya operasional rendah, dan hasilnya cepat.

“Dengan adanya hasil dari KSA ini menjadi bahan evaluasi dalam penyerapan pupuk, dapat memberikan informasi potensi panen kepada Bulog untuk menyerap gabah petani, dan evaluasi kinerja pembangunan embung atau waduk di suatu wilayah,” jelasnya.

Penerapan KSA sendiri berbasiskan teknologi terkini, yakni handphone android yang telah diinstal aplikasi KSA untuk memotret dan menentukan fase tumbuhan tanaman (padi).

“Metode KSA ini sebenarnya sudah dikembangkan oleh BPPT dan telah mendapatkan penghargaan dari LIPI. Makanya berdasarkan surat dari Kantor Staf Presiden, pengukuran luas panen di tahun lalu (2018) menggunakan metode KSA agar akurat,” ungkap Hermanto.

Tahapan KSA

Ada beberapa tahapan pelaksanaan survey luas panen dengan menggunakan metode KSA. Pertama kali yang dilakukan adalah Pembangunan Kerangka Sampel Area yang meliputi stratifikasi area studi, penentuan ukuran sampel, dan esktrasi sampel segmen.

Baru setelah itu persiapan survey dengan menyiapkan alat bantu survey (Peta Rupa Bumi, Foto Udara, dan citra satelit) dan penyiapan surveyor. “Pembangunan kerangka sampel area dan persiapan survey ini dilakukan satu kali pada saat akan memulai ,” terang Hermanto.

Setelah itu, masuk ke survey lapangan. Biasanya petugas mengamati dan menyimpan fase pertumbuhan padi. Baru setelah itu, hasil survey dikirimkan dan data diolah lalu dilaporkan.

Fase pertumbuhan padi yang diamati dengan metode KSA ini adalah persiapan lahan, vegetatif awal, vegetatif akhir, generatif, dan panen. “Kalau hal ini dilakukan harus setiap bulan karena fase pertumbuhan padi setiap bulannya harus diamati dan dilaporkan. Dengan demikian, data produksi menjadi lebih jelas karena sering diamati,” jelas Hermanto.

 

 

 

Reporter : Clara
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018