Rabu, 18 September 2019


Mampu Gantikan Beras Japonica, Beras Tarabas Kian Unggul di Pasar Dunia

08 Agu 2019, 18:35 WIBEditor : Gesha

Beras Tarabas dari Indonesia dinilai mampu gantikan beras Japonica | Sumber Foto:HUMAS TANAMAN PANGAN

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Bagi pecinta nasi Jepang yang biasa diolah dari beras Japonica kini banyak yang beralih ke Beras Tarabas. Bahkan di pasar dunia, beras dari varietas unggul ini kian dipuji.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Suwandi mengatakan di tahun 2015 sampai dengan 2019 Indonesia sudah berhasil menghentikan impor beras Japonica hingga menjadi nihil. Padahal sebelumnya tercatat impor terakhir beras Japonica di tahun 2014 sejumlah 1.079 ton senilai Rp 18 Milyar. 

"Namun kini Indonesia bahkan termasuk dalam deretan penghasil beras Japonica disamping Jepang, Amerika Serikat, Prancis, Korea Selatan dan Thailand," demikian ujar Suwandi di Jakarta, Kamis (8/8).

Untuk diketahui, beras Japonica yang banyak tumbuh dan ditanam petani di Negara Jepang banyak digunakan restoran Jepang dan Korea di berbagai negara termasuk Indonesia. Beras Japonica memiliki ciri-ciri kadar amilosa sekitar 12 hingga 15%, tekstur lengket dan biasanya digunakan sebagai bahan utama pembuatan sushi. 

"Di Indonesia varietas beras yang hampir sama dengan Japonica ini dikenal dengan beras Tarabas. Beras Varitas Tarabas resmi dilepas oleh Menteri Pertanian pada Bulan Mei 2019 dan dinyatakan legal untuk diperdagangkan dan di tanam di seluruh wilayah Indonesia," ungkap Suwandi.

"Sejalan dengan kebijakan tersebut, kita telah melakukan upaya serius untuk mengembangkan beras Tarabas," tambahnya.

Sentra Beras Tarabas

Suwandi menyebutkan perkembangan sebaran tanaman Beras Tarabas di Indonesia cukup menggembirakan. Saat ini, pertanaman Beras Tarabas telah menyebar ke berbagai daerah diantaranya di Jawa Barat (Subang, Karawang dan Cianjur), Jawa Timur dan Lampung dengan luas pertanaman sekitar 4.000 hektar dan produktivitas rata-rata 50 kwintal per hektar. Untuk harga beras di petani mencapai Rp 15.000 per kg.

"Keberhasilan pertanaman ini tentu perlu di apresiasi dengan baik, mengingat sampai saat ini beras khusus lainnya belum mampu diproduksi massal di dalam negeri," ucapnya.

Menurut Suwandi, dengan melihat pesatnya perkembangan pertanaman tarabas di Indonesia, maka sangat mungkin dalam dua atau tiga tahun ke depan jumlah pertanaman japonica akan terus berlipat dan menjadi beras unggulan tersendiri di Indonesa.

Ditambah lagi sudah adanya pengakuan dari pedagang beras Vietnam yang mengaku kaget dengan kualitas beras japonica yang dihasilkan di Karawang, Jawa Barat. 

"Beras tarabas (Japonica nya Indonesia, red) yang ada di Karawang tersebut berukuran lebih besar dari beras Japonica yang biasa ditemukan di negaranya. Dengan ukuran bulir beras yang lebih besar dari yang lain pembuatan sushi menjadi lebih efisien dan secara otomatis akan lebih disukai oleh produsen sushi di berbagai negara," jelasnya.

Bahkan sampel beras Tarabas sebanyak 100 Kg senilai Rp 25.000 per kg sudah dikirim dua kali ke Jepang oleh eksportir beras PT Soyiz. "Dan ternyata mendapat pujian dan respon positif dan sedang dalam proses negosiasi ekspor lebih lanjut," tutur Suwandi.

Salah satu eksportir beras Indonesia, Johan dari PB. Sindang Asih menyebutkan beberapa negara di ASEAN seperti Vietnam, Thailand dan Malaysia juga berminat terdadap beras Tarabas Indonesia. 

"Intinya kita siap memasuki pangsa pasar Internasional untuk memenuhi kebutuhan beras Japonica di luar negeri," sebutnya.

Reporter : Kontributor
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018