Monday, 06 December 2021


Siaga Asuransi Pertanian saat La Nina Datang

17 Nov 2021, 13:57 WIBEditor : Yulianto

Talkshow: La Nina Datang, Asuransi Pertanian bikin Petani Tenang | Sumber Foto:Sinar tani

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi akhir tahun 2021 hingga Maret 2022 bakal terjadi iklim ekstrim La Nina. Kondisi tersebut perlu diwaspadai, karena menjadi tantangan besar bagi petani dalam berusaha tani padi, terutama bencana banjir, hama dan penyakit tanaman.

Sebagai siaga menghadapi La Nina, pemerintah telah meluncurkan program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) sejak tahun 2015. Namun demikian, program perlindungan petani ini tak berjalan mulus. Hampir lima tahun berjalan baru mencapai maksimal 1 juta hektar (ha) pertahun.

Karena itu, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian menargetkan luas lahan pertanian padi yang terdaftar AUTP naik menjadi 3 juta ha pertahun. “Kalau hanya 1 juta ha ngga nendang, Menteri Pertanian menginginkan naik kelas menjadi 3 juta ha supaya kelihatan efeknya,” kata Direktur Pembiayaan, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian, Indah Megahwati.

Saat Talkshow La Nina Datang, Asuransi Pertanian bikin Petani Tenang  yang diselanggarakan Tabloid Sinar Tani, Rabu (17/11), Indah mengatakan, pemerintah terus meningkatkan kesadaran berasuransi melalui sosialisasi program asuransi pertanian secara lebih masif.

“Banyak petani telepon saya mau ikut asuransi, tapi lahannya sudah terkena banjir dan terserang hama sehingga tidak bisa panen. Ini yang sulit. Jadi tolong masifkan sosialisasi asuransi. Banyak masyarakat yang tidak tahu, sudah kejadian baru minta ikut asuransi,” tuturnya.

Indah mengatakan, pemerintah juga mendorong penguatan digitalisasi di daerah dengan sosialisasi penggunaan aplikasi SIAP untuk pendaftaran dan Protan untuk mempercepat proses klaim. “Sekarang mendaftar sudah bisa online. Jadi Jangan ada alasan jauh lokasinya, karena sudah ada aplikasi SIAP, semua proses bisa digital, termasuk penerbitan polis,” katanya.

Ke depan lanjut Indah, pemerintah juga berencana mengembangkan produk asuransi pertanian lainnya. Diantaranya, Asuransi Usaha Tani Bawang Merah (AUTBM), Asuransi Usaha Ternak Kambing/Domba dan Asuransi Usaha Tani Cabai.

Sementara itu Head Of Technic Group PMP Jasindo, Irwan Sofiansyah mengatakan,  sejak tahun 2019 pihaknya telah membuat aplikasi berbasis web untuk mempermudah penyuluh dan petani dalam mendaftar asuransi pertanian, baik Personal Computer maupun lalptop  yakni aplikasi SIAP. Kemudian pada tahun 2021 aplikasinya sudah berbasis mobile.

“Jadi  kita terus meningkatkan kinerja agar petani bisa ikut asuransi ini,” katanya. Data Jasindo untuk tahun 2020, peserta AUTP 1.367.678 petani dengan luas lahan 1.000.001,38 ha dan nilai klaim Rp 103,7 miliar. Adapun Tahun 2021, jumlah peserta AUTP 588.664 petani, luas lahan  374.088,22  ha dan nilai klaim Rp  53,9 miliar.

Menurutnya, ada beberapa keuntungan bagi petani yang mengikuti program AUTP.  Diantaranya, petani akan ada rasa aman dan nyaman dalam berusaha tani. Artinya, jika tanaman petani rusak, maka akan dapat ganti rugi ketimbang yang tidak memilik asuransi. “Dengan asuransi juga memudahkan petani akses ke lembaga pembiayaan perbankan, karena bisa menjadi jaminan,” katanya.

Bagi petani yang tanamannya rusak akibat terkena bencana seperti banjir, kekeringan dan serangan hama, Irwan mengatakan akan mendapat ganti rugi Rp 6 juta/ha. Catatannya, kerusakannya mencapai 75 persen. Sementara petani hanya membayar premi Rp 36 ribu/ha, sedangkan pemerintah mensubsidi sebesar Rp 144 ribu/ha.

Banyak Tantangan

Sementara itu Ketua Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Jawa Barat, Otong Wiranta mengatakan, dalam pelaksanaan AUTP banyak tantangan di lapangan. Untuk itu perlu terus disosiasliasikan agar petani mengerti. “Kenyataan di lapangan, informasi mengenai asuransi kelupaan. Biasanya awal musim tanam petani rembug tanam. Nah, sosialisasi AUTP sering terlupakan. Biasnya yang dibicarakan hanya jadwal tanam, benih dan pupuk,” katanya.

Akibatnya menurut Otong, petani belum merasakan memiliki dan manfaatnya. Hal ini menjadi tantangan bagaimana menggugah petani agar mau ikut asuransi pertanian. Apalagi banyak kejadian, petani yang sudah mendaftar tidak memegang polis asuransi. “Jika polis dikirim melalui email, banyak petani tidak mengerti dunia IT, sehingga tidak bisa mendownload,” katanya.

Untuk itu Otong berharap, petani perlu diinformasikan selengkap-lengkapnya. Bisa juga ia mengusulkan, agar program asuransi pertanian ini melalui pendekatan program. Misalnya, petani yang mendapat bantuan benih wajib mengikuti asuransi pertanian. “Perlu juga menjalin kerjasama dengan stakeholder. Dukungan pemerintah daerah juga sangat peting dalam menyediakan anggaran dari APBD untuk subsidi premi," katanya.

Bagi sahabat Sinar Tani yang ingin mendapatkan bahan materi kegiatan Talkshow Asuransi Pertanian bisa mengunduh di link di bawah ini. Begitu juga yang telah mengikuti acara bisa mendapatkan sertifikatnya.

MATERI : MATERI TALKSHOW: LA NINA DATANG, ASURANSI PERTANIAN BIKIN PETANI TENANG

SERTIFIKAT : SERTIFIKAT TALKSHOW: LA NINA DATANG, ASURANSI PERTANIAN BIKIN PETANI TENANG

SINTA TV : SIARAN ULANG TALKSHOW: LA NINA DATANG, ASURANSI PERTANIAN BIKIN PETANI TENANG

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018