Minggu, 18 Agustus 2019


Upsus dan Kedaulatan Pangan Semakin Tercapai Berkat Penyuluh dan Babinsa

08 Agu 2019, 17:47 WIBEditor : Gesha

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian, Prof Dedi Nursyamsi memberikan motivasi bagi pelaksana Upsus di Kalimantan Barat | Sumber Foto:HUMAS BPPSDMP

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Pontianak --- Upaya Khusus (Upsus) untuk mendongkrak produksi dan mewujudkan kedaulatan pangan semakin tercapai. Semua berkat kerja keras berbagai pihak, salahsatunya penyuluh pertanian dan babinsa.

"Dulu yang namanya pupuk petani tidak mau pakai, sampai harus ditongkrongin babinsa baru petani menggunakan pupuk urea saat itu. Begitu terbukti pupuk meningkatkan produksi sampai berlipat-lipat, sekarang kalau petani kurang pupuk sedikit saja sudah teriak-teriak. Itu jasa siapa ? Itu jasa penyuluh dan babinsa," tutur Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian, Prof. Dedi Nursyamsi di hadapan para petugas Upaya Khusus (UPSUS) Padi, Jagung, Keledai (Pajale) se-Kalimantan Barat, Kamis (8/8).

Dalam mewujudkan kedaulatan pangan, Kementerian Pertanian dibantu oleh TNI untuk selalu hadir. “Sudah ada tekad, sudah ada semangat pasti ada kesulitan diperjalanan, namanya perjuangan ya seperti itu. Kita harus gunakan potensi kita semaksimal mungkin," tuturnya.

Lebih lanjut Prof Dedi menuturkan dalam mencapai kedaulatan pangan NKRI, Presiden Jokowi menetapkan nawacita. “Kenapa salah satu nawacita adalah kedaulatan pangan? Kata daulat berasal dari bahasa arab yaitu adaulat yang artinya berkuasa. Jadi kedaulatan pangan adalah kekuasaan atas pangan. Artinya kita harus betul-betul berdaulat, berkuasa di bidang pangan. Tidak boleh ada negara lain yang mendikte pangan kita. Tidak boleh ada negara lain yang mengatur pangan kita," tegasnya.

Karenanya, UPSUS menjadi suatu jalan menuju kedaulatan pangan tersebut. “Jangan puas kita sudah merdeka berdaulat sejak 1945, tapi kalau pangan kita masih didikte diatur oleh orang lain berarti kita belum berdaulat. Mau tidak mau, suka tidak suka kita harus berdaulat di bidang pangan," tukasnya.

Prof Dedi menambahkan bahwa Upsus ini adalah  amanat Presiden Soekarno yang pernah mengatakan bahwa masalah pangan itu adalah masalah hidup dan matinya suatu bangsa. Sehingga jika ada suatu bangsa yang tidak mampu mengatasi pangan adalah sebuah malapetaka. "Oleh karena itu perlu usaha secara besar-besaran, radikal dan revolusioner. Itulah upsus, upaya khusus," tegas Prof Dedi. 

Prof Dedi juga mencoba membangkitkan semangat Upsus Kalbar yang sempat turun performanya hingga pertengahan tahun ini. Padahal di tahun 2018, Provinsi Kalbar termasuk yang terbaik bahkan surplus.  "Memang yang namanya perjuangan itu fluktuatif ada naik ada turun. Jadi kalau kemarin sempat turun 52 ribu Ha sekarang sudah saatnya naik lagi," tegas Prof Dedi. 

Reporter : Kontributor
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018