Sunday, 24 October 2021


Kentang, Peluangnya Menantang

22 Sep 2021, 12:49 WIBEditor : Yulianto

webinar Eksplorasi Pangan Lokal: Sehat dan Kenyang Makan Kentang | Sumber Foto:Sinar Tani

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Kentang menjadi salah satu sumber pangan kaya gizi yang cukup digemari sebagai pengganti nasi. Komoditas tersebut bukan hanya dikonsumsi sebagai sayuran, tapi juga bahan baku industri. Karena itu peluang kentang cukup menantang.

Plt. Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP), Kementerian Pertanian Sarwo Edhy melihat potensi produksi kentang di Indonesia cukup besar. Di Indonesia setidaknya ada 10 propinsi sentra kentang yakni, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jambi, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Aceh dan Bengkulu.

Potensi ini menjadi dasar bagi pemerintah menjadikan kentang sebagai pangan lokal sumber karbohidrat yang berpotensi sebagai bahan pangan pokok, selain beras. Nilai gizi kentang tidak kalah dengan nasi, bahkan sumber karbohidrat, tiap 100 gram kentang menngandung 632 kalori,” kata Sarwo saat Webinar; Kenyang dan Sehat Makan Kentang yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, Rabu (22/9).

Beberapa wilayah Indonesia juga banyak mengonsumsi kentang dengan jumlah cukup tinggi. Misalnya, Jambi, Riau, Sumatera Utara dan DKI Jakarta. Pemerintah menargetkan, konsumsi kentang pada tahun 2024 mencapai 7 kg/kapita dari dari 2,9 kg/kapita di tahun 2019.

Dengan potensi kentang di Indoensia itu, Sarwo menilai peluang bisnis pengolahan kentang memiliki nilai ekonomis yang cukup besar, khususnya bagi UMKM. Upaya pemerintah mendongkrak konsumsi pengan lokal, terutama kentang adalah mengubah pola prilaku dan mengurangi kendala dalam konsumsi pangan lokal. Hal ini untuk mewujudkan pangan yang B2SA (Beragam, Bergizi, Sehat dan Aman).

“Sosialisasi kita adalah dengan bahasa Kenyang Tak Harus Nasi, karena memang sumber pangan tak harus nasi. Sejak lama kita juga mendorong bagaimana mengembangkan pengolahan pangan, termasuk kentang menjadi bahan baku industri dan digemari masyarakat,” tuturnya.

Sementara itu dr. Karin Wiradarma pun mengakui, beras memang menjadi makanan pokok bangsa Indoneisa. Namun sebenarnya banyak makanan pokok sumber karbohidrat lain yang kaya gizi dan mudah diolah, salah satunya kentang.

Kelebihan kentang, mudah didapat, harganya juga terjangkau dan dapat dibuat menjadi berbagai olahan. Kentang juga kaya nutrisi dari pada beras, khususnya beras yang pulen,” tuturnya.

BACA JUGA: 

Perubahan-Gaya-Hidup-Kentang-Jadi-Pilihan-Pangan-Sehat

Konsumsi-Kentang-Digenjot-Beras-Dipangkas

Bisnis Olahan Kentang 

Guru Besar IPB University, Prof. Suharsono juga menilai, potensi kentang dari sisi nilai ekonominya cukup tinggi dibandingkan komoditas pertanian lainnya. Apalagi keragaman kentang juga banyak, baik bentuk, warna, keragaman pati ada yang tinggi dan renah. “Kandungan pati ini berhubungan dengan kegunaan kentang, apakah untuk sayur atau industri,” ujarnya.

Sebagai bahan baku industri pangan, menurut Suharsono, digunakan kentang yang kandungan patinya tinggi dan kandungan gulanya rendah. Biasanya untuk french fries. “Saat ini hampir 99 persen kentang french fries masih impor. Kita hanya mengemas,” tegasnya.

Dengan kebutuhan yang kian meningkat, kemudian perubahan pola makan, gaya hidup dan bertambahnya jumlah penduduk, peluang industri kentang sangat besar. Saat ini diakui, belum digarap dengan serius, khusus untuk ketersediaan kentang industri.

IPB sendiri saat ini telah mengembangkan varietas kentang yang disesuaikan dengan kebutuhan industri dan konsumen. Pertama, kentang untuk frozen frch fries yakni Jala Ipam yang telah dilepas tahun 2014. Kedua, varietas kentang untuk keripik IPB CP1 (Sipiwan) yang dilepas tahun 2019. Ketiga, kentang IPB CP3 (Sipitri) yang bisa dimanfaatkan untuk sayur, tapi  ternyata bisa untuk kripik, wedges, perkedel dan mustofa.

Direktur Utama PT. Central Horti Plantantion Makro Potatoes, M. Khudori juga mengakui, potensi kentang sangat luar biasa. Bahkan ia memprediksi suatu saat sekitar 30 persen orang meninggalkan beras dan beralih mengonsumsi pangan lokal, termasuk kentang.

Kentang dulu memang menjadi makanan untuk kalangan menengah ke atas dan kalangan menengah ke bawah jangan berharap beli french fries. Tapi sekarang sudah berubah,” tegasnya. Karena itu, Khudori melihat, peluang industri kentang, baik UMKM atau pun skala besar cukup terbuka. Apalagi pengolahan kentang juga tidak sulit.

Bagi Sahabat Tabloid Sinar Tani, jika ingin mendapat materi, sertifikat dan melihat kembali tanyangan webinar bisa mengunduh di link di bawah ini.

LINK MATERI; MATERI WEBINAR SEHAT DAN KENYANG MAKAN KENTANG

LINK SERTIFIKAT: LINK SERTIFIKAT PESERTA WEBINAR SEHAT DAN KENYANG MAKAN KENTANG

LINK SINTATV:

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018