Sabtu, 24 Agustus 2019


Peluang Pengembangan Mi Pangan Lokal Terbuka Lebar

23 Jul 2019, 19:08 WIBEditor : Gesha

Mie dari bahan baku lokal sangat terbuka peluangnya | Sumber Foto:TABLOID SINAR TANI

TABLOIDSINARTANI.COM,Jakarta --- Banjirnya produk pangan impor seperti terigu membuat masyarakat Indonesia kini lebih terbiasa mengkonsumsi mi berbahan baku impor tersebut. Kondisi tersebut membuat perhatian terhadap pangan lokal pun menjadi terabaikan. Padahal potensi sumberdaya pangan lokal yang bisa menjadi bahan baku mi cukup besar.

Jika melihat pola konsumsi masyarakat Indonesia saat ini, mi merupakan sumber karbohidrat kedua yang banyak dikonsumsi setelah beras. Bahkan hasil penelitian, ternyata pola konsumsi masyarakat mulai bergeser ke terigu dan mi.

Mi sendiri  umumnya dibuat dari terigu yang merupakan produk impor.  Alasan utama terigu menjadi bahan baku utama pembuatan mi adalah teksturnya yang kenyal dan tidak mudah patah karena mengandung gluten.

Nah, guna mengurangi ketergantungan terhadap produk impor, kini dikembangkan mi dari bahan pangan lokal. Balai Besar Pascapanen Pertanian, Badan Litbang Pertanian, telah memiliki teknologi pengolahan mi berbahan baku tepung dalam negeri, seperti ubi kayu, shorgum, sagu dan hanjeli.

“Kita ini bukan produsen terigu, hampir 11 juta ton kita impor terigu tiap tahun. Karena itu kita perlu memperhatikan kembali pangan lokal. Bahkan sesuai UU Pangan kita punya kewajiban mengembangkan pangan lokal,” kata Peneliti Balai Besar Pascapanen Pertanian, Heni Herawati.

Menurutnya, potensi ubi kayu sebagai bahan baku tepung mi cukup besar dari ujung barat hingga timur Indonesia. Dari mulai Sumatera Utaran, Bangka Belitung, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Tenggara, NTB, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah dan Maluku.

Potensi lainnya ungkap Heni adalah jagung. Komoditas tersebut banyak ditanam petani di Jawa Tengah, Jawa Timur, Gorontalo, NTT, NTB. Sedangkan potensi ubi jalar berada di Aceh, Sumatera Utara, Riau, Bengkulu, Banten dan Papua. Belum lagi potensi sagu yang tersebar di Riau, Pulau Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua.

Penanganan Khusus

Dengan potensi pangan lokal yang sangat besar itu, BB Pascapanen Pertanian telah menghasilkan teknologi pengolahan mi dari tepung lokal.

Namun demikian Heni mengakui, pengolahan mi berbahan baku tepung lokal memerlukan penanganan secara khusus. “Karena tidak mengandung gluten yang memiliki sifat fungsional dan elastistis tinggi perlu cara sendiri dalam membuat mi lokal,” ujarnya.

Heni mengungkapkan, jika yang ada hanya kandungan pati, maka akan berpengaruh terhadap tekstur mi. Karena itu untuk membuat mi bahan baku lokal harus melalui tahap glatinisisasi. “Proses glatinisasi ini menjadi titik kritis saat mencetak olahan mi,” katanya.

Sementara itu peneliti BB Pascapanen Pertanian lainnya, Elmi Kamsiati menambahkan, salah satu kelemahan bahan baku lokal untuk membuat mi adalag teksturnya tidak kenyal, sehingga mudah patah karena tidak mengandung gluten. Karena itu formulanya harus dibuat secara tepat agar bisa menghasilkan produk mi yang sesuai diinginkan.

“Biasanya terigu masih ada yang menggunakan untuk campuran dalam jumlah tertentu dalam pembuatan mie dari bahan pangan lokal untuk memperoleh tekstur yang baik,” kat Elmi.

BB Pascapanen Pertanian telah mengembangkan metode Sheeting untuk membuat mi pangan lokal. Dalam metode ini, adonan yang diformulasi, dicetak berbentuk lembaran yang kemudian dipotong menjadi untaian mi.

Metode lainnnya adalah Ekstrusi. Proses  yang melibatkan pemberian tekanan dan daya dorong terhadap suatu bahan pangan pada kondisi (panas dan tekanan) melewati die plate (tahanan) untuk memberikan bentuk yang diinginkan.

Elmi mencontohkan cara pembuatan mi singkong dengan mencampurkan tepung ubikayu dengan garam, aduk sampai rata. Lalu Tambahkan kuning telur, campur sampai rata. Tambahkan air, campur sampai rata.

Kemudian letakkan pada kain saring, padatkan, kukus selama 25 menit. Proses  dan cetak dengan ekstruder. Keringkan, suhu 50°C, 3 jam. Mi singkong pun jadi.

Untuk masyarakat wilayah Indonesia Timur, menurut Elmi, bisa juga membuat mi dari bahan baku tepung  sagu. Bahan bakunya 1 kg tepung sagu dan air sebanyak 300 ml.

Cara pembuatan mi sagu juga tak sulit. Campur tepung sagu dengan air sampai rata, lalu letakkan pada kain saring, padatkan dan kukus selama 30 menit. “Proses  dan cetak dengan ekstruder, serta keringkan dengan suhu 50°C selama 3 jam,” ujarnya.

Untuk membantu masyarakat mengolah mi lokal, BB Pascapanen Pertanian siap memberikan  bimbingan teknis. 

Reporter : TABLOID SINAR TANI
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018