Minggu, 18 Agustus 2019


Geliat Kabupaten Bandung Menjadi Pintu Gerbang Produksi Jagung Jabar

28 Mei 2019, 09:40 WIBEditor : Gesha

Dengan produksi yang terus meningkat, Kabupaten Bandung optimis menjadi pintu gerbang produksi Jagung Jawa Barat | Sumber Foto:PRIBADI

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Nagreg --- Pertanaman jagung sudah merambah di seluruh Nusantara. Khusus di Kabupaten Bandung, Desa Ciaro yang terletak di Kecamatan Nagreg digadang menjadi pintu gerbang produksi jagung Jawa Barat.

"Sejak dulu, produksi jagung Kabupaten Bandung sudah banyak. Bahkan telah mendapat penghargaan," ungkap Wakil Bupati Bandung, Gun Gun Gunawan.

Desa Ciaro dinilai cukup strategis untuk menjadi pusat jagung. Terlebih jika Tol Cisumdawu yang akan dilanjut dengan pembangunan tol Cigatas sudah terwujud. Dengan dua tol tersebut, bisa menjadikan Desa Ciaro sebagai sentra jagung dari seluruh wilayah Jabar.

Bahkan, disana terdapat sejumlah gudang jagung yang berasal dari sejumlah daerah di Jabar. "Kedepan bukan hanya dari wilayah priangan timur, tapi dari utara juga bisa masuk ke Desa Ciaro," katanya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Tisna Umaran ketika dihubungi tabloidsinartani.com mengungkapkan produksi jagung di Kabupaten Bandung dinilai cukup tinggi dibanding daerah lain, dengan sentra yang berada di Kecamatan Nagreg.

"Data tahunan yang kami miliki, terdapat 10.000-18.000 hektar pertanian jagung. Setiap hektar mampu menghasilkan jagung sebanyak 7 ton," tutur Tisna.

Apalagi petani sudah terbiasa menggunakan benih hibrida jagung sehingga produksi yang dihasilkan masih bisa digenjot lagi.

Menariknya, pertanaman jagung disana menggunakan metode tumpang sela. Sehingga lahan yang tidak selamanya ditanami jagung. Atau disela musim tanamnya menggunakan padi.

"Ini dilakukan untuk memutus rantai hama. Apalagi hama antara jagung dan padi berbeda. Jadi pola ini saya rasa cukup baik," tuturnya.

Lahan Pengeringan

Untuk merealisasikan sarana pengeringan di Kecamatan Nagreg, lahan seluas lima hektar siap dihibahkan oleh para petani jagung kepada Pemerintah Daerah (Pemda), untuk pengembangan lahan pengeringan.

Seperti yang diungkapkan Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Rido Manah Kecamatan Nagreg, Endang Saeful Rohman kepada tabloidsinartani.com.

"Lahan pengeringan merupakan sarana pendukung pascapanen terpenting dalam budi daya jagung. Soalnya pengeringan memang menentukan kualitas hasil panen agar harga jualnya tidak menurun," ujar Endang.

Diakui Endang, Pemda telah memberikan mesin pengering untuk digunakan masyarakat. Namun, alat tersebut tidak memberikan dampak yang signifikan karena selain kualitas jagungnya tak sebaik dikeringkan lewat penjemuran.

"Dengan penjemuran, jagung pipil tidak akan gosong dan kandungan gizinya tetap terjaga. Selain itu, penjemuran tidak membutuhkan biaya apapun untuk bahan bakar seperti alat pengeringan," terangnya.

Saat ini rata-rata kadar air jagung petani Kabupaten Bandung berkisar antara 14-15 persen. Padahal, sesuai standar, kadar air yang baik maksimal sampai 12 persen.

Di sisi lain, Pemkab Bandung juga tengah menjalin kerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Rencananya, LIPI akan memberikan bantuan alat pengering yang berbahan bakar alami seperti tongkol jagung sehingga tidak memerlukan biaya tinggi dalam pengoperasiannya.

Hal itu diharapkan bisa menjadi solusi untuk menyelamatkan hasil panen jagung petani Kabupaten Bandung yang saat ini terus digenjot oleh pemerintah.

Reporter : Nattasya
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018