Kamis, 27 Juni 2019


Pola Zig zag, Lambungkan Produktivitas Tanaman Jagung

27 Mei 2019, 05:37 WIBEditor : Yulianto

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman memperhatikan jagung hasil pola tanam zig zag | Sumber Foto:Humas Kementan

Untuk mempertahankan produksi jagung yang telah dicapai, berbagai inovasi dan teknologi terus dilakukan. Bukan hanya menghasilkan varietas unggul baru, tapi juga inovasi dalam pola tanam. Salah satu yang kini diperkenalkan adalah pola tanam zig zag

TABLOIDSINARTANI.COM, Banjarbaru--- Jagung menjadi salah satu komoditas strategis yang pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian terus dorong peningkatkan produksinya. Bahkan tahun ini, Indonesia telah mampu mengekspor komoditas pangan yang selama ini menjadi nomor dua setelah padi.

Karena itu untuk mempertahankan produksi jagung yang telah dicapai, berbagai inovasi dan teknologi terus dilakukan. Bukan hanya menghasilkan varietas unggul baru, tapi juga inovasi dalam pola tanam. Salah satu yang kini diperkenalkan adalah pola tanam zig zag.

Saat kunjungan kerjanya ke Balai Penelitian Lahan Rawa (Balittra), Sabtu (25/5), Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman yang didampingi Kepala Badan Litbang Pertanian, Fadjry Djufry sempat melihat inovasi pola tanam jagung zig zag. “Ini tanaman jagungnya sudah terlalu kering. Terlambat panen dan kurang terawat. Tapi kalian saya ajari satu hal yang unik,” ujar Amran.

Amran menjelaskan, tanaman jagung di lahan ini memang nampak kurang terawat, namun bila diperhatikan jagung tersebut ditanam dengan cukup rapat. Terdapat bagian yang telah hilang buah jagungnya, namun ada juga yang masih tampak. “Ini namanya pola tanam zigzag. Ini inovasi dari Badan Litbang Pertanian. Produksinya bisa 24 ton per hektar. Beda dengan cara tanam biasa yang hanya 5 ton per hektar,” ujarnya.

Menurut Amran, cara bertanam ini sangat menarik dan menguntungkan bila dilakukan petani, mengingat hasilnya jauh lebih besar dari pola tanam biasa. Bahkan diperkirakan bisa tiga kali lipat dari pola tanam biasa. Karena itu Amran berharap teknologi ini bisa diadopsi petani, sehingga produksi jagung dalam negeri akan semakin tinggi, bahkan mampu ekspor ke negara lainnya.

Kepala Balittra, Hendri Sosiawan menambahkan, pola tanam zig zag akan membuat  proses fotosintesis optimal. Pasalnya, sinar matahari yang menyinari tajuk jagung tidak terhambat daun jagung yang saling menaungi bila ditanam lurus. Sistem zig-zag punya teknologi pemupukan lahan rawa, bisa kita tingkatkan juga oleh varietasnya sehingga memiliki responsivitas tinggi,” katanya.

Reporter : kontributor
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018