Minggu, 20 Oktober 2019


KRPL, Swasembada Pangan dari Pekarangan

13 Sep 2019, 16:52 WIBEditor : Gesha

KRPL menjadi bentuk pemenuhan pangan termudah di masyarakat | Sumber Foto:TABLOID SINAR TANI

KRPL merupakan model pemanfaatan setiap jengkal lahan termasuk lahan tidur, lahan kosong yang tidak produktif pada pekarangan, sebagai penghasil pangan serta memenuhi pangan dan gizi keluarga, sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Swasembada pangan ternyata bisa dilakukan sendiri oleh masyarakat, bahkan di tingkat keluarga. Salah satunya melalui Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Dengan KRPL tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan pangan dan gizi keluarga, tetapi juga bisa meningkatkan pendapatan rumah tangga.


KRPL memang menjadi salah satu program pemerintah untuk mencukupi kebutuhan pangan keluarga. Salah satu KRPL yang sukses adalah KRPL yang dikelola KWT Dwi Tunggal Putra di Gianyar Bali. KRPL yang dikelola kaum hawa itu berhasil mengembangkan cabai, terong dan tomat. Bahkan juga mengembangkan kangkung dengan sistem hidroponik yang dipadu dengan ikan lele  di media ember bekas.

“Ikan lele yang kami pelihara  dipadukan dengan tanaman kangkung hidroponik. Dari  30 anggota masing-masing memelihara 50 ekor lele per ember. Hasilnya untuk dikonsumsi dan sebagian sisanya dijual," ujar Ketua KWT Dwi Tunggal Putra, Ni Wayan Wiranti.

Menurut Wiranti, dari budidaya tanaman yang dilakukan anggota KWT, masing-masing keluarga bisa menghemat pengeluaran antara Rp 750 ribu hingga 1 juta. Bahkan tidak sedikit yang meningkat kesejahteraannya dengan menjual produk yag dihasilkan.

Tidak itu saja, KWT Dwi Tunggal Putra, juga beternak ayam sebanyak 240 ekor,  masing anggota memelihara 8 ekor.  “Ternak ayam ini juga lumayan hasilnya. Saat ini sudah berkembang menjadi 350 ekor. Sudah tidak terhitung jumlah yang  dikonsumsi dan untuk keperluan upacara-upacara adat,” ujar Wiranti.

Di Bali pada 2019  sudah ada 70 KRPL dengan masing-masing anggota sekitar 30 orang, sedangkan di Gianyar ada 12 KRPL. “Kami akan kembangkan terus KRPL ini, karena program ini sangat bermanfaat untuk mencukupi kebutuhan pangan keluarga," ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Wayan Jarta.

Manfaat KRPL juga dirasakan masyarakat Kota Metro Pusat Provinsi Lampung melalui  Kelompok Wanita Tani (KWT) Kamboja III di Kecamatan Yosowulyo. Pemanfaatan lahan pekarangan di Kota Metro  berhasil mendukung ketahanan pangan keluarga perkotaan. “Sejak 2015, Kota Metro memiliki lebih 25 kelompok KRPL, dan telah dirasakan manfaatnya,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Metro, Hery Wiranto.

Sayuran yang dikembangkan adalah Sawi Hijau, Daun Bawang, Kangkung, Bayam, dan lainnya. Bahkan hasil panen selain dikonsumsi,  juga dijual anggota kelompok ke Pasar Metro sebagai tambahan penghasilan.
 
Urban Farming

Bukan hanya di daerah, Ibukota Negara, DKI Jakarta terkenal dengan hiruk pikuk dan kesibukan yang cukup padat juga mulai bergerak mengembangkan pertanian kota. Pemerintah Daerah DKI Jakarta kini mendorong pertanian perkotaan atau urban farming. Program tersebut menjadi salah satu upaya menghidupkan kembali pertanian di Ibukota negara.

Urban farming memang menjadi andalan Jakarta untuk menghidupkan kembali pertanian di Ibukota negara. Pemda DKI Jakarta kini tengah mengubah wajah Ibukota Negara menjadi lebih sejuk dengan menyulap gang-gang di Jakarta menjadi hijau dengan ragam tanaman.

“Ini kita laksanakan dari tahun 2016 sampai saat ini. Dengan awal mulanya 150 gang, sekarang sudah hampir 600 gang kita hijaukan,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta, Darjamuni

Ada berbagai tanaman yang dibudidayakan masyarakat kota. Diantaranya, Tanaman Obat Keluarga (Toga) dan hortikultura, terutama sayuran dan buah-buah dalam pot. Bibitnya didapat dari 14 kebun bibit yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta. Bahkan di Kamal, Jakarta Utara, mempunyai kebun untuk buah naga.

“Kebun bibit ini ada di Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Di Kepulauan Seribu kita punya, tepatnya di Pulai Tidung Kecil, tetapi masih sebatas kebun percobaan, belum menjadi kebun bibit,” katanya.

Dalam program urban farming, selain mengajak masyarakat menanam buah dalam pot, Pemda DKI juga akan menghijaukan gang-gang di Jakarta dengan tanaman hidroponik. Untuk program itu menurut Darjamuni, akan diberikan bantuan berupa paket lengkap budidaya hidroponik untuk satu kali masa tanam hingga panen.

Pengembangan urban farming, tidak lepas dari program Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian Pertanian yang terus mendorong optimalisasi lahan pekarangan melalui program KRPL. Untuk mempercepat penganekaragaman pangan dan memperkuat ketahanan pangan masyarakat, Badan Ketahanan Pangan (BKP) telah melaksanakan KRPL sejak tahun 2015.

Kepala BKP, Agung Hendriadi mengatakan, kegiatan KRPL merupakan model pemanfaatan setiap jengkal lahan termasuk lahan tidur, lahan kosong yang tidak produktif pada pekarangan, sebagai penghasil pangan serta memenuhi pangan dan gizi keluarga, sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga.

Kegiatan KRPL juga dilaksanakan dalam rangka mendukung program pemerintah untuk penanganan daerah stunting,  Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera (Bekerja), penanganan wilayah rentan rawan pangan dan pengembangan daerah perbatasan. “Untuk program KRPL di daerah Bekerja, akan diberikan bantuan ternak unggas dan sarananya untuk peningkatan produksi ternak unggas melalui pemanfaatan lahan pekarangan dan peningkatan konsumsi pangan dan gizi,” katanya.

Pemerintah telah menetapkan sasaran kegiatan KRPL Tahun 2015 – 2019. Untuk tahun 2015  sebanyak 4.410 Kelompok Wanita Tani (KWT), tahun 2016 (2.894 KWT), tahun 2017 (1.305 KWT), tahun 2018  (2.300 KWT) dan tahun 2019 sebanyak 2.300 KWT. “Keberadaan KRPL untuk mendukung ketahanan pangan wilayah perkotaan semakin nyata," ujar Agung Hendriadi.

Reporter : TABLOID SINAR TANI
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018