Friday, 07 August 2020


Berkat Sumur Dalam, Petani Sragen Dapat Untung Rp 30 juta/ha

11 Sep 2019, 17:42 WIBEditor : Gesha

Meski kemarau, panen padi di Sragen terus jalan berkat adanya sumur dalam | Sumber Foto:INDARTO

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Sragen -- Musim kemarau yang jatuh pada Juli-September tahun ini merupakan masa kritis bagi sejumlah petani. Namun, hal tersebut tak berlaku bagi petani Desa Tenggak, Kecamatan Sidoharjo, Kab.Sragen. Sebab, petani  Desa Tenggak justru mendapat berkah melimpah dengan panen padi sebanyak 9,4 ton/ha.

Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi mengatakan, berkat sumur dalam (Sibel) petani Sragen justru mampu panen padi dengan produktivitas tinggi, 9,4 ton/ha.  Harga gabahnya pun juga tinggi Rp 5.200/Kg (GKP).

"Jadi, petani Sragen patut bersyukur dan tetap eksis bisa panen padi di musim kemarau," kata Suwandi saat menghadiri panen perdana padi di Desa Tenggak, Kecamatan Sidohardjo, Kab.Sragen, Jawa Tengah (Jateng), Rabu (11/9).

Menurut Suwandi, apabila dikalkulasi, petani Sragen pada musim panen September ini (MT-3 ) bisa mendapatkan keuntungan (setelah dikurangi biaya produksi) dari panen padi sekitar Rp 30 juta/ha. Artinya, petani Sragen saat ini punya penghasilan Rp 3 juta/bulan dari tanam padi.

"Kalau provitasnya 9,4 ton/ha dengan harga gabah (GKP) Rp 5.200/Kg, petani akan mendapatkan margin keuntungan Rp 50 juta/bulan. Nah, setelah dikurangi denga  biaya produksi Rp 20 juta/ha, maka petani masih punya margin keuntungan Rp 30 juta/ha/musim tanam," papar Suwandi.

Suwandi juga mengatakan, lantaran di musim kemarau masih bisa tanam, petani Sragen mampu tanam padi 3 kali setahun. Alhasil,  pada September tahun ini petani Sragen siap panen di lahan seluas sekitar 20 ribu ha. "Kalau yang sudah siap panen di Desa Tenggak pada September tahun ini seluas sekitar 300 ha," ujarnya.

Menurut Suwandi, hingga akhir September tahun ini masih banyak petani Sragen yang panen padi. Mengingat, di sepanjang pinggir jalan tol Karanganyar-Sragen terpampang hamparan padi menghijau. Setelah memasuki Kab.Sragen sudah banyak padi yang menguning atau siap panen.

"Karena itu, petani patut bersyukur masih bisa panen dengan produktivitas tinggi. Ke depannya petani tinggal meningkatkan efisiensi usaha taninya supaya bernilai tambah," papar Suwandi.

Ribuan Sumur Dalam

Kepala Dinas Pertanian Kab.Sragen, Eka Rini Mumpuni Titi Lestari menyatakan, agar petani bisa tanam padi di musim kemarau, petani Sragen sudah menyiapkan sekitar 28 ribu titik sumur dangkal dan sumur dalam. "Dengan sumur dalam dan dangkal inilah petani mendapatkan sumber air untuk irigasi sawahnya di musim kemarau," ujar Eka Rini.

Eka Rini juga mengatakan, apabila sebelumnya petani menggunakan BBM/gas untuk menggerakan mesin pompa (sumur dalam),saat ini petani sudah memanfaatkan listrik. "Jadi di sini listrik sudah masuk sawah. Tercatat 1 bulan ada 100 orang yang mengajukan instalasi listrik ke PLN untuk keperluan sumur dalam," katanya.

Eka Rini menyebutkan,  total luas lahan pertanian Sragen 94.155 ha. Terdiri dari lahan sawah 40.182 ha atau 42,68 %, dan 53.973 ha bukan lahan sawah. Dari 42,68% luas lahan sawah tersebut sistem pengairannya menggunakan irigasi teknis sebanyak 18.395 ha.

Kemudian, sistem irigasi teknis yang ditanami dua kali setahun seluas 7.441 ha, serta sawah tadah hujan seluas 14.254 ha. Data Dinas Pertanian Kab.Sragen menyebutkan, lahan sawah irigasi teknis yang ditanami tiga kali setahun sumber air berasal dari Waduk Gajah Mungkur Wonogiri meliputi Kecamatan Masaran, Sragen, Sidoharjo, Karangmalang, Plupuh dan Tanon.

"Nah, sumur dalam dan dangkal tersebut dapat dimanfaatkan petani untuk mengoptimalkan pertanaman padi didi musim kemarau," pungkasnya.

Reporter : Indarto
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018