Thursday, 06 August 2020


Pasca Gempa dan Likuifaksi, Sulteng Optimis Tambah Areal Tanam

07 Sep 2019, 20:47 WIBEditor : Gesha

Pasca gempa dan likuifaksi, Sulteng semangat menambah areal tanam | Sumber Foto:HUMAS KEMENTAN

TABLOIDSINARTANI.COM, Sigi --- Dalam upaya percepatan dan pencapaian target Luas Tambah Tanam (LTT) padi, jagung dan kedelai Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) menginisiasi pemulihan standing crops komoditas tanaman pangan dan percepatan tanam padi di Kabupaten Sigi. Kegiatan ini dilaksanakan pada minggu lalu dalam bentuk survey di tingkat lapangan. 

Kepala Seksi Serealia, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulteng, Arbit menyatakan survei tersebut menyasar lahan seluas 2.500 hektar di Kabupaten Sigi yang melibatkan kelompok tani setempat dan petugas pertanian lapangan, Petugas Laison Officer Pusat, Dinas TPH provinsi Sulawesi Tengah, dan Dinas TPH Kabupaten Sigi. 

"Kami mengajak para petani mengoptimalkan lahan-lahan yang belum produktif. Misalnya lahan-lahan tadah hujan, lahan pekarangan, lahan dibawah tegakan dan lahan lain yang sumber airnya terbatas, seiring dengan masih adanya curah hujan dapat memanfaatkan lahan tersebut. Kami di provinsi dan pusat siap untuk mendukung bantuan benihnya," ungkap Arbit di Palu, Sabtu (7/9).

Pasca gempa bumi dan likuifaksi yang terjadi di Sulteng, sekitar 8.000 Hektar sawah tidak terairi karena kerusakan irigasi. Untuk itu pihak Dinas Pertanian meminta kelompok tani membuat proposal untuk bantuan alsintan yang masih tersedia. "Hal yang sama juga berlaku untuk bantuan penggunaan air sumur dangkal untuk mengatasi ketersediaan air," jelasnya.

Arbit menegaskan tata pengelolaan air menjadi agenda prioritas di Sulteng karena permasalahan utama yang terjadi pada lahan kering terdampak gempa adalah tidak tersedianya air untuk pemenuhan kebutuhan daya pegang air (water holding capacity) yang rendah. 

Sebagai alternatif solusinya, pemerintah mengintroduksikan teknologi sumber/sumur air dangkal dan irigasi menggunakan water gun sprinkler yang dapat menghemat penggunaan air. Hasilnya, air akan merata dan tepat jatuh ditiik tumbuh tanaman dengan jangkauan sejauh 14 meter. "Sedangkan untuk peningkatan produkivitas lahan ditempuh melalui rekayasa sistem tanam secara tumpangsari," tegasnya.

Untuk diketahui, sistem tumpangsari dilakukan untuk memperoleh peningkatan total produksi dan mengurangi resiko kegagalan panen atau kerugian salah satu tanaman serta mengurangi biaya produksi dan meningkatkan pendapatan usahatani.

Adapun varietas unggul yang diintroduksikan dalam kegiatan turiman yaitu VUB padi lahan kering Inpago 8 dan VUB jagung Komposit Sukmaragadan lamuru yang dapat berproduksi tinggi dilahan kering.

Di tempat yang sama Kepala Seksi Serealia Dinas Pertanian Kabupaten Sigi, Nasika menyatakan terima kasih atas pemilihan Kabupaten Sigi sebagai lokasi kunjungan survey dan alokasi kegiatan padi Lahan Kering.

"Mudah-mudahan petani kami makin tergerak untuk melakukan percepatan tanam terutama pada lahan-lahan yang sudah selayaknya bisa tanam," katanya. 

Lebih lanjut diungkapkan Nasika, dalam kondisi sekarang ini saat berbagai jenis bantuan pemerintah terus mengalir ke petani untuk mendorong produktivitas petani. 

"Idealnya para petani betul-betul makin terdorong dalam menjalankan usaha taninya dan meningkatkan produktivitasnya," tuturnya.

Hal senada disampaikan perwakilan tim LO Program Upaya Khusus Upsus Padi, Jagung dan Kedelai, dari Ditjen Tanaman Pangan, Roland Hutadjulu, yakni saat ini Kementan menyediakan bantuan benih untuk kegiatan padi lahan kering maupun jagung untuk mengoptimalkan lahan-lahan yang sumber airnya terbatas.

Oleh karena itu, diminta petani dan daerah mengajukan usulannya ke Kementan. "Saya minta para penyuluh secepatnya megidentifikasi lahan. Segera masukkan usulannya ke dinas kabupaten," tandas Roland.

Reporter : Kontributor
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018