Rabu, 18 September 2019


Petani Jawa Barat Kehilangan Pendapatan Rp 371 Juta Akibat Kekeringan

02 Jul 2019, 14:33 WIBEditor : Gesha

Petani Jawa Barat mengalami kerugian sekitar Rp 371 Juta | Sumber Foto:TABLOID SINAR TANI

Kehilangan pendapatan paling besar dirasakan oleh petani Indramayu yang mencapai Rp 104 juta dari kehilangan hasil sebanyak 21.796 ton.


TABLOIDSINARTANI.COM, Indramayu -- Kekeringan menjadi ketakutan tersendiri bagi petani karena pertanamannya tidak maksimal dalam produksi sehingga mengalami kehilangan hasil yang cukup besar.

Berdasarkan data dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Barat, akibat adanya kemarau hingga 2 Juki 2019 ini, diprediksikan petani mengalami kehilangan pendapatan mencapai Rp 371 juta dari potensi kehilangan hasil sebanyak 77.389 ton untuk seluruh kota dan kabupaten di Jawa Barat.

Kehilangan pendapatan paling besar dirasakan oleh petani Indramayu yang mencapai Rp 104 juta dari kehilangan hasil sebanyak 21.796 ton.

Hitungan tersebut menggunakan asumsi harga GKP sebesar Rp 4800 per kilogramnya.

Namun jika dilihat dari total lahan padi yang terkena dampak kekeringan di Jawa Barat dibandingkan dengan luas pertanaman di Jawa Barat, hanya sekitar 4,43 % saja yang mengalami kehilangan hasil produksi.

Dihubungi terpisah, Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Sarwo Edhy menuturkan pihaknya terus mendorong petani padi untuk memanfaatkan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) sebelum memulai menanam padi.

Dengan membayar premi Rp 36 ribu/ha/musim, petani yang sawahnya terkena bencana banjir dan serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dapat klaim (ganti) Rp 6 juta/ha bila mengalami gagal panen akibat kekeringan.

"Jadi kalau mereka sudah melakukan perlindungan dengan AUTP, gagal panen akibat kekeringan bisa dicover. Preminya juga murah," tuturnya.

AUTP merupakan cara Kementan untuk melindungi usaha tani agar petani masih bisa melanjutkan usahanya ketika terkena bencana banjir, kekeringan atau serangan OPT. Karena AUTP menjadi program Kementan, premi asuransi tani tersebut sampai saat ini masih disubsidi pemerintah Rp 144 ribu per hektare.

"Kami harapkan semua petani padi bisa mendaftar sebagai anggota AUTP. Karena harga preminya murah dan sangat bermanfaat," ujarnya

Harus Tetap Optimis
Direktur Irigasi Ditjen PSP Rahmanto mengatakan, BMKG sudah sejak dini menginformasikan bahwa musim kemarau 2019 akan dipengaruhi oleh El-Nino lemah. Namun tidak berpengaruh signifikan terhadap penurunan curah hujan pada musim kemarau 2019.

Kemarau adalah fenomena iklim yang berulang tiap tahunnya. Untuk penanggulangan kekeringan jangka panjang Kementan melakukan program perbaikan irigasi, bantuan alsintan, pembangunan embung, pengembangan tata air mikro di lahan rawa dan pasang-surut, dan bantuan benih tahan kekeringan untuk mengantisipasi potensi kekeringan dan menghindari penurunan hasil produksi petani. Puluhan infrastruktur besar berupa bendungan juga tengah dibangun di berbagai daerah.

Untuk memelihara optimisme produksi padi 2019, Kementan telah melakukan berbagai upaya menghadapi kekeringan.

Menjaga kecukupan ketersediaan air, untuk jangka pendek Kementan membuat sumur pantek dan pompanisasi air sungai di wilayah potensial. 

Selain itu, penyediaan benih unggul tahan kekeringan, pengaturan pola tanam, minimalisir risiko kekeringan, penyediaan asuransi usahatani dan menggenjot pertanaman di lahan rawa, lebak dan pasang surut.

Reporter : Nattasya
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018