Rabu, 13 November 2019


Kendalikan FAW dengan Insektisida, Harus Perhatikan Ini !

13 Agu 2019, 22:25 WIBEditor : Gesha

Pengendalian FAW dengan Insektisida harus memperhatikan beberapa hal | Sumber Foto:ISTIMEWA

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jatisari --- Hebohnya hama ulat grayak jenis baru yang dikenal dengan nama Fall Army Worm (FAW) memang membuat ketar ketir petani jagung. Pengendalian pun selama ini dilakukan menggunakan insektisida. Tetapi sebenarnya harus ada rambu-rambu yang dilakukan agar pengendaliannya bisa efektif.

"Pada tingkat serangan tinggi maka lakukan pengendalian kimiawi dengan insektisida. Tapi ingat, secara bijaksana dan hindari penggunaan berspektrum luas," beber Kepala Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Jatisari, Kementan, Enie Tauruslina Amrullah 

Aplikasi insektisida ini diberikan pada pucuk tanaman jagung karena larva S. frugiperda (calon FAW) umumnya ditemukan di sekitar pucuk tanaman jagung. Pada serangan awal, larva S. frugiperda memakan lapisan epidermis daun. Pada serangan lanjutan, larva S. frugiperda memakan daun-daun hingga ke pucuk tanaman serta terlihat lubang-lubang pada daun jagung.

Selanjutnya pada tingkat serangan yang tinggi, kita dapat menemukan kotoran dari larva pada tanaman jagung seperti serbuk gergaji. “Selain menyerang daun, larva S. frugiperda juga dapat menyerang tongkol jagung. Sedangkan hasil pemantauan di lapangan, serangan S. frugiperda lebih banyak ditemukan pada tanaman jagung yang masih muda dibandingkan dengan tanaman jagung yang sudah memasuki fase generatif," terangnya.

Salah satu daerah yang sekarang tengah terkena adalah Kecamatan Jawilan, Kabupaten Serang Banten. BBPOPT Kementan pun sudah melakukan pengamatan dan memang sudah ditemukan serangan S. frugiperda pada padi umur 10-70 HST.

Adapun varietas yang ditanam petani saat itu Bisi 18 dan Suma di areal seluas 25 ha. Dan diketemukan intensitas serangan sekitar 25,92%. "Nah kalau untuk di wilayah di kecamatan Jawilan tersebut dilakukan pengendalian dengan racun bahan aktif BPMC. Bahan racun diberikan dari bantuan Provinsi Banten. Jadi kami juga koordinasi aktif dengan pemerintah daerah," sebutnya.

Sosialisasi dan Koordinasi

Enie menuturkan, Kementan beberapa kali sudah melakukan sosialisasi ke masyarakat tentang serangan hama tersebut, termasuk pengendaliannya. "Kami dorong penanganan awal oleh instansi daerah, kalau serangan sudah meluas dan sulit dikendalikan maka kami dari pusat pasti turun tangan juga," tambahnya.

Serangan hama ini sangat merugikan dan bisa memukul petani jagung yang kini tengah bangkit di Indonesia. hama ini sudah menyebar ke negara-negara lain seperti Afrika, India, Thailand, China, dan Myanmar. Dalam satu malam, ngengat S. frugiperda mampu terbang sejauh ratusan kilometer dengan bantuan angin Sementara negara asalnya di Amerika, S. frugiperda dapat berpindah sejauh 1700 km dari Texas ke Florida pada musim semi hingga musim gugur. 

“Jadi kita jangan main-main dengan ancaman hama ini. Bahkan, hama ini dapat menyebabkan kehilangan hasil pada produksi jagung sebesar 40 persen di Honduras dan 72 persen di Argentina. Kita upayakan betul jangan sampai terjadi seperti itu di Indonesia,” tegasnya.

Hasil pemantauan yang dilakukan BBPOPT pada periode April-Juli 2019, S. frugiperda telah ditemukan di 12 Provinsi yang ada di Indonesia seperti Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Gorontalo.

Selain 12 Provinsi yang telah dimonitoring oleh BBPOPT, serangan S. frugiperda juga telah dilaporkan terjadi di beberapa Provinsi lainnya di antaranya Jambi, Bengkulu, Bangka Belitung, dan Jawa Timur. "Masyarakat harus tahu bagaimana ciri-ciri gejala serangan hama S. frugiperda yang menyerang tanaman jagung," tegasnya.

Reporter : Kontributor
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018