Rabu, 18 September 2019


Setelah IF8, AB2TI Kembali Kenalkan Varietas Unggul Padi IF 16

20 Agu 2019, 11:34 WIBEditor : Yulianto

Panen padi IF16 di Indramayu | Sumber Foto:Yulianto

Selain tahan hama penyakit seperti wereng batang cokelat, penggerak batang padi dan blast, varietas ini mempunyai produktivitas mencapai 12 ton/hektar (ha) gabah kering panen (GKP)

TABLOIDSINARTANI.COM, Indramayu---Asosiasi Bank Benih Tani Indonesia (AB2TI) kembali memperkenalkan varietas padi unggul IF (Indonesian Farmers) 16. Selain tahan hama penyakit seperti wereng batang cokelat, penggerak batang padi dan blast, varietas ini mempunyai produktivitas mencapai 12 ton/hektar (ha) gabah kering panen (GKP).

Ketua Umum AB2TI, Dwi Andreas Santosa mengatakan, varietas padi IF 16 merupakan pengembangan lebih lanjut dari varietas padi IF 8. Namun berbeda dengan IF 8 yang rasa nasinya lebih cocok untuk masyarakat wilayah Sumatera karena pera, untuk varietas padi IF 16 rasa nasinya pulen, sehingga cocok untuk masyarakat Jawa.

Keunggulan lainnya varietas IF 16 dengan varietas lainnya, umurnya genjah (pendek) yakni hanya 90 hari dan tahan terhadap hama penyakit, seperti  penggerek batangnpado wereng batang cokelat dan blast. "Keunggulan yang menonjol adalah produktivitasnya cukup tinggi. Hasil ubinan terakhir mencapai 12,2 ton/ha, bahkan April lalu saat uji coba pertama sebanyak 14,06 ton/ha GKP," katanya di sela-sela panen padi IF 16, di Widasari, Kabupaten Indramayu, Senin (19/8).

Dwi Andreas mengakui, bahwa varietas padi IF16 merupakan keturunan dari IF 8 yang disilangkan dengan varietas lokal dari Malang. Setelah melalui seleksi hingga 11 generasi, akhirnya didapatkan varietas IF16 yang hasilnya lebih tinggi dari galur yang lainnya.

Keberadaan varietas IF16 menurut Dwi Andreas sudah cukup stabil, Berdasarkan kriteria pemulia tanaman, jika dalam uji coba selama 4 generasi sudah stabil dengan jumlah anakan 28 dan bulirnya 200 per anakan, maka layak untuk dikembangkan. “Jadi kemunculan IF 16 ini bukan tiba-tiba. Bahkan melalui jejaring AB2TI, kami telah menyebarkan varietas ini ke enam kabupaten," ujarnya.

Lahirnya IF 16 sebenarnya berawal April 2019 lalu saat diselenggarakan Festival Padi di Indramayu. Sebelum kegiatan itu AB2TI mengundang jejaring di seluruh Indonesia untuk mengirimkan benih lokal unggul dari daerahnya masing-masing. Setidaknya ada 360 varietas yang diperkenalkan. Namun setelah dilakukan seleksi, terutama kemiripan antar varietas tersebut, dipilih 90 varietas unggul.

Dwi Andreas mengungkapkan, ke-90 varietas itu lalu ditanam bersamaan di satu lokasi dan dipanen saat Festival Padi 2019. Dari 90 varietas tersebut ada tiga varietas unggul yang didapatkan dan kemudian diberinama IF 16 dengan produktivitas 14,06 ton/ha, IF17 sebesar 10 ton/ha dan IF18 sebanyak 9 ton/ha. “Karena IF 16 menjadi varietas yang paling tinggi produktivitasnya, kemudian petani jejaring AB2TI di Indramayu menanam kembali varietas tersebut,” ujarnya.

Menurut Dwi Andreas, bukan hanya petani di Indramayu saja yang tertarik menanam varietas IF 16, tapi petani lainnya. Bahkan di Tuban, varietas IF 16 dikenal dengan sebutan Ciherang Tuban. “Dari hasil pertanaman di Widasari menjadi pelajaran kita semua, varietas tersebut bisa dikembangkan lebih lanjut. Meski ditanam dengan jarak 30 x 30, ternyata padi IF16 ini produktivitasnya tetap lebih tinggi dari padi jenis lainnya,” katanya.

Haryanto, dari Biro Pusat Statistika (BPS) Jawa Barat saat panen IF16 juga mengakui, keunggulan varietas tersebut. Meski jumlah rumpun IF 16 hanya 40, ternyata produktivitasnya cukup tinggi dibandingkan dengan Inpari 32 yang mempunyai rumpun hingga 60. “Dari hasil ubinan produktivitas IF 16 mencapai 16 ton/ha, padahal rata-rata di Jawa Barat hanya 5,8 ton/ha,” katanya. 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018