
Aneka tepung bahan pangan lokal yang telah dihasilkan Balai Pengkajian Alih Teknologi Pertanian
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Pangan lokal seperti, ubi kayu, jagung dan sagu tak hanya bisa dijadikan diversifikasi pangan masa depan. Ketiganya setelah diproses menjadi tepung (kering) bisa dimanfaatkan sebagai substitusi industri pangan nasional.
Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan), Agung Hendriadi mengatakan, sampai saat ini ketergantungan industri pangan nasional terhadap gandum cukup tinggi. Pada tahun 2017 lalu, dari impor gandum sebanyak 10,5 juta ton, sekitar 8 juta ton dimanfaatkan untuk kebutuhan bahan baku industri pangan nasional.
“Padahal kita punya bahan pangan lokal yang cukup banyak, seperti singkong,sagu dan jagung. Kalau bahan pangan lokal ini diproduksi menjadi tepung, nantinya bisa menjadi substitusi bahan baku industri pangan nasional,” kata Agung Hendriadi, pada FGD bertema “Upaya Melokalkan Bahan Baku Industri Pangan”, di Kantor Kadin, Jakarta, Rabu (24/7).
Menurut Agung, singkong, sagung dan jagung bisa dikembangkan di masyarakat dan diolah menjadi tepung sebagai bahan intermediate (antara, red) untuk memproduksi bahan pangan seperti mie. “Karena itu, kita sudah rumuskan komoditas yang akan dikembangkan yang tepungnya bisa dimanfaatkan sebagai bahan dasar industri lanjutan yang potensi produksinya luar biasa,” kata Agung Hendriadi.
Agung juga mengakui, pengembangan tiga komoditas pangan lokal (singkong, sagu dan jagung) untuk bahan intermediate bukanlah hal mudah. Salah satu kendalanya adalah keterbatasan bahan baku. Artinya, produksi ketiga komoditas tersebut masih rendah sehingga harga per kg-nya mahal.
Menurut Agung, untuk singkong harganya Rp 3.000/kg, sehingga setelah menjadi tepung harganya Rp 12 ribu/kg. Begitu juga untuk tepung sagu, harganya Rp 4.800/kg-Rp 5.000. Sementara itu, tepung terigu harganya hanya Rp 8.000/kg.
“Karena itu, agar mampu bersaing, kita harus mulai bergerak dari hulu-hilir. Kalau harga singkong bisa Rp 2.000/kg dan setelah diproses menjadi tepung harganya bisa di bawah Rp 8.000/ kg, kami harap nantinya bisa menjadi substitusi,” kata Agung.
Selain mengembangkan tiga komoditas tersebut dari hulu sampai hilir, Agung juga berharap ada regulasi dari pemerintah supaya industri pangan nasional bisa menggunakan campuran tepung lokal sebanyak 10% . “Dulu memang ada rencana untuk menyusun Inpress terkait penggunaan tepung lokal sebanyak 10%,” ujar Agung.
Menurut Agung, untuk menerapkan kewajiban industri pangan nasional mengguakan campuran tepung lokal sebanyak 10%, harus dilihat dulu potensi bahan baku di dalam negeri. Artinya, kalau produksinya nanti sudah mencapai 1 juta ton per komoditas, tak tertutup kemungkinan akan ada kewajiban industri pangan untuk menggunakan tepung lokal sebanyak 10%.
Pengembangan 10 Lokasi
Guna mendorong peningkatan produksi ketiga komoditas pangan lokal tersebut, Kementan sudah mengembangkannya di 10 lokasi. Seperti komoditas sagu mulai dikembangkan di Kabupaten Meranti, Karimun (Kepulauan Riau), Merauke, dan Seram Bagian Tengah (SBT). Kemudian, untuk jagung mulai dikembangkan di Nusa Tenggara Timur (NTT), Gorontalo dan Sulawesi Selatan (Sulsel). Sedangkan singkong, mulai dikembangkan di Lampung, Grobogan, dan Sukabumi.
“Yang kita kembangkan ini skalanya memang masih UMKM. Seperti di Meranti produksinya sudah mencapai 400 ribu ton/tahun. Karena itu, kita menggandeng Kadin untuk mengembangkan potensi bahan pangan lokal ini. Kita harapkan Kadin bisa mengembangkan tiga komoditas tersebut, sehingga produksinya nanti bisa meningkat,” papar Agung.
Agung juga mengatakan, selain ikut mengembangkan ketiga komoditas pangan lokal tadi, Kadin diharapkan bisa menggunakan produk tersebut sebagai bahan baku campuran industri pangan nasional. “Nah, Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) nantinya kami harap bisa menjadi off taker-nya. Dengan banyaknya dukungan dari Kadin dan GAPMMI, ke depan tak akan ada lagi persoalan kestersediaan bahan baku sampai ke pasarnya,” papar Agung.