Jumat, 13 Desember 2019


Petani Jagung Waspadalah !!!, Ulat Tentara Sudah Masuk Jawa

10 Jul 2019, 16:26 WIBEditor : GESHA

Waspadalah petani jagung!, ulat grayak masuk Pulau Jawa | Sumber Foto:TABLOID SINAR TANI

Untuk mengantisipasi serangan FAW tak menyebar ke daerah lain, perlu dilakukan pendekatan pengelolaan hama terpadu (PHT).

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta ---- Serangan  Fall Armyworm, jenis Spodoptera frugiperda (FAW), atau ulat tentara ke sejumlah daerah di tanah air harus diwaspadaI. Awalnya menyerang tanaman jagung di  Pasaman Barat, Sumatera Barat (Sumbar), Aceh, Lampung, Jambi dan Bekulu (Sumatera). Kini, serangga asal Negeri Paman Sam  tersebut sudah merambah ke Banten, dan Tegal (Jawa).

“Bukan bermaksud menakut-nakuti. Tapi, serangan FAW di beberapa daerah di Sumatera dan Jawa itu sebagai early warning system bagi petani jagung dan pemerintah. Sebelum lebaran tahun ini masih di Sumatera dan setelah lebaran tahun ini sudah sampai di Banten dan Tegal,” papar Ketua Tim Teknis Komisi Pestisida Indonesia, Departemen Proteksi Tanaman Fak. Pertanian IPB, Prof. Dr.Ir. Dadang kepada tabloidsinartani.com.

Menurut Dadang, apabila saat ini sudah masuk Tegal, untuk masuk ke Jawa Timur (Jatim) tinggal menunggu waktu. “Saat itu, kami sudah memberi warning, FAW sudah masuk ke Pasaman Barat. Karena itu, untuk menyebar di Jawa, khususnya di Jawa Timur yang lahan jagungnya cukup luas juga tinggal menunggu waktu. Sebab, serangga ini mempunyai daya jelajah yang cukup jauh,” jelas Dadang.

Dadang menjelaskan, di negara asalnya (AS), FAW  memiliki jadwal migrasi yang tetap. Hama tersebut memencar ke seluruh penjuru AS dan terbang ke bagian selatan Canada setiap musim panas. Sehingga migrasi menjadi strategi untuk bertahan hidup serangga tersebut.

Pemencaran terjadi pada saat imago belum bertelur dan ngengat FAW bisa memencar mengikuti angin. Bahkan, jenis serangga ini dapat memencarkan dari Mississippi  ke Canada dalam waktu 30 jam. “Seringkali larva terbawa oleh sayuran, buah, atau tanaman hias yang dikirim dari AS ke Eropa dengan transportasi udara,” ujarnya.

Dadang memperkirakan, masuknya FAW ke sejumlah daerah di Indonesia ini dikarenakan hama ini merupakan penerbang yang kuat. Imago dengan bantuan angin, dapat terbang sampai 100 km per hari.  Selain punya ketertarikan terhadap cahaya, FAW bisa juga menyebar melawati sayuran yang diimpor.  Mungkin juga lewat impor jagung yang akan dijadikan pakan atau sebagai bibit induk.

FAW umumnya menyerang tanaman jagung yang masih muda. Pada fase larva bisa merusak tanaman dan pada fase imago menyebabkan hama ini cepat menyebar. “Populasi terkadang rendah,  sehingga keberadaan larva kadang sulit dideteksi. Serangga ini juga bisa masuk ke dalam bagian tanaman dan aktif makan di sana,” ujar Dadang.

Kendati populasinya rendah, kecepatan reproduksi serangga yang menghebohkan tersebut cukup tinggi. Ulat tentara betina, mampu bertelur  sebanyak 1.844 butir dan antar generasi dapat overlapping . Tak heran apabila, FAW merupakaan hama yang sangat merusak dan bisa menyerang sejumlah tanaman pangan lainnya di dunia. FAW memiliki kisaran inang yang sangat luas dan yang lebih disukai adalah rumput.

Baca Juga :

Petani Jagung, Waspadalah ! Ulat Tentara Sudah Masuk Ke Indonesia

Inilah Ciri Ulat Tentara yang Bikin Geger !

 

Serang Tanaman Jagung, Waspadai Ulat Tentara Jenis Baru

Sedangkan tanaman inang yang paling sering terkena serangan adalah jagung ladang, jagung manis, padi, sorgum, tebu, dan rumput bermuda. FAW juga menjadi hama serius pada tanaman kedelai, kapas, kacang tanah, bawang, umbi jalar, tomat dan sejumlah tanaman hias. Beberapa gulma seperti keluarga kangkung, teki dan bayam,  juga dapat sebagai inang.

Menurut Dadang , kerusakan tanaman terutama disebabkan oleh larva yang mengkonsumsi jaringan daun.  Larva FAW juga mampu menggali lubang ke dalam titik tumbuh (kuncup, pusaran, dll).

“Karena itu, apabila hama ini tak diatasi berpotensi menghancurkan pertumbuhan tanaman di masa depan. Kehilangan hasil atas seranga FAW berkisar  30-60%,” ujar Dadang.

Kerugian Besar

Dadang menyebutkan, serangan ulat tentara di beberapa negara telah menimbulkan kerugian ekonomi cukup besar. Dadang mencontohkan,  kerugian akibat serangan FAW pada tanaman jagung di 12 negara Afrika antara  4 -18 juta ton per tahun senilai US$1-4.6 juta/tahun. Kemudian, di Nicaragua serangan FAW menimbulkan kerusakan 15-73%.  Bahkan, di  India, akibat hama FAW, produksi jagung negara tersebut turun hingga 50% .

Menurut Dadang, untuk mengantisipasi serangan FAW tak menyebar ke daerah lain,  perlu dilakukan pendekatan pengelolaan hama terpadu (PHT). Artinya,  petani harus diberi akses terhadap sarana yang efektif untuk mencegah kerusakan tanaman mereka antara lain dengan insektisida atau melalui musuh alami hama tersebut.

“Memang sudah dicoba menggunakan insektisida, tapi ulat grayak jenis baru ini tidak mempang.  Karena itu, harus dicari alternatif pestisida jenis lainnya.  Kabarnya sudah ada, dan saat ini sedang dalam proses pendaftaran ke Kementan,” papar Dadang.

Dadang juga mengungkapkan, ada beberapa kemungkinan mengapa hama tersebut tak mempan insektisidsa. Nah, mungkin waktu petani melakukan penyemprotan,  tata caranya atau sasarannya salah. Sehingga, insektisida tersebut kurang efektif.

“Karena itu, bisa saja sejumlah perusahaan melakukan uji coba langsung ke lapangan. Nah, nanti insektisida yang mampu menekan populasi FAW tersebut bisa didaftarkan peredarannya ke Kementan. Saya dengar hal ini sudah dilakukan sejumlah perusahaan pestisida,” papar Dadang.

Lantaran hama FAW ini sangat mematikan dan menimbulkan kehilangan hasil begitu besar,  Dadang berharap, pengelolaan FAW harus melibatkan berbagai pemangku kepentingan.  Diantaranya dengan petani, pemerintah, penyedia jasa, LSM dan sektor swasta.

Selain menggunakan insektisida untuk menekan polulasi hama tersebut,  petani bisa menggunakan pestisida biologi yang sah dan musuh alami. Sehingga petugas POPT harus gerak cepat melakukan antisipasi supaya serangan FAW tak meluas.

“Karena itu, petani perlu diberi informasi mengenai pendekatan pengelolan hama, efektivitasnya  dan bagaimana mengaplikasi insektisida untuk memaksimalkan efektivitasnya.  Petani juga perlu diberi tahu cara meminimalkan risiko insektisida yang digunakan terhadap kesehatan dan lingkungan,” pungkas Dadang. 

Reporter : INDARTO
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018