Sabtu, 24 Agustus 2019


Pengendalian FAW Masih Secara Mekanis dan Kimia

14 Jul 2019, 12:12 WIBEditor : Gesha

FAW ini menyerang semua fase tanaman. Inilah yang membedakannya dengan ulat lainnya yang biasa menyerang di fase tanaman tertentu | Sumber Foto:TABLOID SINAR TANI

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Kabar tentang Fall Army Worm (FAW) yang sudah sampai ke Pulau Jawa diakui juga oleh Kepala Balai Penelitian Tanaman Seralia, Dr. Muhammad Azrai. Berbagai upaya pun sudah dan tengah dilakukan oleh pihaknya untuk meminimalkan serangan dan dampak dari FAW tersebut, salah satunya dengan pengendalian secara mekanis maupun kimiawi (dengan insektisida).

"Kalau tanaman (jagung) sudah dewasa dan terkena serangan, ya terpaksa kita musnahkan. Tapi kalau masih muda, masih kita bisa dikendalikan secara kimia, ya kita kendalikan dengan insektisida supaya tanaman bisa segar kembali," ungkapnya kepada tabloidsinartani.com.

Meskipun begitu, petani membutuhkan penyemprotan berkali-kali untuk mengendalikan dan menyegarkan tanaman yang telah terkena FAW. "Karena FAW ini tinggal di gulungan daun yang lebih muda," tuturnya.

Azrai menceritakan jika kerugian dari serangan FAW ini bisa mencapai 70 persen jika terlambat dikendalikan. "FAW ini menyerang semua fase tanaman. Inilah yang membedakannya dengan ulat lainnya yang biasa menyerang di fase tanaman tertentu. Tapi kalau dia masih di fase awal tanam, masih bisa kita kendalikan," tuturnya.

Meskipun begitu, petani jagung tidak perlu panik karena beberapa perusahaan pestisida sedang mengajukan ijin edar beberapa jenis insektisida yang dapat mengendalikan hama tersebut. "Kita juga tengah mengembangkan insektisida nabati dengan sistem parasitinoid yaitu pengendalian dengan musuh alami dari FAW," tuturnya.

Untuk di Banten misalnya, Azrai menuturkan dengan kondisi emergency, pengendalian dilakukan secara kimiawi dengan pestisida yang tersedia. "Yang terkena memang baru spot -spot saja, tapi pengendaliannya sudah kita lakukan secara massal. Tidak boleh individu- individu karena kalau sudah berpindah susah," tegasnya.

Pengendalian ini pun diakui Azrai tidak bisa dilakukan dengan mengisolasi daerah yang terkena FAW. Sebab ngengat betina dari FAW memiliki daya jelajah yang jauh hingga mencapai ratusan ribu kilometer bahkan antar benua. "Bayangkan saja dari Amerika, masuk Afrika, kemudian menyebar ke Asia," tuturnya.

FAW juga sulit untuk diberantas habis dan populasi FAW kemungkinan akan terus meningkat seiring dengan ketersediaan inang untuk berkembang biak disertai dengan absennya musuh alami (predator seperti semut, cecopet, dan parasitoid) serta entomopatogen (virus, bakteri, dan jamur).

Di Indonesia, FAW masuk dari Pasaman Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, Sumatera Barat, Sumatera Utara, sehingga hampir di seluruh Sumatera. Baru- baru ini FAW menyebrang ke Banten dan sampai ke Jawa Tengah.

Bahkan kini ada kecendrungan FAW untuk menyerang tanaman selain jagung. Seperti kedelai, sorgum, gandum hingga tebu. Bahkan di Ciwidey, Jawa Barat, sudah ditemukan FAW menyerang tanaman padi.

Karena itu, Balitsereal bersama pihak lainnya masih melakukan monitoring di beberapa lokasi sentra. "Kita bentuk tim bersama BPTP di daerah dan melaporkan perkembangannya di setiap wilayah. Kita juga buat buku saku untuk bentuk pengenalan dan ciri- ciri tanaman yang terkena FAW untuk dijadikan pegangan kepada Penyuluh, petugas pertanian OPT dan lainnya," tuturnya.

Untuk diketahui, beberapa negara produsen jagung maupun tanaman serealia memang tengah mengalami kerugian besar dengan adanya serangan FAW ini.

"Sebenarnya jika kita bisa meningkatkan produksi jagung Indonesia disaat negara lain tengah turun produksinya karena FAW, bisa menjadi peluang besar untuk melakukan ekspor. Karenanya, pengendalian FAW sangat penting agar tidak menyebabkan penurunan produksi jagung nasional," tuturnya.

Reporter : Nattasya
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018