Minggu, 21 Juli 2019


Jadi Siklus Rutin, Ini Antisipasi Kementan Atasi Kekeringan

17 Jun 2019, 11:21 WIBEditor : Gesha

Musim tanam saat kemarau dilakukan dengan catatan sistem pengairan atau irigasinya harus bagus. | Sumber Foto:HUMAS KEMENTAN

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bekasi – Memasuki musim kemarau Kementerian Pertanian memberikan perhatian khusus terhadap potensi terjadinya kekeringan terhadap lahan pertanian produktif.

Salah satunya di kabupaten Bekasi. Hamparan sawah yang mengering di Kabupaten Bekasi mulai nampak. Tim Upaya Khusus Swasembada Pangan Propinsi Jawa Barat, khususnya di Kabupaten Bekasi melakukan beberapa langkah antisipasi. 

Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil selaku Ketua Tim Penanggung jawab UPSUS Jabar menyampaikan bahwa agar tidak tidak sampai menyebabkan gagal panen, beberapa langkah antisipasi perlu dikakukan.

Tim yang terdiri dari unsur Kementerian Pertanian, dinas pertanian dan dinas terkait, Babinsa TNI AD dan petani ini melakukan berbagai upaya untuk memastikan distribusi air tetap merata dan bisa dinikmati oleh para petani. 

"Ini siklus tahunan dan akan kita tanggulangi bersama. Jangan sampai petani terkendala dalam berproduksi, karena selain berpengaruh buat pendapatan petani, juga akan berpengaruh terhadap pasokan beras nasional," ujar Ali Jamil saat meninjau lahan percepatan tanam di wilayah Kodim 0509/Kabupaten Bekasi, Minggu (16/6).

Kekeringan ini diakibatkan hujan tak kunjung turun, sedangkan pasokan air dari irigasi pun berkurang.

Karena itu, dirinya dan seluruh jajaran tim Upsus provinsi Jabar melakukan peninjauan di sawah hamparan seluas 100 ha yang telah siap tanam dan sedang diolah milik H.Noyan, Kampung Pule Warung Seri Karang Setia Rt 02/02 Kecamatan Karang Bahagia, Kabupaten Bekasi.

Jamil menjelaskan bahwa saat ini luas baku sawah di Kab.Bekasi adalah 48.382 Ha, standing crop 3 bulan terakhir sekitar 28.231 ha sehingga potensi lahan tersedia untuk bulan Juni adalah sekitar 20.151 ha. 

Pada Juni diharapkan minimal 15.000 Ha dengan sisa lahan yg tidak tersedia airnya. "Kami mendorong petani dibantu oleh Babinsa dan dinas terkait melakukan percepatan tanam di musim tanam gadu. Musim tanam gadu dimulai pada April sampai Juli," tuturnya.

Musim tanam saat kemarau dilakukan dengan catatan sistem pengairan atau irigasinya harus bagus. "Kurangnya suplai air pada musim tanam gadu yang menjadi kendala agar dikoordinasi dengan pihak PJT dan juga berdayakan pompa Alsintan,” ujar Jamil.

Jamil juga menjelaskan, area yang kekurangan alsintan Mesin Perontok agar dapat segera mengajukan permohonan melalui Distankab.

Sementara untuk melakukan normalisasi saluran irigasi akibat pendangkalan, khususnya di Desa Karang Setia agar dapat segera melaksanakannya dengan menggunakan beko Brigade alsintan, adapun operasionalnya gunakan dana ADD Karang Setia. "Jangan ditunda, lalukan segera agar petani dapat terus berproduksi” tegasnya.

Sementara terkait harga gabah dan beras rendah saat musim panen, Jamil menyampaikan bahwa ia akan segera melakukan koordinasi dengan Bulog.

"Serapan Bulog akan menanggulangi permasalahan ini karena hal ini telah diatur pemerintah. Jadi kita hadapi bersama siklus tahunan ini, dan selamat bertanam”, pungkasnya.

Reporter : Kontributor
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018