Selasa, 22 Oktober 2019


Pemerintah Sediakan Paket Bantuan untuk Petani di Lahan Rawa

13 Jun 2019, 14:04 WIBEditor : Yulianto

Konsep pemberdayaan petani di lahan rawa | Sumber Foto:Kementan

Peran Ditjen Tanaman Pangan adalah menyediakan paket bantuan untuk budidaya padi rawa yakni benih, dolomit, herbisida dan pupuk hayati. Sarana produksi yang digunakan tersebut harus terdaftar secara resmi di Kementerian Pertanian dan dalam masa edar

TABLOIDSINARTANI.COM, JAKARTA---Sejak tahun lalu, pemerintah mencanangkan program Serasi (Selamatkan Rawa, Rakyat Sejahtera). Program tersebut diharapkan dapat membantu peningkatan produksi pangan dan kesejahteraan petani di wilayah tersebut. Berbagai bantuan pun diberikan untuk bisa mengoptimalkan lahan marginal tersebut.

Sekretaris Ditjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Bambang Pamuji mengatakan, umumnya petani di Lahan Rawa melakukan pertanaman 1 kali  dalam setahun di lahan rawa. Penyebabnya, areal pertanian tergenang pada musim hujan (rendeng), infrastruktur irigasi di lahan rawa belum lengkap, keterbatasan tenaga kerja pertanian dan jaminan harga dan pemasaran rendah.

Peran Ditjen Tanaman Pangan, menurut Bambang adalah menyediakan paket bantuan untuk budidaya padi rawa yakni benih, dolomit, herbisida dan pupuk hayati. Sarana produksi yang digunakan tersebut harus terdaftar secara resmi di Kementerian Pertanian dan dalam masa edar.

Namun demikian PPK (pejabat pembuat komitmen) tidak wajib menyediakan komponen saprodi sesuai dengan usulan kelompok tani. PPK menyediakan komponen saprodi berdasarkan pertimbangan ketersediaan anggaran, kesesuaian dengan agroekosistem, ketersediaan komponen saprodi atau pilihan petani. Jika komponen saprodi yang disediakan tidak sesuai pilihan kelompok tani, maka petani diperkenankan menolak bantuan,” katanya.

Menurutnya, paket bantuan yang diberikan bersifat stimulan. Artinya apabila bantuan yang tersedia tidak mencukupi untuk menyediakan paket teknologi yang direkomendasikan Badan Litbang Kementan atau instansi lainnya, maka tambahan anggaran dapat didukung dari anggaran APBD Provinsi, APBD Kabupaten/Kota dan atau swadaya.

Jenis Bantuan

Untuk benih padi dalam paket bantuan  yang dapat diberikan adalah hingga 80 kg/ha. Spesifikasi benih padi yang digunakan antara lain. Pertama, benih bersertifikat minimal kelas benih sebar (BR/ES), masih dalam masa edar hingga saatnya benih ditanam. Jika tidak tersedia benih bersertifikat dimungkinkan dapat menggunakan varietas lokal yang telah didaftarkan Kepala Dinas yang melaksanakan sub urusan pemerintahan  di bidang tanaman pangan di kabupaten/kota.

Kedua, diikemas menggunakan bahan plastik tebal transparan kedap air dan udara untuk menjaga mutu benih selama masa distribusi hingga saatnya penanaman. Ketiga, pada kemasan bertuliskan “Bantuan Benih Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (Pusat) Tahun 2019, Barang Milik Pemerintah Dilarang Diperjualbelikan”, serta produsennya jelas dan tulisan dalam label dalam kemasan mudah terbaca.

Sementara itu untuk bantuan dolomit yang diadakan adalah kapur pertanian yang mengandung unsur Magnesium (Mg) dan Kalsium (Ca) yang terdaftar secara resmi di Kementerian Pertanian dan dalam masa edar. Misalnya yang terdapat dalam buku “Pupuk Terdaftar Tahun 2016” Ditjen PSP, Kementarian Pertanian. Jumlah dolomit yang disediakan melalui bantuan adalah 1.000 kg/ha.

Untuk bantuan herbisida yang diadakan disesuaikan kebutuhan (spesifik lokasi) terdaftar secara resmi di Kementerian Pertanian dan dalam masa edar (tertuang dalam buku “Pestisida Pertanian dan Kehutanan Tahun 2016” Ditjen PSP, Kementerian Pertanian). Jumlah herbisida yang disediakan melalui bantuan adalah 5 lt/ha. Jenis herbisida yang digunakan adalah herbisida pra tumbuh dan atau pasca tumbuh yang memiliki cara kerja sistemik dan atau kontak.

Pupuk hayati yang digunakan mengandung mikroorganisme dekomposer pembenah tanah. Contoh mikroorganisme yang terkandung dalam pupuk hayati. Diantaranya, Trichoderma sp, Bacillus sp, AzospIrillum sp. Aspergillus niger, Pantoea sp., Penicillium sp. Streptomyces sp dan atau mikroba lainnya.

Selain itu dapat juga digunakan  biakan mikroba (bakteri atau cendawan) yang dapat meningkatkan ketersediaan hara tanah, meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman. Jumlah pupuk hayati yang dapat disediakan melalui bantuan adalah 25 kg/ha.  Pilihan pupuk hayati menggunakan yang sudah terdaftar di Kementerian Pertanian dan dalam masa edar (misalnya yang terdapat dalam buku “Pupuk Terdaftar Tahun 2016” Ditjen PSP, Kemente rian Pertanian).

Menurut Pusat Data  dan Informasi Daerah Rawa dan Pesisir tahun 2015, luas lahan rawa yang sudah dimanfaatkan untuk produksi pertanian hanya sekitar 4.527.596 ha, dengan rincian 4.186.070 ha untuk lahan pasang surut, serta 341.526 ha untuk lahan rawa lebak.

Potensi lahan rawa yang sangat luas tersebut harus dimanfaatkan secara maksimal untuk dapat mengurangi berbagai ancaman dan kondisi yang dapat mengurangi produksi beras dalam negeri,” kata Bambang.  Sasaran kegiatan optimasi lahan rawa untuk tahun ini berada di Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan   dan   provinsi  lain   yang  memiliki lahan  rawa. Total alokasi seluas 500.000 ha.

Pengembangan lahan rawa program SERASI diarahkan pada peningkatan indeks pertanaman, dari IP 100 menjadi IP 200 atau dari IP 200 menjadi IP 300 sehingga dapat meningkatkan produksi dan produktivitas. Pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan pendapatan petani.

“Sasaran pengembangan lahan rawa ini adalah meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) dan produktifitas, serta meningkatkan partisipasi P3A/GP3A/Poktan/Gapoktan dalam pengelolaan lahan rawa,” kata Bambang Pamuji.

 

Reporter : Julian
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018