Thursday, 23 September 2021


Sagu, Raksasa yang Tengah Tertidur

25 Aug 2021, 13:26 WIBEditor : Yulianto

webinar Eksplorasi Pangan Lokal: Sagum Pangan Lokal Sehat Kaya Manfaat | Sumber Foto:Sinar Tani

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Potensi sagu di Tanah Air ibarat raksasa yang tengah tertidur.  Dengan luas lahan yang mencapai 5,5 juta hektar (ha), ternyata yang baru dimanfaatkan sekitar 314 ribu ha. Bukan hanya dari sisi luas lahan yang sangat besar, manfaat kesehatannya juga menggiurkan.

Dengan potensi tersebut, bangsa Indonesia bukan hanya mampu mewujudkan swasembada pangan, tapi juga memberi makan penduduk di dunia. Kini tinggal bagaimana kita bisa memanfaatkan sagu sebagai sumber pangan substitusi beras.

Kepala Pusar Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian, Yasid Taufik mengatakan, dibandingkan produk pangan lokal lainnya, posisi sagu masih netral dan sedikit dikenal masyarakat. Karena itu perlu didorong sagu menjadi komoditas yang bisa mensubstitusi padi (beras).

“Potensinya sudah ada tinggal kita dorong ke atas,” katanya saat Webinar Sagu, Pangan Lokal Sehat dan Kaya Manfaat yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani secara online, Rabu (25/8).

Data Kementerian Pertanian, luas lahan sagu di dunia sekitar 6,5 juta ha, sekitar 83 persen luas areal sagu berada di Indonesia atau 5,5 juta ha. Dari luas lahan sagu di Indonesia itu, hampir 80 persen berada di Papua atau 5,2 juta ha.

Sementara itu, potensi produktivitas sagu mencapai 20 ton/ha. Bahkan ada yang mencapai 40 ton/ha. Hitunganya, dengan luas lahan sagu di Indonesia tersebut, potensi produksi sagu bisa mencapai 110 hingga 200 juta ton. “Jumlah tersebut melampaui produksi padi di Indonesia,” ujarnya.

Dengan potensi tersebut Yasid menilai, sagu ibarat rakasasa tidur yang tak pernah diotak atik. Baru dimanfaatkan 314 ribu ha dengan produksi hanya 465 ribu ton. Artinya, dari sisi produktivitas masih bisa dieksplorasi, karena baru 2,5 ton/ha, padahal potensinya bisa 20 ton/ha. “Potensi sagu belum tergarap intensif atau hanya 1 persen dari potensi yang ada. Potensi sagu kita, terutama di Papua seperti raksasa tertidur,” katanya.

sagu

Manfaat Kesehatan

Apalagi lanjut Yasid, sagu mempunyai banyak keunggulan. Misalnya, mengandung amilosa yang dapat menjaga kadar kolesterol dan trigliserida tetap normal. Kelebihan sagu lainnya adalah meghasilkan pati lebih tinggi

dari ubi kayu dan kentang. Sagu sebanyak 20 – 40 ton/ha, ubi kayu dan kentang hanya 10 – 15 ton/ha. “Mengonsumsi sagu dapat memperbaiki sistem pencernaan. Kandungan mineral dalam sagu juga bermanfaat dalam perbaikan tulang danpersendian,” tambahnya.

Sumber kalori/energi bagi tubuh untuk sagu sebanyak 355 kalori, beras 360 kal dan gandum 360 kal. Kadar Indek Glikemik (IG) relatif sedang dalam bentuk pati yakni sekitar 58. Kandungan IG dianggap tinggi jika di atas 70. Bahkan jika sudah diolah, kadar IG sagu hanya 28. Dengan kadar IG rendah sangat cocok bagi konsumsi orang yang mempunyai penyakit diabetes.

“Dengan banyak keunggulan itu, sehingga kita perlu mendorong sagu  sebagai pangan pokok dan cocok untuk kalangan menengah ke atas yang ingin menjaga kesehatan tubuh. Ini jadi bahan kita untuk kampanyekan sagu sebagai susbtitusi beras,” tutur Yasid.

Namun demikian, Yasid berharap ketersediaan harus masif dan terdistribusi dengan baik, bukan hanya di Paua. “Bagaimana kita mengolah dan mendistribusikan. Untuk itu, perlu edukasi dan kampanye makanan dari sagu,” katanya.

M. Hasjim Bintoro, Guru Besar IPB University mengatakan, dengan potensi lahan sagu mencapai 5,5 juta ha,  harusnya bukan hanya mencukupi kebutuhan pangan Indonesia, tapi juga seluruh dunia. “Persoalannya kan sekarang sagunya masih di pohon. Tingga kita mau mengambil atau tidak,” ujarnya.

Bintoro menilai, bukan hanya potensi produksi yang besar, sagu juga mengandung nilai kesehatan yang besar. Misalnya, kandungan seratnya yang tinggi, sehingga bisa mengurangi kemungkinan darah tinggi. Dengan kadar Indeks Glikemik (IG) rendah, mengonsumsi sagu dapat mencegah kadar gula dalam tubuh.

“Kalau kandungan gula banyak, jadi penyakit diabetes. Kalau kita makan sagu, pemindahan jadi gula dihambat, karena kadar gula sagu tidak terlalu tinggi,” tuturnya.

Namun demikian, Bintoro memberikan catatan, untuk menangani sagu tidak hanya Kementerian Pertanian, tapi juga harus mengajak Kementerian Kesehatan. Pasalnya, berbicara konsumsi sagu terkait masalah kesehatan. “Jadi dokter, kalau memberi obat jangan hanya resep yang di apotik, tapi juga dari makanan,” tegasnya.

Menurut Bintoro, sagu juga potensial menjadi bahan baku biofuel atau bioethanol, baik dari pati atau ampasnya, sehingga bisa menyumbang penghematan energi. Selain itu, sagu juga bisa dibuat menjadi plastik yang bisa terurai.

Bagi yang ingin hidup lebih sehat, kini produk berbahan sagu mulai banyak beredar di pasaran. Misalnya, produk sago mee produksi PT. Bangka Asindo Agri (BAA). Direktur PT. BAA, Fidrianto mengatakan, kelebihan sagu dengan produk pangan lokal lainnya adalah gluten free, non GMO, high resistance starch dan rendah Indeks Glikemi.

“Pati sagu juga bersifat multiguna untuk berbagai keperluan. Bahkan dapat menggantikan secara beragam beras, terigu, jagung, dan sumber karbohidrat lainnya,” katanya. Selain itu, dapat menghasilkan berbagai macam, bentuk, rasa olahan pangan sehat yang potensial untuk mengurangi beras dan terigu.

Sagu juga dapat dijadikan berbagai produk turunan. Salah satu produk berbahan baku adalah mie instan (sago mee). Mie sagu menurut Fidrianto, baik untuk kesehatan usus sebagai tempat tumbuh bakteri prebiotik, Index Glikemik rendah.

Kadar RS (resistance strach) dalam sago mee kurang lebih 3-4 kali dari RS mie yang terbuat dari terigu, sehingga aman bagi penderita autoimun dan diabetes.

“Sagu sekarang naik kelas, produksinya sudah skala industri, bahkan harganya juga sudah bersaing. Bicara sagu sudah bisa go way sebagai produk makanan,” tambah Fidrianto yang merintis usahanya dengan melakukan survei hingga ke Papua.  

Bagi sahabat Sinar Tani yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai sagu bisa mengunduh materi dan melihat siaran ulang disiaran Sinta TV berikut ini.

LINK MATERI : MATERI WEBINAR: Sagu, Pangan Lokal Sehat dan Kaya Manfaat

LINK SERTIFIKAT : SERTIFIKAT WEBINAR : Sagu, Pangan Lokal, Sehat dan Kaya Manfaat

LINK SINTATV : 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018